LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Unduh » Formulir » Refleksi dan Peka Toleransi

Refleksi dan Peka Toleransi

 

Oleh Rimalyga

PicsArt_11-17-12.46.23.jpg

sumber gambar : kompasiana

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta Semoga semua makhluk berbahagia (Ajaran sang Buddha). Tat Twam Asi Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku (Ajaran Hindu).  Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Ajaran Kristen, Galatia 5:14). Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dn warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mengetahui (Ajaran Islam, Q.S. Ar-Rum 22). Cheng Juen Jie De Sepenuh Iman menjunjung kebajikan (Ajaran Konghucu).

Tanggal 16 November di deklarasikan oleh UNESCO sebagai peringatan hari toleransi sedunia. Peringatan ini bertujuan sebagai seruan bagi seluruh umat manusia tentang arti pentingnya meningkatkan toleransi dan mengakui, serta menghargai segala bentuk perbedaan yang ada.

Toleransi dapat diartikan sebagai sikap menghargai dan menghormati setiap tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Sikap bertoleransi sangat diperlukan dalam hubungan sosial masyarakat. Toleransi memungkinkan eksisnya berbagai macam warna yang sangat indah dipandang mata. Bayangkan, jika hanya ada satu warna yang kita lihat setiap hari. Tentunya itu akan menjadi hal yang sangat membosankan dan monoton. Begitu pula yang terjadi di dunia ini setelah melewati masa evolusi yang begitu panjang, diciptakanlah manusia yang  berbeda etnis, warna kulit dan agama. Wujud Tuhan yang kita kenal adalah satu, disebut sebagai yang maha Esa. Yang maha mengetahui, pencipta dan pemelihara setiap makhluk ciptaannya. Dalam bahasa yang sederhana, Tuhan yang berwujud satu menjelma ke dalam dimensi ruang, gerak dan waktu dalam dunia manusia sehingga menciptakan fenomena yang sama ketika cahaya matahari melewati segitiga prisma. Muncullah berbagai macam warna yang membuat dunia indah. Tuhan menyebar, memasuki kehidupan makhluk ciptaan-Nya dan direpresentasikan melalui berbagai macam agama dan kepercayaan yang  meyakini bahwa Ia adalah satu, yang esa, pencipta dunia dan semua makhluk.

Hubungan vertikal yang dimaknai sebagai hubungan tegak lurus antara manusia dengan Sang Pencipta, merupakan sebuah hubungan langsung tanpa perantara menyangkut spiritual seorang manusia. Hubungan istimewa ini kadarnya tidak dapat dihitung menggunakan ukuran nilai yang dipakai dalam dimensi manusia. Hubungan horizontal adalah hubungan antara semua makhluk Sang Pencipta yang terhubung satu sama lain. Hubungan horizontal menjadi sangat penting dalam kehidupan manusia karena menjadi kebutuhan berinteraksi antar sesama manusia selama berada di dunia.  Manusia adalah makhluk sosial sehingga tidak dapat hidup tanpa bantuan dari manusia lainnya. Perilaku memegang peranan penting dalam hubungan tersebut karena dampaknya dirasakan oleh semua lapisan kehidupan. Setiap makhluk hidup menginginkan kebaikan dari makhluk lainnya. Dengan jalan tersebut, kedamaian dan kebahagiaan bisa tercipta dalam kehidupan bermasyarakat. Jika ada seseorang berlaku tidak adil kepada orang lain, maka ada pihak yang merasa tertindas dan merasakan penderitaan. Sama halnya jika ada seseorang yang mengeluarkan pernyataan bernada benci dan provokasi terhadap pihak tertentu, hal tersebut tentunya berpotensi menimbulkan diskriminasi dari masyarakat kepada pihak tersebut. Stigma buruk negatif mengenai golongan yang di serang membuat mereka sering merasa teralienasi di dalam sistem masyarakat.

Pancasila menjadi dasar negara berasas demokrasi yang mendorong kita agar senantiasa hidup rukun dan adil antar sesama warga negara

Tindakan yang dapat merugikan orang lain seperti misalnya kekerasan, diskriminasi, marjinalisasi dan ketidakadilan merupakan bentuk intoleransi. Adapun praktik yang tergolong ke dalam tindakan intoleransi adalah kekerasan fisik terhadap kelompok atau golongan tertentu, pernyataan bernada benci atau provokasi dan diskriminasi terhadap mereka yang dianggap sesat dan mengancam keutuhan negara. Tindakan yang mendasari sikap intoleransi berangkat dari individu atau kelompok yang memprovokasi dan menyudutkan golongan lain melalui media informasi, doktrinasi dan jaringan masyarakat. Mereka menyebar opini yang mendiskreditkan pihak tertentu dari berbagai aspek seperti suku, agama, ras, warna kulit, gender, cacat, orientasi seksual, pandangan politik dan persoalan identitas lainnya. Hate Speech atau ujaran kebencian termasuk ke dalam salah satu sikap tersebut. Dalam pengertian hukum, Hate Speech dikategorikan sebagai perkataan, perilaku, tulisan ataupun pertunjukan yang dilarang karena berpotensi menyebabkan terjadinya tindak kekerasan dan prasangka dari pihak pelaku ataupun korban.

Dinamika persoalan keberagaman di Indonesia berubah dari masa ke masa. Mulai dari diusungnya Pancasila menjadi dasar negara berasas demokrasi yang mendorong kita agar senantiasa hidup rukun dan adil antar sesama warga negara.  Kemudian digantikan dengan kebijakan yang sangat tiran ala orde baru, yang hanya mengakui lima agama besar diluar agama lokal dan berakhir memilukan dengan demokrasi yang kita rasakan hingga saat ini. Praktik demokrasi yang melampaui batas seharusnya atau dikenal dengan istilah obesitas demokrasi, membuat setiap orang merasa bebas untuk menyampaikan pendapatnya. Negara kita memang berlandaskan demokrasi, namun penting untuk kita sadari penerapan demokrasi juga memiliki batasan agar tidak melanggar hukum. Pembiaran terhadap tindakan melewati batas-batas tersebut dapat memicu terjadinya pelanggaran HAM dan berpotensi menimbulkan konflik.

Di Makassar beberapa bulan terakhir telah terjadi aksi dari kelompok-kelompok intoleran yang bertindak semena-mena. Pada pertengahan bulan September 2016, mereka melakukan penyerangan terhadap sejumlah gereja. Pada hari Jumat, 23 September 2016 terjadi penyerangan dan pengepungan oleh FPI dan masyarakat yang mengaku sebagai warga setempat terhadap Gereja Toraja Klasis Makassar Jemaat Bunturannu yang beralamat di Jl. Cenderawasih III. Mereka memprotes penambahan bangunan gereja yang katanya tidak memiliki IMB. Spanduk berisi pesan untuk tidak melanjutkan pembangunan dan ketidaksetujuan warga atas penambahan bangunan tersebar di sisi bangunan gereja. Pada Minggu, 25 September 2016, sekitar pukul 19.00 WITA, terjadi pelemparan terhadap Gereja Toraja di Jl. Gunung Bawakaraeng oleh sekitar 10-15 orang tak dikenal. Tindakan tersebut mengakibatkan rusaknya pagar gereja. Beberapa waktu sebelumnya juga terjadi pelemparan batu terhadap Gereja Katolik di jl. Tupai oleh beberapa orang yang tidak dikenal. Untuk saat ini, motif pelaku penyerangan belum diketahui secara pasti. Saya berargumen penyerangan gereja ada kaitannya dengan isu politik yang sedang ramai dibicarakan. (Sumber: Pengamatan bersama JALIN Harmoni Makassar)

Pada awal bulan Oktober, telah tersebar di beberapa titik di sekitar wilayah Makassar spanduk yang berisi kata-kata bernada provokatif. Spanduk yang tersebar di jalan Boulevard hingga eks tugu Adipura Tello ini dipasang secara ilegal karena tidak terdapat izin publikasi di sudutnya. Tidak ada nama lembaga yang bertanggung jawab dicantumkan dalam spanduknya. Redaksi kata yang digunakan seolah-olah ingin menggiring opini masyarakat, memanas-manasi serta seruan untuk membenci golongan tertentu. Sedikit agak janggal, mereka menggunakan embel-embel PKI, Tolak PKI, sebagai stigma buruk warisan Orde Baru di era sekarang ini. Sedangkan, kita semua tahu, secara administratif, tidak ada lagi partai PKI di Indonesia. Ini menandakan bahwa mereka menganggap bahwa PKI adalah partai yang keji, tanpa memiliki bukti pendukung. Mereka tidak kritis dengan menyajikan bukti dan mengumbar seruan penuh kebencian. Kemudian untuk kalimat Tolak Syiah, saya menduga ini dilakukan oleh golongan yang menganggap mazhab Syiah itu menyimpang dan mencoba menggiring opini publik sejalan dengan pemikiran mereka. Penyerangan secara verbal maupun tindak kekerasan terus ditujukan kepada golongan Syiah di Tanah Air. Tata peribadatan yang mereka lakukan dianggap menyimpang dari yang diajarkan oleh Al-Quran. Sebagai sesama manusia, tidak sepatutnya kita memberi prasangka buruk terhadap sesuatu yang hanya simpangsiur semata. Kalimat terakhir, Mengancam NKRI yang bisa saja memprovokasi masyarakat dan seolah terkait dengan dua isu yang diberikan di atas. Isu PKI karena pembodohan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dengan memberi stigma PKI kejam dan tidak manusiawi serta isu Syiah sebagai golongan yang diberitakan memicu peristiwa Arab Spring di Timur Tengah sangat sensitif dan mampu membangkitkan emosi siapa saja yang mendengarnya.

Penyerangan terhadap kelompok Syiah terus menerus terjadi di beberapa daerah Indonesia. Stigma bahwa Syiah sesat terus dikumandangkan di media maupun situs-situs internet dan ironisnya berdampak ke salah satu sekolah Islam di Makassar. Seminar pendidikan yang diadakan oleh SMP Lazuardi Athailah Global Islamic School di Hotel Aston pada bulan April 2016 diprotes dan dikecam melalui aksi unjuk rasa sekumpulan orang yang mengaku berasal dari gabungan ormas Islam di Makassar. Mereka mencurigai seminar tersebut merupakan gerakan terselubung dari golongan Islam Syiah Makassar. Kejadian tersebut berpotensi menebar fitnah kepada masyarakat dan juga ketakutan dari orangtua beserta civitas sekolah bersangkutan. Perasaan tidak aman dan stigma Syiah secara tidak langsung melekat kepada mereka.

Saya sangat menyayangkan tidak ada tindakan tegas dari aparat kepolisian terhadap dua kejadian diatas, padahal hukum mengenai penyebaran hate speech telah diatur di dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis Pasal 4 dan Pasal 16, UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 28 serta Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian. Peraturan tertulis ternyata belum mampu memberikan sanksi dan efek jera terhadap para pelaku tindak hate speech. Aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi pihak yang memiliki otoritas untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan di dalam masyarakat ternyata belum mampu bersikap tegas terhadap peristiwa tersebut. Menyikapi hal tersebut, kita sebagai warga negara harus turut berpartisipasi aktif dalam mewujudkan konsep masyarakat harmonis dan senantiasa hidup dalam damai satu sama lain.

Ada banyak upaya yang bisa dilakukan dalam rangka mencegah tindakan intoleransi dan menciptakan suasana harmonis antar pemeluk agama. Salah satunya adalah dengan melakukan dialog dengan pemuka agama sehingga kita lebih paham mengenai agama lain dan menghilangkan prasangka yang mungkin selama ini hanya kita dengarkan dari pihak yang salah. Alternatif yang lain adalah dengan mengajarkan nilai-nilai perdamaian melalui konsep peace education yang saat ini menjadi suatu  pemahaman baru. Hal yang paling penting ialah, bagaimana kita memelihara pemikiran kritis, seperti kata Karl Marx Question Everything, dengan tidak serta merta percaya dan menggunakan logika kita dalam memaknai suatu peristiwa atau wacana. Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam menilai seseorang. Kita harus bersikap bijaksana serta memikirkan dampak dari tindakan yang kita lakukan.

Saya meyakini bahwa semua agama mengajarkan mengenai kebenaran. Berbuat kebaikan adalah hal substantif yang diajarkan di dalam setiap agama. Kebebasan beragama yang dijaminkan dalam UUD 1945 diharapkan dapat memberi keleluasaan kepada setiap warga negara untuk memeluk agama yang mereka yakini. Sebagai warga negara dengan kemajemukan yang sangat beragam, kita seharusnya lebih terbuka menerima perbedaan bukannya malah menebar kebencian kepada pihak tertentu. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan perdamaian agar terhindar dari segala tindakan yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Toleransi sangat dibutuhkan menyikapi fenomena yang belakangan semakin marak mewarnai kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia. Bersikap toleran tidak akan melunturkan kadar keimanan kita kepada Sang Pencipta melainkan akan menjadi titik balik bagi implementasi dasar ajaran agama yang kita pelajari sejak kecil. Kita seharusnya mampu untuk meletakkan diri kita satu level di atas keyakinan spiritual dengan Sang Pencipta dengan memerangi musuh bersama kemanusiaan, yaitu masalah kemiskinan, diskriminasi sosial, buruknya sistem pendidikan dan pembungkaman sejarah yang berujung pada ketidakpahaman kita mengenai jati diri sesungguhnya dari bangsa ini. Bhinneka Tunggal Ika!

+

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: