LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Geliat Proletariat Di Bawah Jalan Layang

Geliat Proletariat Di Bawah Jalan Layang

Untitled-1.png

Gabungan massa aksi Gerakan Buruh Sulawesi Selatan

Reporter-penulis: Agung, Mahatir, Maula.

Editor: Maula

LAW UNHAS, Makassar – Senin (1/5) jalan layang Makassar kembali riuh. Tepat di tengah, dua mobil komando besar berhadapan, bersahutan dengan masing-masing pengeras suara menggemakan caci maki terhadap sistem kapitalisme yang mengekang. Selang beberapa saat di tengah hari, dua ratus rombongan motor dengan dipandu empat mobil komando kembali meramaikan kolong jalan layang yang sebelumnya sudah telah sesak akan massa. Sedikit ke selatan, rombongan berbaju hitam, dengan riang, tak luput menggelorakan semangat anti kapitalisme mereka, namun kali ini dengan nyanyian sederhana nan berani: “Kami anti kapitalisme, Kami anti otoritarian, hancurkan negara, hancurkan birokrasi hancurkan! Hancurkan! Hancurkan!” Inilah geliat gerakan sosial di kolong jembatan layang (fly over) Makassar, yang historisitasnya dibangun sejak pertama kali difungsikan: lokus aksi massa di Makassar. Kali ini, di momen bersejarah 1 Mei, kawan-kawan buruh berkuasa dalam menduduki monumen bersejarah bagi gerakan sosial tersebut, kolong jembatan layang.

4 Front Antikapitalisme Di Kolong Jalan Layang

Salah satu aliansi buruh, kelompok mahasiswa dan gerakan pemuda yang tergabung dalam aliansi bernama Gerakan Rakyat Untuk Buruh ikut ambil bagian dalam momen 1 Mei tersebut. Dalam aliansi ini organ yang tergabung antara lain adalah GSBN-SGBN, FNPBI, FPBN,SJPM, PKMTS, SRIKANDI, FMK, LBH MAKASSAR, FMD-SGMK, KOMUNAL, SMI, SP ANGING MAMIRI, PEMBEBASAN, KPO, PRP MAKASSAR, FAI UMI, PMII rayon HUKUM UMI, PMII rayon FAI UMI, HMJ Antropologi UNM, HIPMAKOT, BEM FISIP UNM, FORWA, HMJ PPKN, SEHATI MAKASSAR. Sejak pukul 11.00 WITA aliansi yang mengenakan atribut merah tersebut mulai membakar semangat massa dengan melakukan orasi-orasi diatas mobil komando. Dalam orasi yang menggema di sepanjang kolong jalan layang, hal yang paling ditekankan ialah perlawanan terhadap sistem kapitalisme sebagai sistem yang menindas baik di sektor perburuhan maupun di sektor pendidikan. “Buruh dan mahasiswa bersatu melawan kapitalisme,” begitu penggalan orasi yang di lantangkan oleh salah seorang orator dari aliansi tersebut. Beberapa masalah yang acapkali muncul dalam dunia perburuhan seperti PHK yang sewenang-wenang, hak atas pesangon saat PHK yang kurang bahkan tidak terbayarkan, skorsing tanpa alasan yang jelas, upah yang tidak layak, diskriminasi, sistem kerja outsourcing, Jamsostek yang tidak dibayarkan, pemberangusan serikat, kriminalisasi dan kekerasan seksual yang dialami buruh perempuan masih tetap menjadi isu penting yang mengemuka di aksi 1 Mei kali ini.

Setelah cukup lama melantangkan suara-suara protes dan tuntutan, sekitar pukul 13.00 WITA massa aliansi dengan estimasi 700 orang mulai bergerak meninggalkan kolong jalan layang lalu melakukan konvoi dengan sepeda motor bersama dengan mobil komando. Rute yang diambil dalam konvoi tersebut ialah Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Gunung Bawakaraeng – Jl. Kartini – Jl. Bontolempangan – Jl. Hasanuddin – Jl. Ahmad Yani – Jl. Mesjid Raya – Jl. Urip Sumoharjo lalu berakhir di Taman Makam Pahlawan. Sepanjang konvoi, sembari tetap mengkampanyekan tuntutan, massa aliansi juga menginstruksikan kepada setiap toko yang kiranya mempekerjakan buruh agar menutup tokonya dan meliburkan para pekerjanya. Ini dilakukan agar setiap lapisan buruh tanpa terkecuali sanggup menyuarakan tuntutannya dalam tempat kerja.

Sedikit ke pinggir kolong jalan layang, sekelompok massa yang berpakaian hitam-hitam dengan bendera merah-hitam, mengatas-namakan Komite Anti Otoritarian, juga ikut ambil bagian dalam aksi serta turut memberikan warna dalam momentum 1 Mei hari ini. Massa yang diusung dari berbagai kalangan ini melakukan long-march dari Universitas Hasanuddin hingga berakhir di kolong jalan layang. “ SYARAT REVOLUSI SOSIAL ADALAH PENGHANCURAN KAPITALISME & OTORITARIANISME” ialah seruan yang dikampanyekan oleh Komite Anti Otoritarian terpampang dengan jelas di spanduk 3×2 meter yang dibentangkan selama long-march. Selain spanduk terdapat beberapa pataka yang berisi tuntutan seperti: pecat para majikan demi revolusi sosial, ambil alih alat produksi dibawah kendali pekerja, lawan larangan berserikat dan hapus sistem kerja outsourcing, semakin meramaikan gambaran tuntutan yang mengemuka di aksi 1 Mei hari ini.

Bising suara perlawanan terhadap sistem kapitalisme yang menindas dan mengekang—dimana buruh mengalami kondisi ketidakadilan dari masalah pembebanan jam kerja, pemberian upah yang tidak layak hingga pembatasan berserikat—semakin menjadi ketika massa dari Komite Anti Otoritarian mulai berdiri dan merapatkan barisan. Seraya membentangkan kembali spanduk tuntutan, hingga mengacungkan pataka-pataka sambil berorasi, massa aksi lalu menyanyikan lagu perjuangan buruh internasional, internasionale, serta meneriakkan slogan anti otoritarianisme yang mereka usung. Setelah keriuhan yang membakar semangat tersebut, massa dari Komite Anti Otoritarian membubarkan diri sembari kembali mempersiapkan barisan untuk melakukan konvoi sembari membagikan selebaran front.

20170501_122912

Massa aksi dan Pataka Komite Anti Otoritarian

Selain kedua aliansi tadi, bertempat di sebelah timur kolong jembatan layang, hadir pula Aliansi Serikat Solidaritas Kemandirian Rakyat. Dalam aliansi ini tergabung FSPBI, KSN, GRD, SPMN, dan BEM FT-UIM. Sejak pukul 11.00 WITA aliansi yang berestimasikan 400an massa telah menggelorakan protes-protes mereka terhadap berbagai macam permasalahan hak-hak normatif yang sudah seharusnya telah didapatkan para pekerja. Berbagai macam tuntutan yang dikumandangkan aliansi berkutat pada penolakan BPJS Kesehatan, hentikan politik upah murah, sistem kerja kontrak/outsourcing, tolak privatisasi BUMN di Indonesia, hentikan pemberangusan serikat, tolak penggusuran dam perampasan hak hidup, tolak kriminalisasi buruh, tani, dsb.

Dengan berbaju merah bersama ratusan massa ditambah dengan orasi-orasi politik yang digemakan, suasana ramai seakan semakin membakar semangat massa. Selain tuntutan akan hak normatif, aliansi juga menuntut sektor lain, seperti pendidikan. Bagi aliansi ini, pendidikan gratis dan komersialisasi sektor pendidikan tinggi merupakan tuntutan yang jelas untuk terus dikumandangkan.

Ilham Rahman atau kerap disapa Ian, Koordinator Media dan Propaganda Serikat Pemuda Mahasiswa Nusatara (SPMN), mengatakan bahwa sektor pendidikan dan perjuangan dengan kelas pekerja-proletar dengan artian luas, merupakan hal yang tidak terpisah. Upah rendah yang masih membayangi kelas pekerja dan pendidikan mahal adalah hal yang harus terus dilawan. “Momentum mayday dan aksi massa harus tetap dilakukan dalam setiap jalan perjuangan. Inilah jalan untuk merebut hak kaum buruh dan menuntut hidup yang lebih baik.” Ujar Ian yang merupakan mahasiswa asal Ternate.

Sebelum di kolong jalan layang yang merupakan titik aksi kedua, sejak pukul 08.00 WITA aliansi bergerak menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Bandara adalah titik aksi pertama yang seharusnya ditempati oleh aliansi. Namun, sebelum sampai di titik aksi, di bagian luar bandara telah dijaga oleh ratusan satuan Brigade Mobil dengan truk polisi berjumlah 8 buah. Setelah melakukan koordinasi antar pemimpin dan anggota, aliansi setuju untuk langsung menuju titik aksi selanjutnya.

Tepat pada pukul 12.02 WITA aliansi bergerak menuju kantor gubernur sebagai titik aksi selanjutnya. Sesampai di tujuan, beberapa orator dari setiap organ yang terlibat memberikan orasi politik. Sembari memberikan orasi politik, massa aksi juga membakar kardus-kardus yang bertuliskan tolak MEA, Cabut PP 78 dan Jokowi-JK Antek Imperalisme . Tidak lama setelah pembakaran kardus dan ban, aliansi berlanjut menuju pintu 2 Kawasan Industri Makassar (KIMA) yang menjadi tempat massa untuk selanjutnya bubar.

INDONESIA DARURAT KETANAGAKERJAAN – SELAMATKAN PEKERJA INDONESIA.Seperti itu kalimat yang terpampang pada baliho aliansi Gerakan Buruh Sulawesi Selatan (GBS). Dari arah kantor DPRD Provinsi, kehadiran GBS sedikit mengejutkan massa aksi di kolong jalan layang. Pasalnya keriuhan suara kendaraan yang tinggi dan hadirnya empat mobil komando menjadi kesan pembuka penanda kedatangannya. GBS Sendiri merupakan aliansi yang berbeda dari tiga front sebelumnya. Mereka tiba di kolong jalan layang tepat pada pukul 12.35 WITA. Berseragam dengan berbagai warna seperti merah, kuning, biru, ungu, coklat menghiasi dan menambah suasana perjuangan front yang lain.

GBS yang berestimasikan 1000 massa terdiri atas berbagai organ-organ kelas pekerja. Serikat Pekerja Nasional (SPN) adalah salah satu organ yang tergabung dalam GBS. Selain itu, Federasi Serikat Pekerja Parisiwata dan Federasi Serikat Pekerja Niaga, Bank dan Asuransi dsb hadir pula dalam aliansi ini.

Dalam aksi kali ini GBS membawa 12 tuntutan, yang berkisar soal Peraturan Pemerintah no.78 tahun 2015, sistem kerja kontrak/outsourching, penghancuran serikat, dan berbagai tuntutan lainnya. Bagi GSB, seperti persoalan penghancuran serikat adalah masalah yang mendesak untuk cepat diselesaikan. Kasus-kasus semacam ini masih banyak ditemui di setiap perusahaan multinasional-BUMN di Makassar. Persoalan ini baru saja terjadi di PT Menara Angkasa Semesta, bertempat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar serta juga merupakan salah satu unit usaha dari MENARA GROUP, yang melakukan suatu penghancuran serikat di perusahaan tersebut. Imbasnya, PT Menara Angkasa Semesta melakukan pemberhentian terhadap 12 karyawan yang terlibat dalam pembetukan serikat tersebut.

“hal-hal seperti penghancuran serikat tidak bisa didiamkan. Harus selalu dilawan dan diperjuangkan. Karena berserikat adalah Hak untuk seluruh pekerja dan setiap orang.” Kata Agus Toding, yang sekarang menjadi ketua DPP GSBMI.

Satu hal menarik dari aksi GBS pada May Day kali ini adalah varian aksinya. Selain melakukan pembentangan spanduk, orasi politik, bernyanyi dan berjoget menjadi varian menarik bagi GBS untuk tetap menjaga semangat massa aksinya. Tak hanya massa aksi yang berjoget, para polwan yang berjaga di kolong jalan layang ikut pula berjoget.

Dan tepat pada pukul 13.49 WITA, aliansi GBS menuju titik aksi selanjutnya.

 

20170501_134014

Gabungan massa aksi Gerakan Rakyat untuk Buruh

Pusaran tak berujung Darurat Ketanagakerjaan

Pada aksi May Daya kali ini, wacana yang menyeruak dan menjadi tuntutan setiap aliansi pekerja adalah Peraturan Pemerintah tentang pengupahan no.78 tahun 2015 dan penghapusan sistem kerja kontra/outsourching. Dalam persoalan PP pengupahan no.78, pencabutan menjadi ujung gerakan kali ini. Apa yang kontradiktif dalam PP 78 ini adalah penghapusan peran serikat  buruh dalam penentuan kenaikan upah. Hal ini dimungkinan sebab dalam pasal PP 78 dijelaskan bahwa kenaikan upah ditentukan berdasarkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Selain hal tersebut, PP 78 juga melabrak Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 yang mempunyai kedudukan lebih tinggi. Pasalnya, upah dalam UU 13 mengharuskan agar upah diatur oleh tiga pengampu kebijakan, gubernur, dewan pengupahan, dan suara buruh.

Persoalan lain dalam aksi ini adalah pekerja kontrak atau outsorching. Sistem kerja outsourching, sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang no.13 tahun 2003 tentang Ketanagakerjaan, juga mempunyai  persoalan dalam praktiknya. Praktik tersebut bisa dilihat penerapannya pada perusahaan-perusahaan plat merah atau milik BUMN. Dalam UU Ketenagakerjaan tersebut telah diatur bahwa para pekerja outsourching yang telah memenuhi syarat dapat segera menjadi pekerja tetap. Namun kenyataan berbicara lain, masih banyak perusahaan yang melanggar aturan tersebut. Akibatnya para pekerja outsourching berada dalam bayang kehilangan pekerjaan karena sistem yang berbasis kontrak tersebut.

Selain dua wacana di atas yang terus menerus digulirkan oleh kelas pekerja, pada May Day kali ini, yang turut disemarakkan dari sektor selain buruh seperti mahasiswa dan warga pinggir kota, persoalan dalam sektor lain tersebut juga mengemuka dan menjadi tuntutan. Misalkan, untuk menyebut beberapa diantaranya, adalah sektor pendidikan dan perampasan ruang hidup (penggusuran).

Pada sektor pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, wacana komersialisasi mempunyai akar historis sejak tahun 2007. Menyeruaknya wacana komersialisasi dimulai ketika 2007 draft RUU BHP yang mengatur bagaimana otonomisasi perguruan tinggi dalam pengelolan sektor non-akademik termasuk keuangan-pendanaan turut diatur. RUU ini kemudian ditolak oleh Mahkamah Konstitusi pada tahun 2009. Namun, pada tahun 2012 wacana soal komersialisasi pendidikan kembali bergulir. Hal ini disebabkan semangat Undang-Undang Perguruan Tinggi linier dengan RUU BHP yang telah dihapus sebelumnya. Sampai sekarang wacana inilah yang terus berkembang dan ditolak oleh berbagai massa aksi.

Wacana yang juga menjadi sorotan pada aksi May Day kali ini adalah persoalan perampasan ruang hidup. Akhir-akhir ini, soal perampasan ruang hidup atau penggusuran juga hangat diperbincangkan dan diperjuangkan dalam beberapa barisan front massa aksi. Untuk mengambil contoh paling dekat atau dalam wilayah Makassar, adalah upaya perampasan tanah Bara-Baraya oleh satuan TNI. Persoalan ini dalam kelanjutan kasusnya, para mafia tanah dan bekerja sama dengan para investor properti/perumahan berencana memberangus ruang hidup warga bara-baraya yang terancam tergusur.

Jika di tahun-tahun sebelumnya semarak mayday dipenuhi oleh sekumpulan massa berseragam serikat buruh maka mayday Makassar kali ini turut diramaikan oleh para pekerja muda berpakaian serba hitam, terhimpun dalam Komite Anti-Otoritarian. Jika front lain memasukkan banyak kontradiksi kehidupan buruh dalam alam kapitalisme, maka barisan hitam-hitam ini hanya membawa sebaris kalimat berani: Syarat Revolusi Adalah Penghancuran Kapitalisme dan Otoritarianisme. Apa yang ditawarkan oleh front ini adalah demokrasi langsung yang mana bentuk organisasi atau serikat yang tersentralisir dan hirarkis menjadi tidak relevan. Tepat pada momen mayday kali ini, Komite Anti-Otoritarian hanya ingin memperlihatkan satu poros lain dalam perlawanan terhadap kapitalisme.

Ditengah hiruk pikuk perayaan hari buruh di Makassar, di bawah jalan layang, melayang pertanyaan berulang, mengapa upah murah, mengapa sistem kerja outsorching, mengapa privatisasi pendidikan, hingga mengapa penggusuran masih harus kita tuntut dan tidak pernah berakhir dalam tiap mayday?  Apakah kesemuanya memang menjadi logika internal dalam sistem pelipatgandaan uang bernama kapitalisme? Ataukah mungkin pada akhirnya kita sudah harus menemukan sendi penegak sistem tersebut untuk kemudian dirubuhkan? Yang pasti, sampai jumpa di mayday berikutnya, usaha tanpa lelah dalam melawan penghisapan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: