LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » Milik Siapa Pendidikan Kita hari ini?

Milik Siapa Pendidikan Kita hari ini?

Jpeg

Massa aksi Gerak Pendidikan

HARI INI (2/5) terik cahaya matahari begitu menyengat, udara pun terasa sangat panas. Waktu masih menunjukkan pukul 10.41 WITA, ketika beberapa orang terlihat memadati lokasi di depan Taman Makam Pahlawan. Mereka adalah massa aksi dari Gerakan Rakyat untuk Pendidikan (Gerak Pendidikan), yang akan melakukan aksi memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Saya yang datang dari arah Adipura Tello dan menggunakan sepeda motor, menyambangi lokasi tempat mereka berkumpul. Setelah memarkir sepeda motor, saya mengambil buku catatan dari dalam tas. Kemudian mencatat beberapa hal dan memerhatikan orang-orang yang ada di sana. Mencatat organ apa saja yang terlibat, melalui bendera yang dikibarkan beberapa orang.

Selang beberapa menit seorang perempuan menaiki mobil yang terparkir di depan massa. Dari gerak-geriknya saya menyimpulkan dia adalah koordinator lapangan pada aksi kali ini. Perempuan itu kemudian mengambil pengeras suara dan menyerukan agar massa aksi memasang bendera di mobil komando. Ia juga menyerukan agar massa bersiap-siap menuju titik aksi. Tak lama setelah itu, mobil komando bergerak. Di belakang mobil para massa berkendara motor pun ikut. Saya kemudian melihat jam untuk memastikan pukul berapa mereka beranjak dari

Sekitar tujuh menit massa aksi yang bergerak dari Taman Makam Pahlawan, tiba di bawah jembatan layang (fly over), dan disambut oleh ratusan aparat keamanan yang terdiri dari polisi dan TNI. Mobil komando milik serikat buruh FPBN kemudian berhenti, bersamaan dengan massa aksi yang mengikutinya. Bendera-bendera organ yang tergabung dikibarkan dengan penuh semangat. Aparat kepolisian yang katanya mengamankan jalannya aksi, lebih terlihat sebagai menghalangi aksi. Spanduk utama yang dibawa oleh massa aksi dihalangi oleh aparat, hingga menyulut emosi beberapa massa aksi. Hingga massa aksi dan aparat sempat bersitegang beberapa menit, sebelum orasi politik dimulai.

“Pendidikan milik siapa?! Milik negara!!” orasi politik pun dimulai dengan pertanyaan pendidikan itu milik siapa? Memangnya milik siapa pendidikan kita? Massa aksi serentak bersuara bahwa pendidikan itu milik negara, bukan milik para kapitalis. Orasi politik yang dibawakan oleh perwakilan serikat buruh FPBN dan GSBN itu pun membakar semangat massa aksi. Organ-organ dari solidaritas perempuan seperti Srikandi dan SP-Anging Mammiri juga turut dalam aksi ini.

“Hidup mahasiswa! Hidup rakyat! Hidup Perempuan yang tetap berlawan!” itulah seruan-seruan yang diucapkan perwakilan dari SP-Anging Mammiri untuk membuka orasi poltiknya, yang belakangan saya kenal bernama Rina.

Rina, seorang aktivis perempuan dari SP-Anging Mammiri yang menjadi satu-satunya perwakilan dari organ tersebut dan baru saja berorasi, kembali berbaur bersama massa aksi lainnya. Saya pun berjalan dan menghampirinya, melewati barisan polisi wanita yang sedang berjaga. Rina kemudian bercerita tentang beberapa hal yang menjadi keresahannya dalam dunia pendidikan, diantaranya adalah pendidikan yang diskriminatif. Yang mana menurut Rina, wilayah pendidikan seperti kampus masih belum ramah terhadap perempuan. Mulai dari sarana, prasarana hingga tindak kekerasan seksual yang banyak menimpa perempuan dalam dunia pendidikan. Karena itu, ia mengharapkan dapat terwujudnya pendidikan berperspektif gender.

Udara di titik aksi terasa cukup panas, meskipun cahaya matahari yang terik terhalang oleh jembatan layang. Ratusan polisi muda berjejer di belakang massa aksi saat itu. Mengamankan jalannya aksi. Riuh suara orasi dan yel-yel penyemangat yang diteriakkan massa aksi, mengaburkan suara yang berasal dari traffic light di sekitar jembatan layang itu. Suara mesin kendaraan dan sempritan aparat kepolisian yang mengatur arus lalu lintas yang padat pun terdengar silih berganti. Orasi massa aksi Gerak Pendidikan kemudian bersaing dengan aksi aliansi mahasiswa lain yang ada di seberang massa aksi. Keduanya saling bersahutan menyampaikan tuntutannya masing-masing. Tapi, itu tidak berlangsung lama karena aksi tersebut lebih cepat meninggalkan lokasi.

“Hidup mahasiswa! Hidup rakyat! Hidup Perempuan yang tetap berlawan!”, saya kembali mendengar orasi politik dari organ lainnya. Orasi yang disampaikan terus mengungkapkan realita  mirisnya pendidikan kita hari ini. Termasuk apa yang disampaikan serikat buruh GSBN dalam orasinya, sesaat setelah saya berbincang dengan Rina. Saya lalu mencoba bertanya pada salah seorang orator dari serikat buruh.

Hamka, selaku orator perwakilan GSBN, menyatakan bahwa mengapa buruh turut andil dalam aksi peringatan Hardiknas, tidak lain karena kepedulian mereka terhadap pendidikan anak-anaknya. Tuntutan bahwa anak-anak buruh juga harus mendapatkan jaminan pendidikan yang sama dari negara. Mengingat pendidikan adalah hak setiap warga negara tanpa memandang ia petani, nelayan dan sebagainya. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah suatu hal yang vital dan berdampak besar untuk kelangsungan hidup anak-anak mereka nanti. Meskipun ia harus menggunakan waktu istirahat kerjanya untuk mengikuti aksi, tidaklah menjadi masalah jika itu terkait dengan pendidikan.

“pendidikan itu suatu hal yang vital. Bagi saya itu (pendidikan) berarti dalam menentukan bagaimana masa depan anak-anak.” ujar Hamka yang akan masuk kerja malam nanti.

Jpeg

Barisan polisi yang tepat dibelakang dan samping kanan massa aksi

Lagi-lagi riuh suara massa aksi terdengar, “Hidup Rakyat!” Orasi politik kemudian disampaikan oleh beberapa organisasi mahasiswa selanjutnya. Saya mendengar orasi yang cukup berani dan lebih ditujukan pada ratusan aparat kepolisian yang tengah berjaga. “Pendidikan hari ini sangat mahal! Tidak hanya untuk mengakses pendidikan tinggi, untuk mengakses akademi kepolisian pun harus menyogok sana-sini!!” teriak orator yang menggunakan kemeja berwarna hitam bertuliskan FORMAT pada bagian punggung. Apa yang dituntut mahasiswa juga tak jauh berbeda, dengan lebih mengutamakan independensi lembaga kemahasiswaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Priki, orator dari FORMAT bahwa independensi lembaga kemahasiswaan hari ini sedang dipertanyakan. Akibat ulah kapitalis birokrat yang cenderung mengintervensi lembaga kemahasiswaan.

Hal utama yang ingin disampaikan massa aksi dari Gerak Pendidikan adalah bahwa pendidikan hari ini cenderung mengikuti mekanisme pasar, lebih pro kapitalis daripada rakyat. Pendidikan saat ini diarahkan pada komersialisasi, guna meraup untung yang sebesar-besarnya. Sehingga pendidikan pun tidak lagi menjadi barang publik, melainkan beralih pada barang privat. Olehnya itu, hal yang dituntut adalah melawan kapitalisme dalam pendidikan dan mewujudkan pendidikan gratis kepada setiap warga negara, tanpa diskriminasi. Mencabut segala aturan yang pro kapitalis mulai dari UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dan UUPT, hingga menghentikan pembungkaman demokrasi dalam dunia pendidikan.

Perempuan yang menjadi korlap pada aksi kali ini, menginformasikan kepada massa bahwa aksi telah hampir selesai. Saya melihat jam dan mendapati waktu telah lewat dari estimasi yang disepakati.

Saat korlap mengumumkan bahwa aksi akan selesai, di waktu bersamaan para polisi yang berdiri dibelakang massa dengan wajah lesu, kembali memancarkan rona ceria.

 

(Nur Azizah/Agung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: