LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » “Apa Kabar Gunung Bulu’ Bawakaraeng?”

“Apa Kabar Gunung Bulu’ Bawakaraeng?”

Gunung Bulu’ Bawakaraeng adalah salah satu gunung yang menjulang di dataran pulau Sulawesi bagian Selatan. Secara administratif, Bulu’ Bawakaraeng termasuk dalam wilayah pemerintah Kabupaten Gowa.  Bulu Bawakaraeng juga menjadi wilayah batasan antar beberapa kabupaten, untuk menyebut beberapa, seperti Kabupaten Gowa, Sinjai, Bantaeng, dsb. Selain menjadi batasan antar kabupaten, Bulu’ Bawakaraeng juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

1494311115872[1]

Kegiatan seminar “Apa Kabar Bulu’ Bawakaraeng?” Sumber foto: Media Ekonomi FEB-UH

Bagi para pendaki, puncak Bulu’ Bawakaraeng adalah kedamaian dan tubuhnya adalah suatu keindahan.

Senin, 8 Mei 2017, bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, (FEB-UH) Senat KEMA Fakultas (FEB-UH) dan BEM SYLVA Indonesia Universitas Hasanuddin, menggelar sebuah seminar bertema “Apa Kabar Bulu’ Bawakaraeng?”

Secara umum kegiatan ini membahas bagaimana kondisi terkini Gunung Bulu’ Bawakaraeng. Dalam seminar ini, pelaksana kegiatan menghadirkan tiga pembicara: Dr.Andi Tonggiroh ST.,MT dari Lembaga Penelitian & Pengembangan Masyarakat (LPPM) dan dosen Geologi Unhas, dengan judul materi “Gunung dan Gunung Bulu’ Bawakaraeng”, Prof. Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampesela,M.sc. dengan focus bahasan perihal “Fakta dan Potensi Masyarkat untuk Mitigasi”, Prof. W.I.M. Poli, yang tak bisa hadir, dengan tulisan “Aku dan Gunung Bulu’ Bawakaraeng”. Selain tiga narasumber tersebut, seminar ini menghadirkan pula Nevy Jamest sebagai Keynote Speaker.

Seminar dimulai dengan pemaparan Nevy, kemudian dilanjutkan pemaparan dari Andi Tonggiro perihal bagaimana kondisi gunung dan apa yang menjadi struktur gunung. Selain itu, Adi, demikian ia sering disapa, memaparkan kondisi Bulu’ Bawakaraeng yang menjelaskan bahwa terdapat suatu keunikan di kawasan Bulu’ Bawakaraeng yang mana terdapat beberapa lempeng bertemu, serta Bawakaraeng yang menghidupi kurang lebih 7 kabupaten di Selatan Sulawesi ini dengan memanfaatkan air berhulu dari Bulu’ Bawakaraeng. Setelah pemaparan Andi Tonggiroh, narasumber selanjutnya Prof. Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampesela,M.sc  menjelaskan materinya. Prof Agnes, yang telah meneliti Bulu’ Bawakaraeng sejak 2004, dengan sangat lugas memaparkan bagaimana Bencana gunung Bulu’ Bawakaraeng yang terjadi pada 2004. Perempuan yang mendapatkan gelar Profersornya di Jepang ini, menjelaskan faktor-faktor bencana runtuhnya tanah dan bebatuan Bulu’ Bawakaraeng pada tahun 2004, yang mengakibatkan  32 orang meninggal dunia. Menurut Prof Agnes, faktor paling besar adalah proses Geo Kimiawi yang terjadi di dalam sturktur penyusun Gunung Bulu’ Bawakaraeng.

IMG_0469

Penampakan Bulu’ Bawakaraeng. Lokasi Jatuhnya tanah dan bebatuan pada tahun 2004. Sumber foto: LAW Unhas

Seminar selesai kurang lebih pukul 17.30 WITA. Salah satu hal menarik dari seminar ini adalah paparan bagaimana kondisi terkini Gunung Bulu’ Bawakaraeng melalui pemutaran video dokumenter. Dalam video tersebut terlihat bagaimana kondisi di beberapa pos pendakian menuju puncak bawakaraeng yang cukup memperhatinkan. Sampah berserakan dan bertumpuk. Sampah makanan instan di aliran air, kebakaran hutan dan rusaknya struktur ekologis Bulu’ Bawakaraeng yang disebabkan oleh proses pendakian dan cara hidup pendaki yang tidak bertanggung jawab.

(Najib/Agung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: