LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » BELAJAR DARI GRAMSCI; PERANG POSISI DAN PERANG GERAKAN

BELAJAR DARI GRAMSCI; PERANG POSISI DAN PERANG GERAKAN

oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat ISCS – Skolastra

26HIRSCH-master1050

Source image : http://www.nytimes.com/2013/07/26/arts/design/a-visit-to-thomas-hirschhorns-gramsci-monument.html

 

Antonio Gramsci sering dikenal secara luas di kalangan aktivis dan akademisi dengan teori “hegemoni”-nya. Selain itu blok historis berupa aliansi masyarakat sipil dan produksi wacana sealiansi kekuatan bersama juga sering didiskusikan bahkan dipraktekkan di ranah gerakan sosial. Selain itu soal intelektual organik dan mekanis juga adalah bahasan yang seringkali mencuat kala menyebut nama pemikir Italia ini.

Namun, ada beberapa pandangan Gramsci yang sepertinya kurang diapresiasi dan atau kurang diperbincangkan meski tak jarang sebenarnya sudah dipraktekkan oleh berbagai elemen gerakan sosial dan bahkan mungkin yang berlawanan dengannya. Salah satunya adalah mengenai strategi perang posisi dan perang gerakan/ bergerak menyerang. Dalam istilah lain “war of movement” dan “war of position” adalah terma yang sering digunakan.

Perihal kedua langkah strategis ini, terdapat beberapa syarat dan pembacaan kondisi material yang membuatnya kenapa hal tersebut penting untuk diperhitungkan. Dibawah ini adalah beberapa poin uraian terkait bahasan tersebut.

Apa yang dilakukan ketika lawan menguat?
Kata Sun Tzu, seranglah dimana lawan lemah. Nasihat lain, seranglah lawan sampai terkapar. Gramsci bilang, jika demikian lakukan “war of position” (perang posisi). Jadi dari Sun Tzu dan Gramsci kita belajar bahwa sebelum benar – benar terkapar, lakukanlah perang posisi lalu seranglah lawan dimana dia lemah (dan disaat lengah). Itulah senjatanya kaum atau kelas yang lemah disaat lawan lagi kuat -kuatnya, seperti kata Tan Malaka dalam Gerpolek.

Lalu, apa itu perang posisi dan perang gerakan?
Dalam terminologi Gramscian, perang posisi diandaikan sebagai lawan dari perang gerakan (war of movement atau war of frontal attack). Perang posisi memiliki syarat, yaitu menguatnya pengaruh lawan (kapitalisme) sementara kekuatan lawan juga relatif stabil. Di sisi lain kekuatan sendiri setelah dihitung dan dianalisa, belumlah memadai untuk melakukan “frontal attack”, gerakan menyerang. Ibarat strategi sepak bola, perang posisi adalah taktik bertahan, sementara perang gerakan (war of movement) adalah strategi total football alias menyerang sampai gawang lawan dijebol sebanyak-banyaknya kalau perlu sampai lawan  terkapar betul. Kira – kira begitu analoginya.

Lalu apa syarat Perang Posisi dan Perang Gerakan?
Ada syarat-syarat objektif yang sering dikatakan sebagai dasar analisa untuk melakukan tindakan. Begitupula perang posisi dan perang gerakan ala Gramsci ini. Seperti di zamannya, di Italia masa Mussolini, Kapitalisme dan kekuasaan negara (masyarakat politik) yang dinilai fasis begitu kuat. Jadi hanya bunuh diri yang dituju jika ingin bergerak terbuka. Olehnya, ketika lawan Gramsci menguat dan terkonsolidasi dengan baik, perang posisi adalah jalannya. Sembari menunggu syarat – syarat sebaliknya untuk melakukan perang gerakan/bergerak.

Apa yang dilakukan pada Perang Posisi dan Perang Gerakan?
Ketika kapitalisme menguat dan semakin matang, maka biasanya kebudayaan juga akan dirambah pengaruhnya. Bukan hanya ranah ekonomi politik. Maka, mengembalikan kesadaran kritis, maksimalisasi media propaganda alternatif, pembangunan blok historis kelas bawah / proletar, dan penguatan masyarakat sipil adalah hal yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Pendidikan kader dan  sekolah / kursus politik bisa juga jadi pilihan. Tergantung konteks situasi yang dihadapi.

Bergerak diranah kebudayaan, pendidikan, sastra, dan seni kira kira adalah benteng pertahanan agar blok kekuatan tidak dikapar habis. Karena, bergerak di ranah ekonomi politik bisa jadi kurang memungkinkan kalau bukan beresiko. Meski demikian kritik ekopol tetap dilancarkan namun fokus kerja sedikit dikurangi dalam ranah gerakan, namun dalam hal pengkajian dan propaganda, tetap saja hal tersebut tidak boleh berhenti.

Yang pasti perlu senantiasa diingat, bahwa seperti dalam sepak bola, adalah boros energi ketika terbuka peluang melakukan “attack” tapi justru nyaman bertahan. Begitupula sebaliknya, ketika asik menyerang lalu lupa barisan pertahanan dan ketahanan nafas tim adalah kesalahan fatal. Disitulah seninya.

Dari paparan di atas, pantas saja beberapa buku mengatakan bahwa ” war is art, therefore the art of war is another art besides arts itself”. Perang adalah seni dari seni yang sesungguhnya. Seni yang tidak ada jurusannya di Pendidikan Tinggi, apalagi mata kuliahnya. Kira kira begitu salah satu cara membacanya.

Untuk konteks sekarang, menarik meneropong bagaimana KPK menghadapi DPR yang baru saja ketuanya dijadikan tersangka. Apakah ini adalah “War of Movement” KPK setelah sekian lama melakukan “War of Position”? Mungkin ya, tapi bisa jadi tidak. Ataukah jawaban ya atau tidak tidaklah cukup untuk menjawabnya. Yang jelas, perhadapan KPK dan DPR sepertinya tak salah jika melihatnya dari satu dari sekian dalil politik Gramsci ini.
Silahkan menilainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: