LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI » BELAJAR DARI (KISAH) TAN MALAKA

BELAJAR DARI (KISAH) TAN MALAKA

Oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat Sekolah Sastra dan Budaya (SKOLASTRA)

19905341_1653569527986997_6539936111079591536_n
— Seperti kata Pram, Bangsa dan Negara ini memang harus ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, kepada TAN MALAKA. Juga, kepada kisah kisah TAN MALAKA. Agar negeri ini tak larut untuk terus menjadi NEGARA MALINKUNDANG, Negara yang durhaka pada ibu-nya (Nasion/Bangsa-nya) —
Tan Malaka adalah seorang Bangsawan, sekaligus Nasionalis yang beraliran Marxis, berhaluan politik Sosialis-Komunis. Dia juga pembela Islam yang gigih. Sosoknya terlalu besar untuk disempitkan oleh cara berpikir picik ala kolonial yang suka melakukan kategorisasi. Apalagi tukang stempel yang kerjanya cap kali cap. Tan Malaka tidak cukup disebut seorang bangsawan, apalagi hanya dihukum sebagai komunis, dipuja sebagai seorang Nasionalis, atau dikagumi sebagai seorang pembela Islam di forum Internasional. Tan Malaka jauh melampaui itu. Kita lah yang sering mengerdilkan sosok dan peran sepak terjangnya.

Malam nanti (12/7), seperti sudah diberitakan ramai oleh media sosial, di acara Mata Najwa yang tayang pada salah satu TV Swasta Nasional akan ada acara yang terbilang langka. Sebuah diskusi atau talkshow dari beberapa narasumber yang dikemas populer dan inspiratif. Kali ini tentang Tan Malaka. Seorang sosok yang mengagumkan bagi yang tahu, paham, dan mengerti dengan baik sepak terjang dan sejarah sosok pahlawan Nasional Indonesia ini.

Selain mengagumkan, Tan Malaka juga adalah sosok yang kontroversial sekaligus misterius. Beliau dikagumi sekaligus dibenci oleh kalangan kalangan tertentu. Dia seorang yang berpikiran progresif dan bertindak revolusioner. Dia bangsawan tanah Minang yang beraliran Sosialis-Komunis. Namun, dia pembela Islam yang gigih, di sidang Komintern (Komunis Internasional) sekalipun. Apalagi soal Nasionalisme, Raja di Maharaja Malaka ini adalah penganjur Republik Indonesia yang pertama. Indonesia bukan hanya sebagai sebuah Bangsa (Nasion) namun sebagai sebuah negara (state). Dia sudah memikirkannya dan memperjuangkannya kelak.

V.Lenin, pemimpin Komintern asal Uni Soviet di sekitar Dekade kedua dan ketiga abad dua puluh itu saja tak membuatnya surut untuk berdebat soal hubungan gerakan sosialis-komunis dan gerakan Islam di negeri – negeri jajahan seperti Indonesia. Itu terjadi sekitar 1920-an. Masa ketika di Indonesia masih bisa dihitung jari orang yang bisa membaca. Apalagi sadar akan Kemerdekaan dan Nasion ke-Indonesiaan. Pancasila sekalipun belum terpikirkan oleh Bung Karno dan pejuang lainnya pada masa itu.
Kisah kisah selanjutnya, seperti di artikel di bawah ini, dia tumbuh dan hidup bersama Bangsa dan Republik yang diimpikannya. Lalu, konon, Negara, Republik ini mengkhianatinya. Tan Malaka, dengan nama lengkap Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka ini wafat diterjang peluru Tentara Republik. Republik yang dicitakan, diperjuangkan, dan dilahirkannya. Tan Malaka adalah ibu dari Republik ini.
Itu salah salah satu pelajaran dari kisah Tan Malaka ini. Saya menyebutnya “NEGARA MALINKUNDANG”. Anak yang Durhaka pada Ibu nya. Semoga negara ini tak disumpah jadi batu. Semoga kutukan MALINKUNDANG tidak dititahkan oleh Tan Malaka. Negeri ini, sepertinya harus segera bertobat.
“Kami Menghormatimu Tan!!!!”
“Damai dan Tenang dikau disana”.
BANGSA DAN NEGARA INI MEMANG HARUS BELAJAR DARIMU, DARI KISAHMU.
Sekali lagi, Seperti kata Pram, Bangsa dan Negara ini memang harus ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN kepada TAN MALAKA. Kepada kisah kisah TAN MALAKA.

Bacaan pemerkaya:

https://aroelmuhammad.wordpress.com/2017/02/21/kisah-tan-malaka-dan-negara-malinkundang/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: