LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Feature News

Category Archives: Feature News

TIDAK ADA KEADILAN DI HARI LIBUR

Oleh Muhammad Rusydi Ashri

_temp_1493404184126.jpg

Setelah menggusur 102 KK di Asrama Tentara Bara-baraya  akhir Desember 2016, pihak Kodam kembali berencana menggusur sebanyak 20 rumah seluas 6202,10 M2 di Jalan Abu Bakar Lambogo RT 06 RW 04, dan 8 rumah Jalan Kerung-kerung Lorong 1 RT 01 RW 01 seluas 685 M2.  Bagi TNI-AD, 28 rumah tersebut masuk dalam wilayah okupasi tanah klaimnya, bahwa tanah seluas 28.970.10 M2 termasuk dalam tanah sewa TNI-AD dengan Nurdin Dg. Nombong sebagai ahli waris Moedhinoeng Dg. Matika (pemilik tanah sertifikat nomor 4) dan surat ahli waris tanggal 9 Mei 2016 tentang permohonan pengembalian tanah okupasi yang disewa TNI-AD. Singkatnya, Kodam dengan “berbaik hati” ingin mengembalikan tanah di sertifikat nomor 4 ke ahli waris.

Buntungnya “kebaikan hati” TNI-AD mengakibatkan kondisi pendidikan Nining pelajar kelas 2 SMA terhambat. Nining terpaksa tidak mengikuti proses belajar mengajar seperti anak sekolah lainnya. Nining memilih menghadiri persidangan dengan agenda pembacaan putusan (Kamis, 27 April 2017). Menurutnya rumah yang dia tempati merupakan hak yang musti dipertahankan, keberaniannya melawan tirani militer muncul karena masa depan  diri beserta keluarganya ikut terancam.

Warga bara-baraya memutuskan menggugat Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) kota Makassar yang telah mengeluarkan sertifikat pengganti atas nama Moedhinoeng Dg. Matika di Pengadilan Tata Usaha Negara Makassar. Sidang dimulai pukul 10:22 WITA dipadati warga Bara-baraya dan 50-an aparat kepolisian lengkap dengan senjatanya dan beberapa intel tentara.

Dalam pembacaan putusannya majelis hakim menolak gugatan warga karena bukti warga berupa akta jual beli dan bukti pembayaran pajak bumi bangunan tidak memiliki hubungan hukum dengan objek hukum. “Sebaiknya gugatan ini dilakukan di jalur keperdataan”, ucap Mustamar sebagai Hakim yang memimpin sidang. Warga yang menghadiri persidangan tidak berterima dengan hasil sidang yang dibacakan majelis hakim, bahkan beberapa warga histeris memaki hukum yang tidak memihak ke orang kecil, warga kecewa hilangnya keadilan di negeri ini.

…pihak militer melakukan teror ke warga seperti menyebarkan selebaran intimidatif hingga ancaman pembunuhan ke warga yang aktif melakukan perlawanan. Upaya teror ini memberikan dampak negatif seperti rasa was-was berlebihan (paranoid) yang mengakibatkan terganggunya kondisi psikis dan kesehatan warga bara-baraya.

INTIMIDASI TNI DAN PELANGGARAN HAM

Terhitung sejak 17 Maret 2017, warga Bara-baraya bersatu memblokade sebagian jalan Abu Bakar Lambogo, tak jarang pihak militer melakukan teror ke warga seperti menyebarkan selebaran intimidatif hingga ancaman pembunuhan ke warga yang aktif melakukan perlawanan. Upaya teror ini memberikan dampak negatif seperti rasa was-was berlebihan (paranoid) yang mengakibatkan terganggunya kondisi psikis dan kesehatan warga bara-baraya.

Sebelumnya, pihak TNI-AD dalam menggusur Asrama Bara-baraya melakukan tindak “barbar” dengan menelantarkan perabotan serta beberapa harta benda warga, sebagian besar perabotan warga seperti kursi, meja, lemari rusak akibat diguyur hujan berganti terik matahari. Tindakan TNI-AD bertentangan dengan Standar Hak Asasi Manusia yang temaktub dalam komentar umum Kovenan Ekonomi Sosial Budaya Nomor 7 tahun 1997 dan United Nations Basic Principles and Guidelines on Development Based Evictions tentang penggusuran paksa. Kovenan tersebut melarang penghancuran properti pribadi warga yang akan digusur. Kodam VII Wirabuana (sekarang XIV Hasanudin) hendaknya tidak mengabaikan seruan PBB dalam penegakan HAM, jika tidak julukan sebagai pelanggar HAM terberat akan terus melekat di pundak kalian!

Semoga saja, sekelumit masalah diatas bisa cepat selesai dan tak ada lagi istilah Nining meliburkan diri karena rumahnya terancam tergusur.

Iklan

Bara-baraya tetap berlawan

Oleh Mudzafar

74739.jpg

“Dunia tidak butuh kata-kata dan perayaan, tetapi dunia membutuhkan suatu tindakan”

Aliansi Bara-baraya bersatu melakukan aksi di depan pengadilan negeri kota Makassar, Selasa pagi (18/04/2017) pukul 10 : 15 WITA. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk pembelaan kepada warga Bara-baraya yang bersengketa dengan pihak pangdam XIV Hasanuddin.

Hal ini merupakan dampak dari eksekusi lahan yang dilakukan pihak pangdam XIV Hasanuddin terhadap 78 kepala keluarga yang berada di dalam kompleks asrama Bara-baraya dengan cara yang tidak manusiawi ditambah dengan pihak pangdam XIV Hasanuddin mengeluarkan Surat peringatan I (SP1) hingga SP III kepada 28 kepala keluarga yang bermukim di luar asrama, sementara hingga saat ini belum ada putusan yang tetap.

Aksi ini merupakan aksi pra-kondisi yang dilakukan oleh Aliansi Bara-baraya Bersatu dengan maksud akan melakukan aksi perlawanan yang lebih besar jika dalam penyelesaian sengketa lewat jalur hukum, pihak pengadilan lebih berpihak kepada para mafia tanah dan tidak mempertimbangkan asas kemanusiaan masyarakat Bara-baraya.

#savebarabaraya

PROSES HUKUM MASIH BERJALAN, TNI AD “NGOTOT” MENGGUSUR WARGA

Oleh Muhammad Amri Murad

IMG_20170318_140153.jpg

”Tidak ada patriotisme tanpa kemerdekaan; tak ada kemerdekaan tanpa kebajikan dan tiada kebajikan tanpa warga; dengan menumbuhkan kewargaan, engkau memiliki segala yang kau butuhkan; tanpa warga, engkau tak punya apa-apa selain para budak yang direndahkan harkatnya”

(Jean-Jacques Rousseau)

Keterlibatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dalam menggusur warga kelurahan bara-baraya sesegera mungkin patut dipertanyakan. Pasalnya, tanah dan bangunan yang akan digusur tersebut masih dalam proses hukum di pengadilan. Artinya, status kepemilikan tanah di kelurahan bara-baraya belum memiliki kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . Maka tidak ada satupun pihak, bahkan TNI sekalipun yang berhak melakukan penggusuran di tanah sengketa tersebut.

Di lain pihak, Kepemilikan tanah oleh warga dibuktikan dengan Akta Jual Beli dan sertifikat hak milik. Namun, pihak TNI AD tetap bersikukuh tidak mengakui bukti tersebut. Padahal, bukti-bukti yang dikumpulkan dari Badan pertanahan Nasional Kota Makassar dan beberapa sumber lainnya menguatkan posisi warga sebagai pemilik yang sah.

Secara kronologis, setelah dikeluarkannya Surat Peringatan Kedua ( SP II ) tertanggal 6 Maret 2017, pihak Kodam melanjutkan ketidakpatuhannya pada proses hukum yang dijalani warga baraya dengan mengeluarkan Surat Peringatan Ketiga ( SP III ) pada tanggal 15 Maret 2017. Surat tersebut diterima warga pada hari Jumat, 17 Maret 2017 sekitar pukul 20.00 via kurir Kantor Pos Indonesia. Kejanggalan pun tersemat di agenda pengiriman SP II dan SP III ini, pihak Kodam tidak pernah mengantarkan surat tersebut secara langsung.

  (lebih…)

PERJUANGAN BELUM SELESAI SAMPAI DISINI!

Oleh: Harry Isra

 

Jpeg

Massa Aliansi Unhas Bersatu  melakukan long march menuju Gedung DPRD Provinsi Sul-Sel.

Mereka menempuh perjalanan dengan jarak sekitar 8,9Km. Dari kampus Unhas hingga ke gedung DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka adalah massa aksi dari aliansi Unhas Bersatu yang turut tergabung dalam RADIKAL (Gerakan Pendidikan Anti Liberalisasi).

“Ini pengalaman jalan kaki terpanjang yang pernah saya lalui”, berkata seorang perempuan kepada kawannya di tengah letih yang menghampiri ia dan massa aksi lainnya dalam aksi yang bertepatan dengan hari pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei, hari kelahiran tokoh pendidikan Indonesia K.H. Dewantara. (lebih…)

Sekali lagi Soal Jam Malam, Transparansi Dan Pungli

Selasa,19 Januari 2016, BEM FMIPA Unhas melakukan aksi demonstrasi di Universitas Hasanuddin. Titik kumpul massa aksi dilakukan di koridor KM FMIPA Unhas pada pukul 09.00 WITA. Kemudian pada pukul 10.00 WITA massa aksi dengan jumlah lebih dari 100 orang bergeser untuk melakukan demonstrasi di depan gedung rektorat Unhas. Aksi mahasiswa MIPA ini dilatar belakangi beberapa kasus yang meresahkan mahasiswa Unhas secara umum dan khususnya mahasiswa MIPA. Tuntutan massa aksi antara lain, penghapusan larangan aktifitas malam di kampus, pengaktifan wifi di malam hari, permintaan transparasi UKT, dan Penghentian Pungli yang dilakukan pihak birokrasi kampus.

Dalam salah satu orasinya, seorang wanita mahasiswa baru angkatan 2015 mengungkapkan. Bahwa hari ini, di kampus yang megah seperti Universitas Hasanuddin, keadilan sudah tidak ada lagi. Pelarangan aktifitas malam dengan dalih penghematan anggaran pengeluaran listrik dilakukan tapi penggunaan anggaran yang tidak terlalu penting seperti pembelian mobil dinas kerap kali dilakukan oleh pihak birokrasi. Tentu saja ini menjadi tanda Tanya besar. Mengapa kampus sebagai sarana penyelenggara kegiatan akademik, sangat membatasi kreatifitas mahasiswa dalam belajar dan berproses di kampus pada malam hari.

Sekitar pukul 10.30 WITA, Wakil rektor III Bidang kemahasiswaan menemui massa aksi. Beliau kemudian mendengarkan tuntutan massa aksi. Selanjutnya, Pak cido (sapaan akrabnya) menjawab tuntutan massa aksi. Mulai dari pelarangan aktifitas malam, beliau mengatakan bahwa “Tidak ada larP_20160119_101409.jpgangan pengosongan secretariat Lembaga kemahasiswaan, yang ada ialah penghentian aktifitas malam pada pukul 22.00-06.00 karena dianggap waktu tersebut adalah waktu untuk mahasiswa tidur”. Kemudian massa aksi mulai meneriaki beliau bahwa waktu tersebut seharusnya bukan untuk tidur tapi untuk berdiskusi, belajar dan berproses karena aktifitas akademik yang padat pada siang hari. Kemudian beliau menawarkan “Kalau mau berdiskusi nanti kami siapkan dua kamar di RAMSIS”, sontak mahasiswa berteriak dan menolak tawaran tersebut. Tuntutan ini kemudian tidak mengalami kesepakatan antar pihak mahasiswa sebagai penuntut dan WR III sebagai pemangku kebijakan.

Tuntutan lainnya yakni pengaktifan wifi pada malam hari berujung kepada keputusan “ kalau ada kegiatan, kami akan mengaktifkannya selama ada permohonan izin dari mahasiswa”. Namun sekali lagi, massa aksi tetap tidak puas karena hal tersebut masih sangat membatasi mahasiswa dalam mengakses berbagai pengetahuan yang bisa didapatkan di Internet.

Terkait masalah pungutan liar bidik misi yang dilakukan pihak Unhas, sebanyak 29 orang mahasiswa bidik misi angkatan 2012 yang diminta mengembalikan uang dengan jumlah yang sesuai dengan yang pernah mereka terima (bahkan ada yang mencapai 30 jutaan). Mahasiswa menuntut agar segera menghentikan kasus tersebut, karena mahasiswa menganggap kesalahan tersebut bersumber dari tim verifikasi pihak Universitas Hasanuddin yang kemudian mengambinghitamkan mahasiswa. Tuntutan ini direspon oleh pak cido seperti respon di aksi sebelumnya bahwa mereka tetap akan memproses masalah ini dan kalau masih ada yang keberatan silahkan menempuh jalur hukum, dsb. Selain itu mahasiswa menuntu pengaktifan kembali pembayaran spp 29 mahasiswa Karena mereka tidak mampu membayar diakibatkan pemblokiran akun pembayaran mahasiswa sebagai salah satu bentuk intervensi pihak kemahasiswaan agar mahasiswa mau membayar uang pengganti bidik misi mereka. Dari tuntutan ini, pak cido meminta waktu 2-3 jam untuk mengaktifkan akun pembayaran spp mahasiswa bersangkutan.

Transparansi UKT yang tak kunjung tiba, membuat mahasiswa menyuarakan kembali di demonstrasi kali ini. Permintaan data secara administratif dengan cara membuat permohonan ke pihak rektorat tak pernah direspon. Selaku WR III, pak cido mengatakan tidak mempunyai wewenang untuk membahas masalah tersebut.

Massa aksi membubarkan diri sekitar pukul 11.30 WITA dan beberapa perwakilan massa aksi melakukan dialog dengan WR III beserta stafnya di ruangan beliau. Dalam dialog tersebut, disepakati akun pembayaran 29 mahasiswa bidik misi akan diaktifkan apabila telah menandatangani form permohonan bantuan ke rektor Unhas. Namun, ternyata form tersebut tidak disediakan oleh pihak rektorat dan mahasiswa diminta untuk membuatnya sendiri. Namun pihak mahasiswa masih mempelajari tawaran tersebut.

Pihak mahasiswa juga menuntut mengenai SK Rektor terkait cara pemindah golongan UKT. Kemudian pak esan lamban mengarahkan ke pak yohanes di bagian anggaran. Namun ternyata, SK Rektor tersebut belum ada. Menurut pak yohanes selaku kabag anggaran masyarakat, belum ada mekanisme yang jelas mengenai cara pemindahan golongan dari rektor Unhas. Yang ada hanya penempatan golongan UKT. Beliau juga mengatakan, pihak Unhas belum pernah sama sekali duduk bersama membicarakan perihal pemindahaan golongan UKT. Padahal UKT sudah dilaksanakan mulai tahun 2013.

Festival Bulogading; Memupuk Solidaritas Lewat Seni dan Pertunjukan Rakyat.

Siapa yang tidak mengenal pantai losari, sebuah ruang rekreasi yang paling banyak dikunjungi masyarakat Makassar menjelang akhir pekan. Arena bermain terbuka, spot foto yang bisa dimana saja, pemandangan laut, keindahan sunset, aneka dagangan mulai dari kuliner, pakaian hingga mainan anak-anak dan yang paling dibanggakan sebuah masjid terapung yang cukup megah berdiri di sana. Namun, akhir pekan kali ini langkahku tidak ingin menapak di pantai losari, bukan karena kebosanan yang mulai meradang menikmati kondisi yang monoton di pantai losari tetapi beberapa hari menjelang hari akhir pekan salah satu media sosialku menangkap sebuah poster yang dibagian atasnya bertuliskan “Undangan Terbuka, Festival Solidaritas, Kampanye Mendukung Perjuangan Warga Bulogading” aku berfikir mungkin ini judul acaranya, aku tertarik, kubaca lagi “Orasi politik, Panggung Seni, Lapak Donasi, Pameran Data Penggusuran, Testimoni Korban Penggusuran” itu adalah isi dari acaranya. Berhenti aku membacanya, segeralah aku mengerti dan paham tentang isi acara diatas. Beberapa pekan terakhir beberapa media lokal dan nasional cukup intens mengabarkan tentang kasus warga bulogading ini, jadi tidak sulit lagi bagiku untuk memahami maksud dari acara tersebut beserta lokasi acara yang sangat dekat dengan pantai losari, wisata kebanggan masyarakat makassar. Tak perlu aku meminta persetujuan anggota tubuhku lagi, karena sedari tadi mereka sudah bersahut-sahutan kepadaku untuk segera datang kesana pada hari sabtu yang tertanggal 29 agustus di tahun 2015.

1440841204416

Benar-benar terik matahari, debu-debu beterbangan, belum lagi hasil-hasil pembuangan kendaraan menambah pekat kondisi kota Makassar menjadi rintang yang mesti dihadapi ketika menyusuri jalan-jalan di Makassar hingga akhirnya aku tiba di Jalan Bulogading yang tepatnya berada di kawasan jalan Somba Opu. Ku layangkan tajam pandanganku kedalam lorong jalan tersebut, sepertinya belum dimulai acaranya, beberapa warga masih menata-nata lorong tersebut. Di kejauhan sana kulihat sebuah panggung yang sudah berdiri lengkap dengan hiasan bunga disekitaran tepi panggung dan beberapa sound system yang sudah terpasang yang sedang mengalunkan lagu-lagu yang sangat dekat dengan telingaku. Masih asyik aku memandang kedalam, tiba-tiba seorang pemuda menuju kearahku yang tepat berada di depan jalan tersebut, lalu aku menanyakan waktu dimulainya acara dan pemuda itu mengatakan acaranya dimulai menjelang magrib.

20150829_144541[1]

Sambil menanti acara dimulai, aku menikmati sore di pinggir pantai, kupesan segelas jus alpukat dari sebuah warung milik warga Bulogading. Kupandangi disebelah timur sebuah hotel megah berdiri diatas tepian pantai, diselatanku pun sebuah hotel yang juga megah berdiri seolah mereka beradu tanding kemegahan. Orang-orang berlalu-lalang, dari yang pendek hingga yang paling tinggi, yang kulitnya coklat dan yang putih hanya sesekali kulihat yang hitam. Dijalan raya ramai sekali kendaraan berseliweran satu arah. Duduk di sini di pinggir pantai ini, rasa-rasanya dunia baik-baik saja, semua berjalan begitu normal yang kaya dan banyak uang menikmati pantai dari dalam kamar-kamar hotel, yang tidak punya cukup uang bisa bergabung bersamaku dan yang tidak punya uang menjadikannya lahan untuk mencari uang. Orang kelas menengah seperti saya menganggap hal itu normal-normal saja.

Senja mulai habis artinya ini sudah menjelang magrib dan jus alpukatku sebenarnya sudah tandas sedari tadi. Segera aku berpindah ketempat tujuan semula. Sudah dimulai rupanya, kini diatas panggung seseorang mulai berbicara, menyambut para pengunjung yang datang dan menjelaskan tentang isi acara dan apa-apa saja yang bisa dilakukan dan ditemukan di acara ini. sepertinya laki-laki itu adalah sang pembawa acara. Aku masuk, ku tebarkan pandanganku dan kudapati di sebelah kananku beberapa orang sedang memulai menggambar pada tembok berwarna putih, sepertinya mereka sedang Mural, sebuah aktifitas seni menggambar atau melukis pada bidang tembok biasanya menggunakan cat tembok dan cat semprot pilox. Kutinggalkan mural tersebut beberapa langkah berikutnya kutemukan dua buah data yang dikemas dalam bentuk infografis tentang penggusuran di dua kampung yaitu Buloa dan Bulogading, disebelah infografis ku lihat banyak sekali foto-foto yang bercerita tentang perjalanan perlawanan masyarakat miskin kota Makassar dalam mempertahankan tanah mereka dari ancaman penggusuran.

Ramai sekali, kecuali para warga, banyak kulihat pengunjung yang kebanyakan adalah pemuda yang mungkin saja mahasiswa dan mungkin juga bukan, adajuga kudapati beberapa wartawan yang ikut meliput kegiatan ini, mudah-mudahan saja beritanya dimuat besar-besar biar seluruh masyarakat mengetahui masalah yang sedang dihadapi warga Bulogading.

Semakin mendekati panggung yang masih menampilkan sang pembawa acara, kudapati sebuah meja yang menyediakan jajanan, ada goreng-gorengan dari kentang yang ditusuk seperti sate, ada kue-kue yang dibungkus plastik, ada nasi kuning dan ada juga yang menjual stiker. Semua jajanan tersebut adalah upaya untuk mengumpulkan donasi untuk warga Bulogading,salah satu penjaja ku Tanya soal kemana donasi tersebut diperuntukkan, lalu dengan fasih sang ibu berambut pendek itu menjelaskan bahwa uang dari donasi akan dikumpulkan dan digunakan untuk keperluan gugatan balik kepada penggugat sebelumnya, ia menambahkan bahwa jumlahnya cukup besar lalu sambil mengembailkan uang kembalianku ia mengatakan “keadilan sangat mahal dinegeri ini nak”, lalu aku senyum dan mengambil uang kembalianku. Satu bungkus kue dan dua tusuk sate kentang kubeli, lalu aku duduk pada sebuah terpal yang telah disediakan sambil menikmati sang pembawa acara yang terus-menerus memperkenalkan kegiatan ini kepada para pengunjung.

Magrib telah usai, sang pembawa acara mulai memanggil pengisi acara. Satu persatu mereka naik, awalnya dimulai dengan penampilan anak-anak kecil yang berpakaian beragam sambil menyanyikan lagu Indonesia raya dan lagu Merdeka, entah apakah disengaja atau tidak rasa-rasanya menyindir saja bahwa mereka yang sebenarnya sedang tidak merdeka menyanyikan lirik-lirik kemerdekaan dengan senyum bahagia khas anak-anak. Setelah itu, seorang pemuda berkacamata dengan topi membacakan dua buah puisi tentang masyarakat rimba sambil bermain harmonika, puisi yang cukup panjang ia tuntaskan dengan pesan-pesan didalamnya. Setelah puisi kini kembali warga menampilkan tari-tarian modern dan sebuah drama singkat oleh anak-anak Bulogading tentang penggusuran, sangat satiris.

CNkykR4U8AA21AO

Semakin malam, semakin ramai saja disekitaran dekat panggung. Aku masih ditempatku, tidak ingin beranjak dan sedang menikmati alunan-alunan puisi dari seseorang yang sangat lantang, seolah-olah sangat tegas lewat suara dan isi puisinya bahwa segala macam penindasan harus dilawan, aku dan beberapa pengunjung tak sungkan untuk tepuk tangan, sungguh aku menemukan sesuatu yang berbeda di sini. Aku berdiri, kucari seseorang yang mungkin saja bisamenjelaskan banyak tentangku soal acara ini, lalu aku menemukan seorang pemuda yang sedang diwawancari oleh seorang wartawan. Aku berfikir lebih baik aku mendengarkan saja isi wawancaranya siapa tau saja aku mendapatkan informasi yang lengkap. Sambil mendengarkan alunan lagu-lagu yang dibawakan oleh yang mengatasnamakan para juru parker yang bermusik, aku menangkap bahwa acara ini selain menjadi media untuk berdonasi juga sebagai alat kampanye,menyebarluaskan informasi dan kegelisahan warga Bulogading kepada seluruh masyarakat kota Makassar yang di inisiasi oleh warga dan pendamping warga dari beberapa organisasi dimakassar. Menarik!

Alunan nada dan distorsi berhenti, sang pembawa acara mengambil alih panggung, mulai memanggil beberapa warga dari kampung lain, kudengar nama Pandang Raya, kampung Buloa, kampung Berua dan tanjung merdeka disebutkan dan kulihat beberapa warga dari kampung tersebut diatas panggung dan berbagi kisah dengan para pengunjung dan warga Bulogading sendiri sembari juga memberi semangat dan mendukung upaya perlawanan. Tiba-tiba suasana menjadi riuh, sesame warga saling sahut-sahutan menolak penggusuran,malam yang dingin kini panas dengan semangat perlawanan yang menggebu-gebu.

CNksxvOUwAA6EGD

Mulai kurasakan tenggorokanku mengering, ku beli segelas minuman dingin lalu kembali aku duduk dan menyimak beberapa partisipan orgnasisasi mulai naik kepanggung memberikan orasi politik dan pernyataan sikap atas perintah dari sang pembawa acara, yang kulihat mulai terlihat peluh dan tetes-tetes keringat memantulkan cahaya dari lampu sorot. Segera aku kembali ke tempat dudukku, satupersatu perwakilan organisasi naik menyampaikan argumen tentang penggusuran, penindasan dan menyatakan sebuah sikap untuk terus bersama warga Bulogading menolak penggusuran. Cukup penuh kepalaku pengetahuan tentang penggusuran dikota Makassar dan aku mulai menimbang-nimbang soal keadilan dan pembangunan yang saling bertabrakan.

Anak-anak kecil yang dari tadi berkeliaran didepan panggung, kini berserakan, berlari-lari disekitaran, pengunjung duduk-duduk sambil bercerita, bersenda gurau, orang-orang yang duduk diterpal mulai mengangkat tubuhnya meninggalkan terpal pindah ke kursi-kursi yang mulai kosong. Aku memandang panggung, sang pembawa acara sepertinya akan menutup acara, aku beranjak dari terpalku membelakangi panggung dan sang pembawa acara, masih kudenga ia mengucapkan terima kasih, aku terus berjalan foto-foto dan data-data masih ditempatnya, orang-orang yang hendak pulang singgah sebentar, memandangi mural yang sepertinya telah selesai. Aku ikut memandangi hasil karya anak-anak muda itu, sebuah tulisan besar bertuliskan “save bulogading” dengan beberapa gambar karikatur manusia dan hewan dengan beragam ekspresi wajah. Kucoba-coba menangkap maksud dari mural tersebut dan memuaskan diri dengan karya seni lalu aku beranjak keluar. Sebelum keluar, aku berbalik, memandang keseluruhan isi Bulogading, ada kesan bahwa disini sesuatu yang berbeda kudapatkan. Aku mulai setuju denga perkataan dosenku, bahwa disini dikampung-kampung, dilorong-lorong kecil yang padat kita benar-benar merasakan Indonesia, bukan diluar sana, dijalan-jalan yang ramai akan kendaraan dan bangunan-bangunan besar, lalu yang benar-benar Indonesia ini akan digusur diganti dengan bangunan tinggi, pusat perbelanjaan, tempat hiburan yang semakin bukan Indonesia dan yang terpenting menghilangkan hak mereka para warga Bulogading.

20150829_225540[1]

Sungguh kali ini aku merasakan akhir pekan yang sungguh lain, bukan aku pulang merasa bahagia saja, tapi ada perasaan yang sama yang aku rasakan dengan warga bulogading, perasaan dalam keadaan bahaya di tengah-tengah rimba kota, dampak industrialisasi dan rencana hebat pemerintah kota.

Walk Out Warnai Sosialisasi PTN-BH di Unhas

1435932839346

Pemaparan PTN-BH oleh Pihak Unhas

Perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) merupakan salah satu turunan dari UU no.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi tepatnya pada Pasal 65. Perguruan tinggi yang berstatus PTN-BH memiliki otonomi dalam pengelolaan akademik maupun non-akademik termasuk dalam pengelolaan anggaran. Unhas merasa bangga dengan status ini karena hanya ada 11 dari ribuan universitas yang mampu menyandang status PTN-BH.

Seperti yang kita ketahui Unhas telah berubah status menjadi PTN-BH sejak ditandatanganinya peraturan pemerintah (PP) no. 82 tahun 2014 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 Oktober 2014. Unhas dianggap layak oleh Dikti untuk menyandang status PTN-BH karena dianggap telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan yaitu mutu akademik, tata kelola, program afirmasi dengan masyarakat kurang mampu (beasiswa), dan prestasi mahasiswa.

Setelah menyandang status PTN-BH, salah satu langkah yang dilakukan pihak birokrasi Unhas untuk menyampaikan perubahan status dari BLU menjadi PTN-BH adalah melakukan sosialisasi kepada civitas akademika di Unhas. Sosialisasi tersebut dilakukan pada jumat, 3 juli 2015 di gedung ipteks Unhas.  Di awal sosialisasi tersebut sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Unhas Bersatu memilih untuk melakukan aksi walk out dari forum. Alasannya karena sosialisasi yang dilaksanakan tidak pada waktu yang tepat yaitu ketika mahasiswa sedang memasuki masa liburan dan KKN sehingga sosialisasi yang dilaksanakan jauh dari esensi sosialisasi itu sendiri.

1435932816459

Kurangnya peserta sosialisasi

Sebelum keluar dari ruangan salah seorang perwakilan aliansi unhas bersatu melakukan interupsi. Mantan wakil rektor 3 unhas Ir.Nasaruddin Salam yang saat itu menjadi pembicara mempersilahkan perwakilan tersebut untuk berbicara. Perwakilan aliansi Unhas Bersatu kemudian membacakan pernyataan sikap mengenai sosialisasi yang berlangsung. Salah satu isi dari pernyataan sikap tersebut yaitu anggapan bahwa Unhas tidak pernah transparan dalam hal penetapan aturan atau regulasi yang akan ditetapkan di internal Unhas.

Pada saat berbicara di depan forum, perwakilan aliansi Unhas Bersatu sempat membacakan salah satu ayat Al-Quran yang artinya “hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu”. Setelah membacakan pernyataan sikap, sekitar 30 mahasiswa meninggalkan ruangan atau melakukan aksi walk out dari forum.

Aksi walk out tersebut ditanggapi secara reaksioner oleh pihak birokrasi Unhas. Pembicara pada sosialisasi tersebut mengatakan bahwa para mahasiswa yang walk out justru tidak paham mengenai sosialisasi. Belum lagi para petinggi-petinggi birokrasi Unhas yang duduk berjejer di kursi depan merasa tersinggung dengan pernyataan perwakilan Unhas Bersatu yang dikutip dari Al-Quran. Wakil rektor 3 yang hadir pada sosialisasi tersebut mengatakan akan menindaklanjuti hal tersebut.

Setelah pemaparan oleh mantan wakil rektor 3 unhas Ir.Nasaruddin Salam, salah seorang peserta forum mengajukan pernyataan mengenai ketidaktepatan waktu sosialisasi. Sama halnya dengan pernyataan sikap aliansi Unhas Bersatu, ia menyatakan bahwa sosialisasi yang dilakukan tidak tepat karena mahasiswa sedang libur. Ia pun menyayangkan perkataan yang tidak patut dari salah seorang birokrasi Unhas yang menyatakan bahwa orang-orang yang tidak setuju dengan PTN-BH adalah orang-orang yang terperangkap oleh ketidaktahuan atau kebodohannya mengenai PTN-BH. Menurutnya, pernyataan tersebut tidak patut dalam forum intelektual seperti sosialisasi yang sedang berlangsung.

Sosialisasi yang dilaksanakan ini, diakhiri dengan buka puasa bersama yang sebelumnya diisi dengan pembacaan ayat suci al-Quran dan ceramah singkat dari mahasiswa kebanggan Unhas.

Dengan aksi walk out dan reaksi birokrasi Unhas terhadap aksi tersebut, sekali lagi pihak birokrasi kembali menunjukkan sikap reaksionernya. Apa yang patut dibanggakan dari penyelenggaraan pendidikan yang terlalu reaksioner terhadap kritikan? Selamat kepada Unhas yang telah berstatus PTN-BH, selamat menyelenggarakan pendidikan yang tidak pro-mahasiswa..[de/nh]

PERGERAKAN CABUT UU-PT BERMULA DARI DPRD PROVINSI SUL-SEL

Massa PECAT UU-PT di Fly Over

Massa PECAT UU-PT di Fly Over

Ada yang ribut-ribut di bawah jalan fly over Makassar pada hari kamis 11 juni 2015. Biasanya, di media-media lokal, cuma dua alasan ada orang ribut-ribut. Pertama, mahasiswa yang demonstrasi, dan mahasiswa yang terlibat tawuran. Benar saja, kali ini anak-anak muda Makassar (mahasiswa) ini sedang melakukan aksi demonstrasi.

Mencoba mendekati para demonstran, semakin jelas kelihatan wajah anak-anak muda yang pastinya marah karena ada yang salah dengan kebijakan yang ditelurkan oleh para penguasa. Laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu barisan, bersatu membentangkan spanduk dan memegang pataka yang bertuliskan ungkapan protes terhadap UU Pendidikan Tinggi. Dengan ikat kepala berwarna putih bertuliskan “CABUT UU PT” dan suara lantang khas anak muda, mereka meneriakkan sumpah mahasiswa dan berpanggung orasi untuk menyampaikan kontradiksi-kontradiksi terhadap satu kebijakan yang bernama Undang-Undang Pendidikan Tinggi No. 12 Tahun 2012.

Massa PECAT UU-PT berjalan menuju DPRD Provinsi

Massa PECAT UU-PT berjalan menuju DPRD Provinsi

Anak-anak muda (mahasiswa) yang terdiri dari gabungan lembaga-lembaga di empat universitas di Makassar (Universitas Negeri Makassar, Universitas Islam Negeri Alauddin, Universitas Hasanuddin dan Politeknik Negeri Ujung Pandang) ini menamakan diri mereka “Aliansi PECAT UU-PT atau Pergerakan Cabut UU-PT”. Apa yang disuarakan dalam demonstrasi hari ini adalah upaya lanjutan dari aliansi ini untuk mencabut UU-PT No 12 Tahun 2012 yang isinya mengkhianati undang-undang dasar, mencabut hak-hak konstitusional bangsa Indonesia di bidang pendidikan yang seharusnya diakomodasi dengan baik dan setara tanpa unsur-unsur yang diskriminatif.

Aksi demonstrasi ini awalnya di Fly Over, lalu para massa tersebut berjalan beriringan sambil tetap menghunus spanduk dan pataka perlawanan. Selain berjalan, ada juga massa yang mendorong motor menuju DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Di gedung megah tempat para wakil rakyat bekerja itu, para anak muda ini kembali menggelar panggung orasinya dan sebuah pertunjukan puisi dari seorang massa aksi yang membangunkan kembali ruh semangat para massa yang berpusat di balkon gedung seolah pantatnya masih lebih di atas daripada para wakil rakyat itu.

Tak lama berselang, tiga wakil rakyat, Komisi E Bidang pendidikan menerima para mahasiswa tersebut di pelataran gedung. Intensitas massa naik ketika salah seorang anggota dewan tersebut berucap-ucap tentang kebijakan tersebut yang sepertinya mengisyaratkan kekurangan pengetahuan tentang kebijakan tersebut.

Diakhir negosiasi,  lahir sebuah agenda yang disepakati bahwa wakil rakyat tersebut akan mengundang beberapa elemen yang memiliki keterkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi seperti forum rektor, praktisi pendidikan dan tentunya mahasiswa dari beberapa universitas yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Cabut UU-PT pada hari selasa mendatang.

Massa PECAT UU-PT di Gedung DPRD Provinsi Sul-Sel

Massa PECAT UU-PT di Gedung DPRD Provinsi Sul-Sel

SAMBUT HARDIKNAS; MAHASISWA UNHAS MENOLAK SISTEM UKT

SabtCD9ayCwVEAEBLUEu, 2 Mei 2015 merupakan peringatan hari Pendidikan Nasional, pendidikan yang selenggarakan Negara kepada rakyatnya untuk mendapatkan hak-hak pendidikan yang menyeluruh. Maka dari itu Aliansi Unhas Bersatu menggelar aksi penolakan tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT), aksi yang berlangsung pukul 08.10 di lapangan gedung pusat kegiatan mahasiswa (PKM) yang pada saat yang bersamaan berlansungnya upacara peringatan hardiknas yang dilaksanakan oleh pihak petinggi kampus dalam hal ini rektorat.

Massa aksi yang berjumlah ± 50 orang ini memprotes pemberlakuan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Setelah menyampaikan beberapa orasi ilmiah, kemudian massa aksi bergerak menuju titik aksi yang kedua yakni GOR Unhas dimana sedang berlangsung soft launching yang dirangkaikan dengan pentas seni menyambut hardiknas yang dilaksanakan oleh pihak rektorat. Padahal pembanguannya sangat jauh dari kesan jadi. Perubahan yang ada hanyaCD9jIC2UgAAKRjE.jpg large pemberian atap dan lantai semen. Massa aksi yang ingin mendekati GOR ini ternyata dihadang dari pihak keamanan rektorat karena dianggap akan mengganggu tamu yang akan datang.

Kemudian massa aksi menuju pintu 1 unhas. Massa berbaris dibahu jalan sambil memegang spanduk dan membagikan selebaran kepada pengendara yang lewat. Dalam tuntutannya mahasiswa mengkritisi pembagian golongan dalam sistem UKT. Pasalnya jumlah golongan I dan II yang membayar Rp.0 – Rp.750.000,- dibatasi hanya sampai 5% saja. Sementara golongan III berjumlah 35%, selebihnya berada pada golongan IV dan V. Artinya, kesempatan siswa kurang mampu secara ekonomi untuk menduduki bangku kuliah sangat terbatas sehingga pendidikan tinggi hanya bisa diakses oleh golongan tertentu saja. Pukul 11:30 massa aksi kemudian membubarkan diri dan kembali masuk ke dalam kampus. [hen]

CD9q_XNUsAA957ADSC00732

“Kami berduka di tengah amarah yang belum juga mereda”; Sebuah Reportase

IMG_20141129_202641

“Malam ini kami mengirimkan belasungkawa atas meninggalnya Muhammad Arif, warga Pampang yang juga bergabung bersama mahasiswa UMI untuk menyuarakan keberatannya atas kebijakan pemerintah”

Aksi belasungkawa malam ini (29/11) dilaksanakan di pintu satu UNHAS dan dihadiri sekira tiga puluh orang mahasiswa gabungan dari beberapa organisasi di UNHAS; UKPM UNHAS, LAW UNHAS, BEM FS-UH, SEMA FE-UH, Front Mahasiswa Nasional dan mahasiswa yang bergabung atas inisiatif sendiri. Pukul 20:00 WITA, aksi damai puluhan mahasiswa UNHAS itu diisi dengan beberapa varian simbolis yang cukup memaksa para penngguna jalan terus menengok kearah demonstran. Diantaranya, menabur bunga di hadapan foto Muhammad Arif, korban tewas dalam aksi demonstrasi di UMI, 27 November lalu. Selain itu setiap peserta yang hadir juga menyampaikan ungkapan belasungkawanya kepada Muhammad Arif warga Pampang.

IMG_20141129_202729
Selain larut dalam suasana duka, mahasiswa yang hadir dalam aksi tersebut juga menyampaikan kecaman dan kekecewaannya terhadap perlakuan aparat kepolisian yang sudah melewati batas, serta kebijakan pemerintah yang menjadi titik api dari segala gejolak sosial yang terjadi di dalam negeri, terkhusus di makassar. Mereka juga menyampaikan protes mereka dalam bentuk simbolis memakamkan lambang Kepolisian Republik Indonesia sebagai tanda bahwa fungsi kepolisian untuk mengayomi dan melayani masyarakat telah mati, dan berbalik menjadi ancaman bahaya bagi masyarakat dan mahasiswa yang ingin menyuarakan aspirasinya. Lagu-lagu perjuangan serta lantang teriakan sumpah mahasiswa tidak luput menegiringi semangat mereka yang hadir dalam demonstrasi.

IMG_20141129_205139
Tepat pukul 21:15, puluhan mahasiswa UNHAS yang melakukan demonstrasi tersebut membubarkan diri layaknya sebuah acara pemakaman. Secara bergantian menabur bunga lalu meninggalkan makam “lambang institusi POLRI” dengan lilin menyala yang mengelilinginya.

%d blogger menyukai ini: