LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Prees Release (Laman 2)

Category Archives: Prees Release

“Kadaluarsa” Kebenaran Dalam Putusan Pengadilan

Oleh : Muhammad Rusydi Ashri

PTUN 5

(Kamis/28 Juli 2016) Setelah melakukan prosesi ritual Appasili’ guna memohon do’a kepada pemilik lautan di dermaga Kayu Bangkoa, Puluhan Warga Lae-Lae mendatangi Pengadilan Negeri Tata Usaha Negara Makassar di Jalan Pendidikan membawa harapan putusan pengadilan nantinya memihak kepada keadilan bagi rakyat dan lingkungan.

PTUN 4.jpg

Ritual Appasili’ oleh warga lae-lae di dermaga kayu bangkoa

Sidang gugatan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) terhadap Gubernur Sulawesi Selatan (Sul-Sel) sebagai tergugat I dan PT. Yasmin Bumi Asri sebagai tergugat II, atas Izin Pelaksanaan Proyek Reklamasi Center Point Of Indonesia (CPI) telah memasuki agenda Pembacaan Putusan. (lebih…)

Press Release Aksi Demonstrasi Aliansi Unhas Bersatu menyambut Hardiknas

Aliansi Universitas Unhas Bersatu menolak dengan tegas pemberlakukan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). UKT adalah turunan dari Undang-Undang Perguruan Tinggi Negeri (UU-PT) yang menitikberatkan partisipasi masyarakat untuk menanggung biaya kuliah dalam rangka menutupi biaya operasional Pendidikan Tinggi. UKT merupakan bentuk pembayaran dengan model subsidi silang: Yang kaya mensubsidi yang miskin. Jadi, pembayaran uang kuliah mahasiswa ditentukan oleh kemampuan ekonomi orang tua atau wali mahasiswa yang membiayainya. Dari sini, pembayaran mahasiswa dibagi kedalam 5 golongan.

Golongan I membayar Rp.0 – Rp.500.000,-, golongan II Rp. 600.000,- untuk non eksakta dan Rp. 750.000,- untuk golongan eksakta. Golongan III Rp. 1.750.000,- untuk non eksakta dan Rp. 2.000.000 untuk golongan eksakta. Golongan IV untuk penerima Bidik Misi membayarkan Rp. 2.400.000,-. Sedangkan golongan V yang diisi oleh mahasiswa Jalur Non Subsidi (JNS) sangat bervariasi mulai dari Rp. 4.000.000,- sampai dengan Rp. 47.500.000, per semester.

Kalau diteliti lebih cermat, sistem UKT ini sesungguhnya membatasi akses dari kalangan yang kurang mampu. Pasalnya, jumlah golongan I dan II dibatasi hanya sekedar minimal 5% (Termaktub dalam Peraturan Kementrian Nomor 73 tahun 2013). Itu artinya, kesempatan golongan I dan II untuk menduduki bangku kuliah terbatas, walaupun nilai yang ia peroleh sama dengan nilai yang diperole_MG_9184h mahasiswa yang mampu secara ekonomi.

Sebagai contoh, di Universitas Hasanuddin (Unhas), hampir seluruh fakultas hanya menampung mahasiswa golongan I dan II sekitar 5-8 persen. Sementara dari golongan III jumlahnya berkisar 30-35 persen, selebihnya berada pada golongan IV dan V. Meskipun golongan I dan II disubsidi oleh golongan IV dan V, tetap saja jumlahnya jauh tidak berimbang. Maka dari itu, pemasukan Unhas untuk tahun setelah diberlakukannya UKT melejit pesat. Sementara mahasiswa semakin tercicik oleh mahalnya biaya kuliah.

Atas dasar itu, momentum Hari Pendidikan Nasional, kami jadikan sebagai langkah untuk kembali mengkampanyekan bahwa sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) beserta regulasi yang mengaturnya seperti Undang_MG_9193-Undang Pendidikan Tinggi (UU-PT) harus ditolak. Mengingat aturan tersebut telah melepaskan tanggung jawab negara terhadap pembiayaan uang kuliah perguruan tinggi. Kami berkesimpulan bahwa Uang Kuliah Tunggal (UKT) adalah upaya membatasi akses kalangan yang berpendapatan rendah dalam mengakses pendidikan tinggi. Apalagi, jumlah penduduk miskin, terkhusus di Sulawesi Selatan, bertambah sebanyak 78 ribu orang per akhir September 2014, dengan jumlah total masyarakat miskin 857 ribu orang. Ini menandakan bahwa pembatasan akses terhadap kalangan yang kurang mampu, dalam hal ini pemberlakuan UKT, mesti ditolak.

SURAT KECAMAN TERBUKA

Kepada :
Kepala Negara Republik Indonesia
Kepala Polisi Republik Indonesia
Kepala Polisi Daerah Sul-Sel-Bar
Panglima Kodam VII/Wirabuana

Pada hari kamis 13 november 2014, aparat kepolisian menyerbu masuk kedalam kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Memukul mundur mahasiswa yang sedang melakukan aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah mengurangi subsidi BBM di depan kampusnya. Tidak hanya itu, di dalam kampus, aparat kepolisian melakukan pengerusakan terhadap fasilitas kampus, merusak semua kendaraan yang berada di sekitaran gedung Phinisi UNM, dan memukul rata setiap mahasiswa yang ditemuinya, perempuan ataupun laki-laki. Bahkan wartawan yang berada di lokasi pun tidak lolos dari ke-brutalan aparat. Berita TV maupun online seketika ramai menampilkan foto salah seorang wartawan yang berdarah kepalanya akibat pukulan aparat kepolisian. Aparat kepolisian juga membabi buta menembaki mahasiswa yang sedang menjalani proses perkuliahan di ruang kelas dengan gas air mata, lalu menampar dosen yang sedang mengajar di kelas tersebut. yang paling miris adalah wakil dekan salah satu fakultas di kampus itu pun di seret-seret layaknya saat polisi menyeret seorang kriminal.
Selang sehari setelah kejadian itu, beberapa polisi yang diperiksa mengaku bahwa tindakan tersebut adalah atas perintah atasan yang terkena anak panah saat bertugas mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa. Fakta lain terkuak di media beberapa hari setelahnya. Polisi berhasil menangkap seorang bocah SMP yang telah dipastikan sebagai pelaku pemanahan. Bocah itu juga mengaku bahwa polisi menyuruhnya membawa busur untuk memanahi mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi.
Belum selesai sampai di situ, Jauh-jauh hari sebelumnya, Pada tanggal 27 oktober 2014, aparat kepolisian juga terlibat dalam peristiwa di Takalar saat PTPN berusaha merebut tanah-tanah milik petani yang menjadi anggota dalam Serikat Tani Polongbangkeng (STP) Takalar. Dengan persenjataan lengkap, mengawal PTPN melakukan perebutan lahan petani, bahkan—data terakhir yang kami peroleh—polisi juga menangkapi dua (2) orang anggota STP Takalar tanpa melalui prosedur yang jelas.
lagi, pada tanggal 6 November 2014, polisi menembakan peluru karet kepada mahasiswa Universitas Indonesia Timur yang sedang melakukan aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah mengurangi subsidi BBM. Dalam deretan aksi demonstrasi setelahnya yang dilakukan oleh berbagai kampus dimakassar, beberapa stasiun TV nasional maupun lokal menayangkan ulah polisi yang sedang melakukan pemukulan brutal terhadap mahasiswa yang berdemonstrasi. Bahkan beberapa pimpinan mahasiswa dan puluhan mahasiswa lainnya pun ditangkap saat sedang melakukan demonstrasi.
Lebih ironis lagi, dari serangkaian peristiwa tidak-biasa seperti di atas, pemerintah pusat belum juga mengambil langkah yang tegas atau sekedar mengeluarkan pernyataan untuk merespon resonansi gerakan sosial di Makassar yang kian membesar. Pemerintah tidak pernah memberi informasi memadai untuk memberi pemahaman yang merata dan merakyat kepada seluruh lapisan masyarakat. Informasi mengenai kebijakan pemerintah mengenai subsidi BBM hanya dapat diakses dan dipahami oleh kalangan berpendidikan.
Di tempat berbeda, Selasa 18 November 2014. Pukul 23:40 WITA, mahasiswa yang sedang beraktifitas bergegas mengosongkan kampus karena mendengar kabar bahwa anggota TNI (Cavaleri) hendak melakukan penyisiran dikampus. Berdasarkan risil media, anggota TNI hendak mencari pelaku kerusuhan di pintu satu UNAHS sore tadi. Sekelompok masyarakat yang mayoritas seusia anak SMA menyerang beberapa mahasiswa UNHAS yang sedang melakukan aksi demonstrasi. Sampai ekskalasi bentrok semakin tinggi, polisi tidak terlihat mengamankan situasi demonstrasi. Akibatnya, dua mahasiswa terkena busur dan dilarikan ke UGD. Sampai tengah malam, data dari salah satu media kampus UNHAS, 15 sepeda motor mahasiswa terbakar dan 2 mobil dirusak. Masjid kampus juga ikut dirusak oleh ‘warga’.
Dari serentetan fakta peristiwa yang telah dipaparkan, kami LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNIVERSITAS HASANUDDIN;

1.DENGAN KERAS MENGECAM SEGALA BENTUK TINDAKAN BRUTAL YANG DILAKUKAN OLEH APARATA KEPOLISIAN TERHADAP MASYARAKAT PETANI POLONGBANGKENG TAKALAR, DAN MENUNTUT AGAR APARAT KEPOLISIAN SEGERA MENARIK PASUKANNYA YANG BERSENJATALENGKAP DARI TANAH MILIK PETANI.

2.DENGAN KERAS MENGECAM SEGALA BENTUK TINDAKAN BRUTAL APARAT KEPOLISIAN TERHADAP MAHASISWA YANG MELAKUKAN AKSI DEMONSTRASI MENOLAK PENGURANGAN SUBSIDI BBM

3.DENGAN KERAS MENGECAM TINDAKAN BARBAR APARAT KEPOLISIAN YANG MEMBATASI RUANG-RUANG PENYAMPAIAN ASPIRASI LANGSUNG OLEH MAHASISWA.

4.DENGAN KERAS MENGECAM TINDAK PELECEHAN APARAT KEPOLISIAN YANG TELAH MENCIDERAI INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI.

5.DENGAN KERAS MENGECAM PEMIMPIN NEGARA YANG MELAKUKAN PEMBIARAN ATAS SITUASI GEJOLAK SOSIAL YANG TERJADI DI MAKASSAR

6.DENGAN KERAS MENGECAM PEMIMPIN NEGARA YANG TELAH MENGORBANKAN CITRA INSTITUSI PENDIDIKAN DAN KEPOLISIAN DALAM POLEMIK RENCANA KEPUTUSAN MENGURANGI SUBSIDI BBM.

7.DENGAN KERAS MENGECAM APARAT KEPOLISAN YANG MELAKUKAN PEMBIARAN ATAS TINDAK PENGERUSAKAN YANG DILAKUKAN OLEH PIHAK YANG MENGATASNAMAKAN DIRI WARGA DI DALAM AREA KAMPUS UNHAS.

8.MENUNTUT AGAR APARAT TNI MENGHENTIKAN PENYISIRAN DI DALAM KAMPUS UNHAS.

9.MENGECAM KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG MENAIKKAN HARGA BBM SEBAGAI SEBAB DARI BERBAGAI TINDAK KEKERASAN DAN PENGERUSAKAN OLEH APARAT KEPOLISIAN BESERTA PREMAN.

Hari Ini tertanggal 24 September!

22-TanahiniKamiPunya-2011

Kepada siapapun yang membaca surat ini,

utamanya diri si penulis surat ini.

Apa kabarmu? Tidak, aku tak mencoba berbasa basi. Aku benar-benar ingin mengetahui kabarmu. Ya..jika engkau tetap mengunci mulutmu, tak apalah..kuharap engkau tetap menguncinya dalam keadaan melengkung (senyum). Oh ya, jika berkenan mari duduk santai sejenak sembari membaca surat yang kutujukan padamu dan diri sendiri. Perkenankan saya menceritakan tentang hariku, boleh?. Ini bukan surat tentang aku, aku, dan aku. Surat ini tentang seorang, beberapa orang, tentang ide-ide, atau katakanlah tentang indahnya hidup. aku hanya menyajikan ‘hariku’ sebagai pembanding saja. Bukan untuk mencari mana yang lebih baik atau canggih layaknya produk sering dibandingkan dengan yang lain untuk mencari pembeli. Perbandingan disini untuk mengingatkanku mungkin juga engkau, menghargai hari.

Pagi-pagi muda, aku telah bersiap menghadapi hari. Mulai hari ini aku berjanji akan bengun lebih pagi, alasannya sederhana, pagi sangat singkat, sungguh!. Entah mungkin karena pohon-pohon yang menyambut pagi dengan embunnya semakin ‘diasingkan’, juga jumlah kendaraan motor berkaki dua atau empat yang ‘beranak-pinak’. Jadi, sebelum pagiku dirampas, aku bersikeras bangun pagi untuk menikmatinya. Tak jauh dari kota, mereka telah bangun lebih pagi, menyiapkan bekal untuk seharian di sawah. Seorang kawan pernah bercerita kira-kira seperti ini “pantas saja ketika kecil dan tidak menghabiskan makanan (nasi), orangtua kita kemudian memarahi, bahkan mencubit, ternyata setelah saya mencoba menanam padi sungguh jauh berbeda dari bekerja dibelakang meja. Menanam padi jauh lebih sulit karena kita harus membungkuk seharian. Anehnya, mereka para petani tak pernah mengeluh, dan kita yang bekerja diruang berAC dan hanya duduk manis sering mengeluh.” Jadi mengenai pagiku dan paginya?, simpulkanlah.

Oh ya, aku tinggal di Makassar sebuah kota besar di Indonesia yang sangat bersemangat menjadi kota dunia. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya cuacanya begitu panas, jangan berharap nyaman, dan tenang, engkau pasti akan gelisah dan menjadikan ruang berAC sebagai primadonna. Bagiku, mandi adalah jalan segar menghadapi panasnya cuaca, namun hari ini air tak kunjung mengalir sedari malam tepatnya. Entahlah, mungkin karena ‘korupsi air’ oleh sang pejabat yang ingin dihormati. Ahhhh!!! Teriakku dalam hati dan mengumpat sedalam mungkin. Jika tak ada air, aku tak akan mandi, tak segar, tak bisa berdandan bak bintang film, dan tentunya bau. Di sisi lain, ketika tak ada air mengalir untuk sawahnya, mereka akan pusing tujuh keliling, ah mungkin delapan keliling. Bagaimana tidak pusing, jika air tak ada, mereka akan memberi ‘minum’ apa untuk tanaman-tanamannya yang sedang tumbuh. Jika tanamannya tak tumbuh, maka mereka akan makan apa? Tidak hanya itu, seisi desa dan kota akan makan apa?. Ya…tanaman seperti sayuran, padi, dan lainnya tumbuhnya di desa, jika ke kota (seperti di sini) engkau akan mendapatkan beton yang tertumpuk tertanam. Anehnya di negara ini, meski mereka mati-matian menyediakan pangan, negeri ini bergantung pada 100 persen impor gandum, 78 persen kedelai, 72 persen susu, 54 persen gula, 18 persen daging sapi, dan 95 persen bawang putih (Kompas, Khudori). Jadi, mengenai soal air tak ada, kisah mana yang lebih keren?.

Ketika hendak meninggalkan rumah menuju suatu tempat, aku kembali dibuat kesal dengan jalan dikompleks yang semakin menyempit, dan kemacetan berkepanjangan di jalan raya. Ruang lebih seperti pelebaran jalan atau menggusur tempat sang tak berpunya menjadi ‘solusi cetek’ para pemangku kekuasaan. Ruang lebih dibutuhkan untuk membangun pabrik atau gedung besar, membangun rumah lebih besar dan parkiran untuk 2 atau 3 mobil tiap rumah, juga untuk wadah bagi kendaraan bermotor yang menjamur di jalan raya. Di belahan tempat dan waktu lain, mereka tak pernah menuntut pelebaran lahan (ruang), mereka hanya menuntut tanahnya (mother of life) tidak dirampas. Mereka tak egois sepertiku, tanah mereka tidak hanya dari ibu ke anak cucunya, tetapi tanahnya jauh lebih bermanfaat bagi seisi desa, kota, bahkan dunia. seorang kawan, Ellung yang juga Direktur LAW, bercerita tentang mereka yang dirampas tanahnya tepatnya di Takalar. Kurang lebih seperti ini: “ketika tanah mereka dirampas oleh sebuah perusahaan, seorang ibu harus memutar otaknya agar dapat memberi makan anaknya. Tapi makanan dari mana? Lahannya sudah dirampas. Ketika anaknya meminta makan, sang ibu berpura-pura memasak dengan merebus kerikil sehingga sang anak mengiyakan ibunya sedang memasak. Sembari menanti, sang anak akhirnya ketiduran dan melupakan perutnya yang kosong. Begitulah cara sang ibu menenangkan anaknya. Kisah yang lain, sepasang suami istri harus berjalan kaki sangat jauh dari Takalar ke sungai je’ne berang, Gowa demi bekerja karena lahannya telah dirampas. Kerjaannya adalah mengambil pasir, jadi sang suami menyelam dan akhirnya tuli karena terlalu sering kemasukan air, sedangkan kaki sang istri hancur, kini sepasang pejuang itu telah tiada.”. faktanya, akuisisi lahan pertanian di negara berkembang sejak 2006 mencapai 15 hingga 20 juta hektar atau seluas setengah Eropa yang tujuannya bukan untuk akses pangan rakyat setempat, tetapi untuk kepentingan investor asing (Food Policy Research:2009). Anehnya, meski lahan ku tak dirampas, saya dan mungkin engkau malah menjelma menjadi perampas tanah. Jadi, kisah mana yang lebih, hmmm…buatlah pendapatmu.

Kuharap surat ini dapat menyentuh sanubariku dan sanubarimu, jika belum, bacalah lebih dari sekali, jika masih juga belum tersentuh, tataplah makananmu hari ini, dan bertanyalah darimana asalnya? Siapakah yang menanamnya?. Oh ya, sebelum berlalu, aku ingin menyatakan bahwa hari ini sungguh special, sangat special. Meski tak dirayakan bak pentas musik di acara TV. Hari ini special karena menjadi pengingat dan sumbu utama dalam membagi kebahagiaan dan perjuangan menghapuskan kelaparan, ketimpangan, dan hal lain yang membuat sombong. Hari ini, 24 September 2014 ku ucapkan padamu sang pejuang dan penyelamat, para petani..terima kasih dan bahagialah selalu…

Selamat Hari Tani Nasional

Makassar, 24 September 2014

Abdullah FIkri Ashri (Koord.Riset & Strategis LAW UNHAS)

Aksi Tolak Kekerasan Akademik di STIKes Mega Rezky

Jumat, 2 Agustus 2013. Aliansi Mahasiswa STIKes Mega Rezky  melakukan demonstrasi di kampusnya. Tepatnya pukul 09.05 Wita, massa aksi mulai berdatangan di titik kumpul. Massa yang berjumlah puluhan orang, melakukan aksi secara damai. Saat pukul 10.05 Wita, terlihat 1 orang TNI dan 2 orang polisi berada di titik aksi. Pukul 10.38 Wita massa aksi berjalan menuju titik aksi di depan kantor rektorat. Keadaan kampus mulai terjaga, semua akses masuk kedalam kampus tertutup.

Beberapa media yang mencoba masuk ke kampus untuk meliput, dilarang oleh pengamanan kampus. Bahkan beberapa massa aksi lainnya, juga tidak dapat masuk ke dalam kampus bergabung bersama massa aksi.

Orasi politik terus disampaikan oleh setiap perwakilan lembaga kemahasiswaan STIKes Mega Rezky. Lembaga kemahasiswaan yang terlibat dalam Aliansi Mahasiswa STIKes Mega Rezky. Diantaranya, MAPERWA, HMJ S1 Keperawatan, HMJ Kebidanan, Himpunan Mahasiswa Farmasi, UKM Olahraga, UKM KSR PMI Unit 123, UKM KOPMA dan UKPM. Aksi sempat dihentikan sejenak pukul 12.01 Wita dan dimulai setelah sholat jumat pukul 14.07 Wita.

Saat pukul 14.48 Wita, pihak birokrasi baru mau menerima negosiasi. Kawan Itol yang sebagai tim negosiator mencoba melakukan negosiasi. Pihak birokrasi yang di wakili oleh PUKET IV mengatakan bahwa, “Kami mau melakukan Negosiasi dan kami telah menyediakan tempat untuk bernegosiasi, tetapi ada dua persyaratan:

  1. Negosiasi bisa dilakukan apabila ada Presiden BEM.
  2. Yang dapat bernegosiasi hanya 1 orang perwakilan dari tiap lembaga kemahasiswaan.

Pernyataan itu ditanggapi oleh Kawan itol yang sebagai salah satu tim negosiasi, meminta agar hanya lima orang saja yang mewakili negosiasi itu, karena kami telah membentuk tim negosiasi, serta kami tidak mau melibatkan Presiden BEM dalam bernegosiasi, dia adalah milik birokrasi bukan milik mahasiswa. Tawaran bernegosiasi yang kami berikan kepada civitas akademika yang diwakili oleh PUKET IV, kembali mereka pertimbangkan dan bahkan tidak menerima tawaran itu.

Pukul 15.20 Wita, massa aksi sepakat bubar dan akan kembali melakukan aksi selanjutnya setelah ramadhan. Beberapa menit kemudian setelah massa aksi bubar, pihak birokrasi langsung mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang Drop Out (DO) kepada enam mahasiswa yang terlibat dalam aksi tadi. Diantaranya, M.Irsyad Syafar (Itol), Furqan Majid, Rahma Yureka, Gilang Tiarasari, Takbir dan Imran Majid. Sesuai dengan SK yang tertera, alasan keenam mahasiswa yang di DO karena melanggar kode etik. Padahal sesuai dengan gambaran kronologi Aksi, yang dimulai dari pukul 10.38 – 15.20 Wita, aksi berlangsung secara damai.

 

 

Tuntutan aksi Aliansi Mahasiswa STIKes Mega Rezky sebagai berikut:

  1. Pengenalan program studi (PPS) dilaksanakn sepenuhnya oleh lembaga kemahasiswaan.
  2. Mendesak ketua STIKes Mega Rezky Makassar untuk menyelesaikan masalah yang ada dikampus, yaitu :
    1. Memperjelas dana lembaga kemahasiswaan.
    2. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana kampus.
    3. Menghentikan pungutan liar seperti yang terjadi di Jurusan Kebidanan tingkat 3.
    4. Hentikan Intervensi birokrasi untuk larangan berorganisasi kepada mahasiswa.
    5. Wujudkan kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi di kampus.

 

 

 

Bersolidaritas dalam Aksi MARAK Cabut UU PT!

Marak

Sidang lanjutan Judicial Review akan dilanjutkan tanggal 30 mei 2013.
Aliansi Makassar Bergerak Cabut UU PT (MARAK Cabut UU PT) akan mengadakan aksi digedung DPRD SULSEL, pada hari tersebut, pukul 10.00..

Mari bergabung!

Sebab pendidikan berkualitas dan terjangkau harus kita perjuangkan! Stop industrialisasi dan komersialisasi pendidikan!

(BEM MIPA Unhas, BEM Sastra Unhas, LAW Unhas, FMN, Aliansi UNM, MAPAN STMIK, HIMAHI, BEM STIKES Mega Rezky, AMPERA, BEM FKIP UVRI, HIMASIPOL AKBA, BEM FE UVRI, BEM FSH UIN, KPMKT cabang Makassar, HMJ kebidanan Mega Rezky, GP)

Kronologis Kejadian PENYERANGAN FAKULTAS SASTRA

Jum’at 3 Mei 2013 Pukul 23:32 Makassar terjadi penyerangan oleh 5-6 orang tak di kenal di halaman fakultas sastra, kejadian tersebut terjadi pada pukul 23:30. Menurut saksi mata, salah seorang dari mereka teriak dalam bahasa makassar “assulu’ku kabulamma’ nai rewana sastra”.

Aksi penyerangan ini disinyalir ingin membongkar posko solidaritas anti kekerasan akademik (AMUK), yang di lakukan oleh sejumlah mahasiswa unhas, dalam rangka mengadvokasi 6 mahasiswa sastra yang sedang terkena kekerasan akademik yang dua diantaranya telah mendapat SK skorsing.

Dalam aksi penyerangan tersebut, seorang mahasiswa bernama Fahriansyah Iskandar, mahasiswa Sastra Inggris 2010 menjadi korban tusukan benda tajam tepat di pundak hingga menembus tulangnya.

Menurut keterangan Salah satu dari teman korban yang berada tidak jauh dari korban, melihat korban di giring kearah yang tak dapat di jangkau dari teman korban kemudian Pelaku mendorong,menggertak korban kearah bawah tangga, secara bersaman, pelaku lainnya masuk ke koridor mencari mahasiswa.

Merasa gelisah, besse’ teman korban pun keluar dari sekertariat perisai bersamaan dengan sekumpulan mahasiswa (Pencinta Alam) PA EDELWEIS yang sedang Mubes, tuk memastikan korban baik-baik saja. Setelah keluar, teman korban melihat pelaku yang berbeda memegang senjata rakitan dan teman dari pelaku memegang senjata tajam serta bersiap menyalakan senjata rakitan tersebut yang diarahkan ke koridor sastra, dua pelaku lain dengan senjata tumpul(balok-balok) memecahkan kaca sekertariat salah satu himpunan mahasiswa jurusan (HMJ PERISAI).

Sekumpulan mahasiswa PA EDELWEIS pun melihat kearah senjata rakitan dan sedikit panic dan berlarian, merekapun mencari bantuan teman-teman mahasiswa yang berada di kampus saat kejadian. Pelaku mundur membakar senjata rakitan tersebut dan siap meledakkannya, mengarah ke HMJ PERISAI sebelum meledakkannya kearah langit-langit pelataran HMJ PERISAI.

Setelah meledakkan senjata pelaku pun kabur,dan menendang salah satu motor mahasiswa yang terparkir di depan TKP serta lari kearah parkiran sastra dan kembali menjatuhkan motor-motor yang mereka lalui.

Di tempat berbeda tidak jauh dari kejadian Mahasiswa yang merasa panik mendengar ledakan senjata rakitan, lari kesumber suara ledakan senjata tersebut yang masih meninggalkan bau ledakan senjata pelaku.

Setelah kejadian tersebut sedikitnya 5 motor di rusak, kaca himpunan HMJ PERISAI di pecahkan, serta kaca dekanan FIB-UH turut menjadi sasaran amukan preman tak di kenal.

Beberapa kejanggalan yang terjadi terkait perisitiwa penyerangan oleh orang tidak di kenal:

  1. Pada malam itu lampu jalan di sepanjang unhas mati.
  2. Pos SATPAM UNHAS tidak terdapat petugas yang berjaga (kosong)
  3. Sebelum kejadian dua orang satpam berboncengan mengecek keadaan di fakultas sastra
  4. Setelah kejadian menurut keterangan mahasiswa sastra yang melintas di sekitar rektorat, terdapat konsentrasi SATPAM.
  5. Pelaku penyerangan bergerak dari arah parkiran sastra kemudian berjalan ke posko AMUK lalu kemudian menuju kea rah himpunan sastra (seolah sangat menguasai medan)
  6. Indikasi kuat peristiwa ini di dalangi oleh rektorat.

Beberapa senjata yang di pakai oleh pelaku penyerangan:

  1. orang menggunakan Badik yang kemudian di tikamkan ke korban
  2. Seseorang menggunakan senjata rakitan (Papporo) di tembakkan ke arah korban
  3. Enam pucuk Parang (di pakai untuk mengancam korban)
  4. Beberapa batang balok balok (di pakai untuk memecahkan kaca)

Berdasarkan perisitiwa tersebut kami mahasisiwa fakultas sastra beserta Aliansi Mahasiswa untuk Keadilan (AMUK) mengecam:

  1. Tindakan beringas yang dilakukan oleh sekelompok orang tak di kenal
  2. Tindak pengamanan kampus (SATPAM) yang tidak sigap
  3. Mendesak pihak berwajib untuk mengusut tuntas aksi kekerasa tersebut
  4. Mengecam tindak kejahatan terstruktur dari pihak rektorat
  5. Mendesak untuk menindak secara tegas aksi aksi premanisme yang banyak meresahkan warga terkhusus di UNHAS.

 

Sumber: Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa untuk Keadilan (AMUK)

Aksi Represif Satpam dan Preman Rektorat

Kami mengecam aksi represif  yang dilakukan oleh Satpam dan para Preman Rektorat dalam aksi mahasiswa yang hanya ingin menuntut keadilan dari pimpinan universitas. Aksi soldaritas atas ke-6 teman kami yang diskorsing ini harus berakhir dengan tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang digaji dengan duit mahasiswa.

STOP premanisme kampus!

Kampus bukan lembaga yang didirikan untuk mendidik mahasiswa dengan cara-cara tidak dewasa seperti ini. Keinginan kami hanya sederhana: menuntut kampus berlaku kampus berlaku adil dalam menjalankan proses demokrasi dan edukasinya. Keenam teman dari Fakultas Sastra yang diskorsing dan diancam skorsing dan D.O. hingga saat ini belum diberikan hak-haknya untuk banding. Dan ketika kami memintanya, kami direpresi! Apakah kampus sudah benar-benar menjadi penjara bagi keadilan?

919199_647581085257180_1607904034_o

905238_647581078590514_1006280691_o

476847_647581095257179_946453525_o

478225_647581098590512_1037254529_o

Aksi represi menanggapi demonstrasi AMUK

Intimidasi preman rektorat

Bertahan

Bibir seorang peserta aksi yang berdarah karena aksi represif satpam dan preman rektorat

Preman Rektorat mengintimidasi aksi mahasiswa

FREE OMIH Sekarang Juga!

 

FREE OMIH SEKARANG JUGA!!
PEKERJAKAN KEMBALI 1300 BURUH PABRIK SEPATU ADIDAS DAN MIZUNO PT. PANARUB DWIKARYA .

AYO BERSOLIDARITAS UNTUK BURUH OMIH (ANGGOTA GSBI) YANG DIKRIMINALISASI OLEH PENGUSAHA PT PANARUB (PABRIK SEPATU ADIDAS)

OMIH binti SAANEN adalah buruh Perempuan yang saat ini sedang berjuang bersama 1.300 buruh PT Panarub Dwikarya (PT. PDK) di Kota Tangerang untuk bisa dipekerjakan kembali dan dibayarkannya hak-haknya karena di PHK sepihak sejak tanggal 18 Juli 2012 lalu hanya karena melakukan protes spontan.

Berikut adalah isi surat yang di tulis oleh “OMIH” ketika berada di tahanan Polresta Tangerang di atas secarik kertas obat sakit kepala pada tanggal 30 September 2012:

Untuk Semua maafkan bila ada kesalahanku yang disengaja ataupun tidak, terpaksa aku harus mengakhiri hidupku ini, aku tidak bisa hidup di penjara. Ku harus menemui anakku maafkan aku semuanya bila aku sampai masuk penjara dikenakan 6 tahun akan aku akhiri hidupku hari itu juga, Dari pada di penjara lebih baik aku menemui anakku di akhirat…

Menjelang Hari Tani, 24 September 2012

Kebijakan Pemerintah yang lebih mementingkan investasi modal besar sungguh tidak masuk akal. Dengan 230 juta penduduk dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia saat ini hanyalah sebuah Negara berkembang, memiliki 1600 trilyun utang Luar Negeri, dan 40% penduduknya masih berada di garis kemiskinan. Ada sekitar 30 juta pengangguran, yang mayoritas berada di perkotaan untuk menjadi buruh dengan gaji rendah dan kehidupan yang tidak layak.
Dampaknya adalah benturan yang cukup keras antara kepentingan petani atas tanah dan pengusaha. Salah satunya adalah Konflik Cinta Manis, Sumsel yang telah merenggut nyawa Petani. Di Sulsel, kita masih ingat dengan kasus-kasus yang terjadi pada petani-petani  di Kabupaten Bulukumba yang tanahnya klaim sepihak oleh  PT London Sumatera (Londsum) dan masyarakat adat Kajang, di Kabupaten Sidrap dengan kasus petani berhadapan dengan PT Buli dan PT Margareksa. Di Kabupaten Takalar sengketa tak pernah selesai natara masyatakat dengan PT Perkebunan Nusantara XIV (PT PN XIV). Di Kabupaten Wajo ada kasus di Desa Paselloreng dan Keera antara masyarakat berhadapan dengan  PT XIV. Di  Luwu Utara PT PN XIV berhadapan dengan masyarakat di Uraso. Demikian juga di Gowa, lagi-lagi PT PN XIV bersengketa dengan masyarakat.

Ini terjadi karena pemerintah selalu menyelesaikan konflik dengan pendekatan keamanan. Karena itu, apa yang disampaikan SBY untuk membentuk tim penyelesaian konflik dan tim pencari fakta dalam pidato kenegaraan Agustus kemarin menjadi sia-sia.
Jika kita berkaca pada pembentukan TGPF atas kasus penembakan di Mesuji, Lampung, kita dapat melihat bahwa pembentuk tim tersebut sia-sia belaka. Apa yang direkomendasikan oleh tim tersebut tidak dijalankan sama sekali, padahal rekomendasi tim tersebut bisa dikatakan sangat moderat dan dikritik oleh kelompok masyarakat. Selama kepemimpinan SBY, catatan dari berbagai sumber, sekitar 183 Petani telah tewas, ratusan luka, dan puluhan rumah terbakar.
Menjelang hari tani 24 september 2012, seyogianya Presiden menunjukkan sikap yang lebih jelas dalam menyelesaikan konflik agraria yang ada, yaitu mengeluarkan kebijakan pelaksanaan reforma agrari, membentuk pengadilan agrarian, memberikan subsidi pertanian, dan pelarangan import pangan.
Jika Presiden tidak bersikap tegas, dapat dipastikan konflik agrarian akan terus bermunculan karena situasi ekonomi dunia tidak kunjung pulih. Bencana alam terus terjadi yang menyebabkan produksi pertanian menurun sehingga kebutuhan akan tanah semakin meningkat.

Disadur dari Aliansi Petani Indonesia dengan sedikit penambahan.

%d blogger menyukai ini: