LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Berita Advokasi » Prees Release (Laman 2)

Category Archives: Prees Release

Hari Ini tertanggal 24 September!

22-TanahiniKamiPunya-2011

Kepada siapapun yang membaca surat ini,

utamanya diri si penulis surat ini.

Apa kabarmu? Tidak, aku tak mencoba berbasa basi. Aku benar-benar ingin mengetahui kabarmu. Ya..jika engkau tetap mengunci mulutmu, tak apalah..kuharap engkau tetap menguncinya dalam keadaan melengkung (senyum). Oh ya, jika berkenan mari duduk santai sejenak sembari membaca surat yang kutujukan padamu dan diri sendiri. Perkenankan saya menceritakan tentang hariku, boleh?. Ini bukan surat tentang aku, aku, dan aku. Surat ini tentang seorang, beberapa orang, tentang ide-ide, atau katakanlah tentang indahnya hidup. aku hanya menyajikan ‘hariku’ sebagai pembanding saja. Bukan untuk mencari mana yang lebih baik atau canggih layaknya produk sering dibandingkan dengan yang lain untuk mencari pembeli. Perbandingan disini untuk mengingatkanku mungkin juga engkau, menghargai hari.

Pagi-pagi muda, aku telah bersiap menghadapi hari. Mulai hari ini aku berjanji akan bengun lebih pagi, alasannya sederhana, pagi sangat singkat, sungguh!. Entah mungkin karena pohon-pohon yang menyambut pagi dengan embunnya semakin ‘diasingkan’, juga jumlah kendaraan motor berkaki dua atau empat yang ‘beranak-pinak’. Jadi, sebelum pagiku dirampas, aku bersikeras bangun pagi untuk menikmatinya. Tak jauh dari kota, mereka telah bangun lebih pagi, menyiapkan bekal untuk seharian di sawah. Seorang kawan pernah bercerita kira-kira seperti ini “pantas saja ketika kecil dan tidak menghabiskan makanan (nasi), orangtua kita kemudian memarahi, bahkan mencubit, ternyata setelah saya mencoba menanam padi sungguh jauh berbeda dari bekerja dibelakang meja. Menanam padi jauh lebih sulit karena kita harus membungkuk seharian. Anehnya, mereka para petani tak pernah mengeluh, dan kita yang bekerja diruang berAC dan hanya duduk manis sering mengeluh.” Jadi mengenai pagiku dan paginya?, simpulkanlah.

Oh ya, aku tinggal di Makassar sebuah kota besar di Indonesia yang sangat bersemangat menjadi kota dunia. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya cuacanya begitu panas, jangan berharap nyaman, dan tenang, engkau pasti akan gelisah dan menjadikan ruang berAC sebagai primadonna. Bagiku, mandi adalah jalan segar menghadapi panasnya cuaca, namun hari ini air tak kunjung mengalir sedari malam tepatnya. Entahlah, mungkin karena ‘korupsi air’ oleh sang pejabat yang ingin dihormati. Ahhhh!!! Teriakku dalam hati dan mengumpat sedalam mungkin. Jika tak ada air, aku tak akan mandi, tak segar, tak bisa berdandan bak bintang film, dan tentunya bau. Di sisi lain, ketika tak ada air mengalir untuk sawahnya, mereka akan pusing tujuh keliling, ah mungkin delapan keliling. Bagaimana tidak pusing, jika air tak ada, mereka akan memberi ‘minum’ apa untuk tanaman-tanamannya yang sedang tumbuh. Jika tanamannya tak tumbuh, maka mereka akan makan apa? Tidak hanya itu, seisi desa dan kota akan makan apa?. Ya…tanaman seperti sayuran, padi, dan lainnya tumbuhnya di desa, jika ke kota (seperti di sini) engkau akan mendapatkan beton yang tertumpuk tertanam. Anehnya di negara ini, meski mereka mati-matian menyediakan pangan, negeri ini bergantung pada 100 persen impor gandum, 78 persen kedelai, 72 persen susu, 54 persen gula, 18 persen daging sapi, dan 95 persen bawang putih (Kompas, Khudori). Jadi, mengenai soal air tak ada, kisah mana yang lebih keren?.

Ketika hendak meninggalkan rumah menuju suatu tempat, aku kembali dibuat kesal dengan jalan dikompleks yang semakin menyempit, dan kemacetan berkepanjangan di jalan raya. Ruang lebih seperti pelebaran jalan atau menggusur tempat sang tak berpunya menjadi ‘solusi cetek’ para pemangku kekuasaan. Ruang lebih dibutuhkan untuk membangun pabrik atau gedung besar, membangun rumah lebih besar dan parkiran untuk 2 atau 3 mobil tiap rumah, juga untuk wadah bagi kendaraan bermotor yang menjamur di jalan raya. Di belahan tempat dan waktu lain, mereka tak pernah menuntut pelebaran lahan (ruang), mereka hanya menuntut tanahnya (mother of life) tidak dirampas. Mereka tak egois sepertiku, tanah mereka tidak hanya dari ibu ke anak cucunya, tetapi tanahnya jauh lebih bermanfaat bagi seisi desa, kota, bahkan dunia. seorang kawan, Ellung yang juga Direktur LAW, bercerita tentang mereka yang dirampas tanahnya tepatnya di Takalar. Kurang lebih seperti ini: “ketika tanah mereka dirampas oleh sebuah perusahaan, seorang ibu harus memutar otaknya agar dapat memberi makan anaknya. Tapi makanan dari mana? Lahannya sudah dirampas. Ketika anaknya meminta makan, sang ibu berpura-pura memasak dengan merebus kerikil sehingga sang anak mengiyakan ibunya sedang memasak. Sembari menanti, sang anak akhirnya ketiduran dan melupakan perutnya yang kosong. Begitulah cara sang ibu menenangkan anaknya. Kisah yang lain, sepasang suami istri harus berjalan kaki sangat jauh dari Takalar ke sungai je’ne berang, Gowa demi bekerja karena lahannya telah dirampas. Kerjaannya adalah mengambil pasir, jadi sang suami menyelam dan akhirnya tuli karena terlalu sering kemasukan air, sedangkan kaki sang istri hancur, kini sepasang pejuang itu telah tiada.”. faktanya, akuisisi lahan pertanian di negara berkembang sejak 2006 mencapai 15 hingga 20 juta hektar atau seluas setengah Eropa yang tujuannya bukan untuk akses pangan rakyat setempat, tetapi untuk kepentingan investor asing (Food Policy Research:2009). Anehnya, meski lahan ku tak dirampas, saya dan mungkin engkau malah menjelma menjadi perampas tanah. Jadi, kisah mana yang lebih, hmmm…buatlah pendapatmu.

Kuharap surat ini dapat menyentuh sanubariku dan sanubarimu, jika belum, bacalah lebih dari sekali, jika masih juga belum tersentuh, tataplah makananmu hari ini, dan bertanyalah darimana asalnya? Siapakah yang menanamnya?. Oh ya, sebelum berlalu, aku ingin menyatakan bahwa hari ini sungguh special, sangat special. Meski tak dirayakan bak pentas musik di acara TV. Hari ini special karena menjadi pengingat dan sumbu utama dalam membagi kebahagiaan dan perjuangan menghapuskan kelaparan, ketimpangan, dan hal lain yang membuat sombong. Hari ini, 24 September 2014 ku ucapkan padamu sang pejuang dan penyelamat, para petani..terima kasih dan bahagialah selalu…

Selamat Hari Tani Nasional

Makassar, 24 September 2014

Abdullah FIkri Ashri (Koord.Riset & Strategis LAW UNHAS)

Iklan

Aksi Tolak Kekerasan Akademik di STIKes Mega Rezky

Jumat, 2 Agustus 2013. Aliansi Mahasiswa STIKes Mega Rezky  melakukan demonstrasi di kampusnya. Tepatnya pukul 09.05 Wita, massa aksi mulai berdatangan di titik kumpul. Massa yang berjumlah puluhan orang, melakukan aksi secara damai. Saat pukul 10.05 Wita, terlihat 1 orang TNI dan 2 orang polisi berada di titik aksi. Pukul 10.38 Wita massa aksi berjalan menuju titik aksi di depan kantor rektorat. Keadaan kampus mulai terjaga, semua akses masuk kedalam kampus tertutup.

Beberapa media yang mencoba masuk ke kampus untuk meliput, dilarang oleh pengamanan kampus. Bahkan beberapa massa aksi lainnya, juga tidak dapat masuk ke dalam kampus bergabung bersama massa aksi.

Orasi politik terus disampaikan oleh setiap perwakilan lembaga kemahasiswaan STIKes Mega Rezky. Lembaga kemahasiswaan yang terlibat dalam Aliansi Mahasiswa STIKes Mega Rezky. Diantaranya, MAPERWA, HMJ S1 Keperawatan, HMJ Kebidanan, Himpunan Mahasiswa Farmasi, UKM Olahraga, UKM KSR PMI Unit 123, UKM KOPMA dan UKPM. Aksi sempat dihentikan sejenak pukul 12.01 Wita dan dimulai setelah sholat jumat pukul 14.07 Wita.

Saat pukul 14.48 Wita, pihak birokrasi baru mau menerima negosiasi. Kawan Itol yang sebagai tim negosiator mencoba melakukan negosiasi. Pihak birokrasi yang di wakili oleh PUKET IV mengatakan bahwa, “Kami mau melakukan Negosiasi dan kami telah menyediakan tempat untuk bernegosiasi, tetapi ada dua persyaratan:

  1. Negosiasi bisa dilakukan apabila ada Presiden BEM.
  2. Yang dapat bernegosiasi hanya 1 orang perwakilan dari tiap lembaga kemahasiswaan.

Pernyataan itu ditanggapi oleh Kawan itol yang sebagai salah satu tim negosiasi, meminta agar hanya lima orang saja yang mewakili negosiasi itu, karena kami telah membentuk tim negosiasi, serta kami tidak mau melibatkan Presiden BEM dalam bernegosiasi, dia adalah milik birokrasi bukan milik mahasiswa. Tawaran bernegosiasi yang kami berikan kepada civitas akademika yang diwakili oleh PUKET IV, kembali mereka pertimbangkan dan bahkan tidak menerima tawaran itu.

Pukul 15.20 Wita, massa aksi sepakat bubar dan akan kembali melakukan aksi selanjutnya setelah ramadhan. Beberapa menit kemudian setelah massa aksi bubar, pihak birokrasi langsung mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang Drop Out (DO) kepada enam mahasiswa yang terlibat dalam aksi tadi. Diantaranya, M.Irsyad Syafar (Itol), Furqan Majid, Rahma Yureka, Gilang Tiarasari, Takbir dan Imran Majid. Sesuai dengan SK yang tertera, alasan keenam mahasiswa yang di DO karena melanggar kode etik. Padahal sesuai dengan gambaran kronologi Aksi, yang dimulai dari pukul 10.38 – 15.20 Wita, aksi berlangsung secara damai.

 

 

Tuntutan aksi Aliansi Mahasiswa STIKes Mega Rezky sebagai berikut:

  1. Pengenalan program studi (PPS) dilaksanakn sepenuhnya oleh lembaga kemahasiswaan.
  2. Mendesak ketua STIKes Mega Rezky Makassar untuk menyelesaikan masalah yang ada dikampus, yaitu :
    1. Memperjelas dana lembaga kemahasiswaan.
    2. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana kampus.
    3. Menghentikan pungutan liar seperti yang terjadi di Jurusan Kebidanan tingkat 3.
    4. Hentikan Intervensi birokrasi untuk larangan berorganisasi kepada mahasiswa.
    5. Wujudkan kebebasan berekspresi, berpendapat dan berorganisasi di kampus.

 

 

 

Bersolidaritas dalam Aksi MARAK Cabut UU PT!

Marak

Sidang lanjutan Judicial Review akan dilanjutkan tanggal 30 mei 2013.
Aliansi Makassar Bergerak Cabut UU PT (MARAK Cabut UU PT) akan mengadakan aksi digedung DPRD SULSEL, pada hari tersebut, pukul 10.00..

Mari bergabung!

Sebab pendidikan berkualitas dan terjangkau harus kita perjuangkan! Stop industrialisasi dan komersialisasi pendidikan!

(BEM MIPA Unhas, BEM Sastra Unhas, LAW Unhas, FMN, Aliansi UNM, MAPAN STMIK, HIMAHI, BEM STIKES Mega Rezky, AMPERA, BEM FKIP UVRI, HIMASIPOL AKBA, BEM FE UVRI, BEM FSH UIN, KPMKT cabang Makassar, HMJ kebidanan Mega Rezky, GP)

Kronologis Kejadian PENYERANGAN FAKULTAS SASTRA

Jum’at 3 Mei 2013 Pukul 23:32 Makassar terjadi penyerangan oleh 5-6 orang tak di kenal di halaman fakultas sastra, kejadian tersebut terjadi pada pukul 23:30. Menurut saksi mata, salah seorang dari mereka teriak dalam bahasa makassar “assulu’ku kabulamma’ nai rewana sastra”.

Aksi penyerangan ini disinyalir ingin membongkar posko solidaritas anti kekerasan akademik (AMUK), yang di lakukan oleh sejumlah mahasiswa unhas, dalam rangka mengadvokasi 6 mahasiswa sastra yang sedang terkena kekerasan akademik yang dua diantaranya telah mendapat SK skorsing.

Dalam aksi penyerangan tersebut, seorang mahasiswa bernama Fahriansyah Iskandar, mahasiswa Sastra Inggris 2010 menjadi korban tusukan benda tajam tepat di pundak hingga menembus tulangnya.

Menurut keterangan Salah satu dari teman korban yang berada tidak jauh dari korban, melihat korban di giring kearah yang tak dapat di jangkau dari teman korban kemudian Pelaku mendorong,menggertak korban kearah bawah tangga, secara bersaman, pelaku lainnya masuk ke koridor mencari mahasiswa.

Merasa gelisah, besse’ teman korban pun keluar dari sekertariat perisai bersamaan dengan sekumpulan mahasiswa (Pencinta Alam) PA EDELWEIS yang sedang Mubes, tuk memastikan korban baik-baik saja. Setelah keluar, teman korban melihat pelaku yang berbeda memegang senjata rakitan dan teman dari pelaku memegang senjata tajam serta bersiap menyalakan senjata rakitan tersebut yang diarahkan ke koridor sastra, dua pelaku lain dengan senjata tumpul(balok-balok) memecahkan kaca sekertariat salah satu himpunan mahasiswa jurusan (HMJ PERISAI).

Sekumpulan mahasiswa PA EDELWEIS pun melihat kearah senjata rakitan dan sedikit panic dan berlarian, merekapun mencari bantuan teman-teman mahasiswa yang berada di kampus saat kejadian. Pelaku mundur membakar senjata rakitan tersebut dan siap meledakkannya, mengarah ke HMJ PERISAI sebelum meledakkannya kearah langit-langit pelataran HMJ PERISAI.

Setelah meledakkan senjata pelaku pun kabur,dan menendang salah satu motor mahasiswa yang terparkir di depan TKP serta lari kearah parkiran sastra dan kembali menjatuhkan motor-motor yang mereka lalui.

Di tempat berbeda tidak jauh dari kejadian Mahasiswa yang merasa panik mendengar ledakan senjata rakitan, lari kesumber suara ledakan senjata tersebut yang masih meninggalkan bau ledakan senjata pelaku.

Setelah kejadian tersebut sedikitnya 5 motor di rusak, kaca himpunan HMJ PERISAI di pecahkan, serta kaca dekanan FIB-UH turut menjadi sasaran amukan preman tak di kenal.

Beberapa kejanggalan yang terjadi terkait perisitiwa penyerangan oleh orang tidak di kenal:

  1. Pada malam itu lampu jalan di sepanjang unhas mati.
  2. Pos SATPAM UNHAS tidak terdapat petugas yang berjaga (kosong)
  3. Sebelum kejadian dua orang satpam berboncengan mengecek keadaan di fakultas sastra
  4. Setelah kejadian menurut keterangan mahasiswa sastra yang melintas di sekitar rektorat, terdapat konsentrasi SATPAM.
  5. Pelaku penyerangan bergerak dari arah parkiran sastra kemudian berjalan ke posko AMUK lalu kemudian menuju kea rah himpunan sastra (seolah sangat menguasai medan)
  6. Indikasi kuat peristiwa ini di dalangi oleh rektorat.

Beberapa senjata yang di pakai oleh pelaku penyerangan:

  1. orang menggunakan Badik yang kemudian di tikamkan ke korban
  2. Seseorang menggunakan senjata rakitan (Papporo) di tembakkan ke arah korban
  3. Enam pucuk Parang (di pakai untuk mengancam korban)
  4. Beberapa batang balok balok (di pakai untuk memecahkan kaca)

Berdasarkan perisitiwa tersebut kami mahasisiwa fakultas sastra beserta Aliansi Mahasiswa untuk Keadilan (AMUK) mengecam:

  1. Tindakan beringas yang dilakukan oleh sekelompok orang tak di kenal
  2. Tindak pengamanan kampus (SATPAM) yang tidak sigap
  3. Mendesak pihak berwajib untuk mengusut tuntas aksi kekerasa tersebut
  4. Mengecam tindak kejahatan terstruktur dari pihak rektorat
  5. Mendesak untuk menindak secara tegas aksi aksi premanisme yang banyak meresahkan warga terkhusus di UNHAS.

 

Sumber: Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa untuk Keadilan (AMUK)

Aksi Represif Satpam dan Preman Rektorat

Kami mengecam aksi represif  yang dilakukan oleh Satpam dan para Preman Rektorat dalam aksi mahasiswa yang hanya ingin menuntut keadilan dari pimpinan universitas. Aksi soldaritas atas ke-6 teman kami yang diskorsing ini harus berakhir dengan tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang digaji dengan duit mahasiswa.

STOP premanisme kampus!

Kampus bukan lembaga yang didirikan untuk mendidik mahasiswa dengan cara-cara tidak dewasa seperti ini. Keinginan kami hanya sederhana: menuntut kampus berlaku kampus berlaku adil dalam menjalankan proses demokrasi dan edukasinya. Keenam teman dari Fakultas Sastra yang diskorsing dan diancam skorsing dan D.O. hingga saat ini belum diberikan hak-haknya untuk banding. Dan ketika kami memintanya, kami direpresi! Apakah kampus sudah benar-benar menjadi penjara bagi keadilan?

919199_647581085257180_1607904034_o

905238_647581078590514_1006280691_o

476847_647581095257179_946453525_o

478225_647581098590512_1037254529_o

Aksi represi menanggapi demonstrasi AMUK

Intimidasi preman rektorat

Bertahan

Bibir seorang peserta aksi yang berdarah karena aksi represif satpam dan preman rektorat

Preman Rektorat mengintimidasi aksi mahasiswa

FREE OMIH Sekarang Juga!

 

FREE OMIH SEKARANG JUGA!!
PEKERJAKAN KEMBALI 1300 BURUH PABRIK SEPATU ADIDAS DAN MIZUNO PT. PANARUB DWIKARYA .

AYO BERSOLIDARITAS UNTUK BURUH OMIH (ANGGOTA GSBI) YANG DIKRIMINALISASI OLEH PENGUSAHA PT PANARUB (PABRIK SEPATU ADIDAS)

OMIH binti SAANEN adalah buruh Perempuan yang saat ini sedang berjuang bersama 1.300 buruh PT Panarub Dwikarya (PT. PDK) di Kota Tangerang untuk bisa dipekerjakan kembali dan dibayarkannya hak-haknya karena di PHK sepihak sejak tanggal 18 Juli 2012 lalu hanya karena melakukan protes spontan.

Berikut adalah isi surat yang di tulis oleh “OMIH” ketika berada di tahanan Polresta Tangerang di atas secarik kertas obat sakit kepala pada tanggal 30 September 2012:

Untuk Semua maafkan bila ada kesalahanku yang disengaja ataupun tidak, terpaksa aku harus mengakhiri hidupku ini, aku tidak bisa hidup di penjara. Ku harus menemui anakku maafkan aku semuanya bila aku sampai masuk penjara dikenakan 6 tahun akan aku akhiri hidupku hari itu juga, Dari pada di penjara lebih baik aku menemui anakku di akhirat…

Menjelang Hari Tani, 24 September 2012

Kebijakan Pemerintah yang lebih mementingkan investasi modal besar sungguh tidak masuk akal. Dengan 230 juta penduduk dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia saat ini hanyalah sebuah Negara berkembang, memiliki 1600 trilyun utang Luar Negeri, dan 40% penduduknya masih berada di garis kemiskinan. Ada sekitar 30 juta pengangguran, yang mayoritas berada di perkotaan untuk menjadi buruh dengan gaji rendah dan kehidupan yang tidak layak.
Dampaknya adalah benturan yang cukup keras antara kepentingan petani atas tanah dan pengusaha. Salah satunya adalah Konflik Cinta Manis, Sumsel yang telah merenggut nyawa Petani. Di Sulsel, kita masih ingat dengan kasus-kasus yang terjadi pada petani-petani  di Kabupaten Bulukumba yang tanahnya klaim sepihak oleh  PT London Sumatera (Londsum) dan masyarakat adat Kajang, di Kabupaten Sidrap dengan kasus petani berhadapan dengan PT Buli dan PT Margareksa. Di Kabupaten Takalar sengketa tak pernah selesai natara masyatakat dengan PT Perkebunan Nusantara XIV (PT PN XIV). Di Kabupaten Wajo ada kasus di Desa Paselloreng dan Keera antara masyarakat berhadapan dengan  PT XIV. Di  Luwu Utara PT PN XIV berhadapan dengan masyarakat di Uraso. Demikian juga di Gowa, lagi-lagi PT PN XIV bersengketa dengan masyarakat.

Ini terjadi karena pemerintah selalu menyelesaikan konflik dengan pendekatan keamanan. Karena itu, apa yang disampaikan SBY untuk membentuk tim penyelesaian konflik dan tim pencari fakta dalam pidato kenegaraan Agustus kemarin menjadi sia-sia.
Jika kita berkaca pada pembentukan TGPF atas kasus penembakan di Mesuji, Lampung, kita dapat melihat bahwa pembentuk tim tersebut sia-sia belaka. Apa yang direkomendasikan oleh tim tersebut tidak dijalankan sama sekali, padahal rekomendasi tim tersebut bisa dikatakan sangat moderat dan dikritik oleh kelompok masyarakat. Selama kepemimpinan SBY, catatan dari berbagai sumber, sekitar 183 Petani telah tewas, ratusan luka, dan puluhan rumah terbakar.
Menjelang hari tani 24 september 2012, seyogianya Presiden menunjukkan sikap yang lebih jelas dalam menyelesaikan konflik agraria yang ada, yaitu mengeluarkan kebijakan pelaksanaan reforma agrari, membentuk pengadilan agrarian, memberikan subsidi pertanian, dan pelarangan import pangan.
Jika Presiden tidak bersikap tegas, dapat dipastikan konflik agrarian akan terus bermunculan karena situasi ekonomi dunia tidak kunjung pulih. Bencana alam terus terjadi yang menyebabkan produksi pertanian menurun sehingga kebutuhan akan tanah semakin meningkat.

Disadur dari Aliansi Petani Indonesia dengan sedikit penambahan.

Kultwit Tentang Kontroversi P2MB

  • 1.Awalnya Buku Putih Pengkaderan Unhas sdh direncanakan sejak jauh2 tahun yang lalu #TolakIntervensiBirokrat
  • 2.Dulu oleh purek3 rencananya namanya Buku Putih Pengkaderan #TolakIntervensiBirokrat
  • 3.namun krn trs mndapat protes purek3 urung untuk membuatnya,pdhl DIKTI sjk lama telah meminta agar buku itu ada #TolakIntervensiBirokrat
  • 4.sehingga di penghujung jabatannya beliau melancarkan segenap kemampuannya untuk menggolkan buku tsb #TolakIntervensiBirokrat
  •  5.didukung pula dgn kondisi beberapa LEMA yg diguncang beberapa peristiwa di bid pngkaderan #TolakIntervensiBirokratl
  • 6.sehingga proses transformasi istilah dari pengkaderan ke pembinaan berjalan mulus #TolakIntervensiBirokratl
  • 7.perjalanan buku pedoman P2MB ini pun dimulai sejak bulan juni #TolakIntervensiBirokrat
    8.pada saat tsb semua LEMA diundang pada lokakarya P2MB #TolakIntervensiBirokrat
  • 9.Pada lokakarya tsb sbnrnya dpt ditebak bhw yg akan dilokakaryakan oleh birokrat adalah barang jadi !! #TolakIntervensiBirokrat
  • 10.sehingga pada saat itu hanya ada satu cara untuk menolak yaitu walkout ! #TolakIntervensiBirokrat (lebih…)

Pengkaderan = Pembinaan = P2MB ?

Prinsip Lembaga Kemahasiswaan

adalah dari, oleh, dan  untuk mahasiswa

Pasal 2  BAB I KepMen No.155/U/1998

Salam Perjuangan !!!

Pergerakan dan pengkaderan adalah ruh dari lembaga kemahasiswaan (LEMA), tanpa kedua hal tersebut berarti ada yang salah dengan cita-cita organisasi. Pengkaderan bagi LEMA merupakan jantung organisasi karena dengan pengkaderan yang baik maka akan terbentuk kader-kader yang berkualitas sehingga segala fungsi organisasi dapat berjalan lancar. Penggunaan Istilah PMB sendiri  dimulai sejak tahun 2006, dan kini pihak birokrat makin menguatkan intervensinya dengan menggandeng pembinaan/pengkaderan dalam kegiatan PMB sehingga menjadi P2MB (Penerimaan dan Pembinaan Mahasiswa Baru).

INTERVENSI BIROKRAT

Terbitnya buku merah (Pedoman P2MB) dan begitu banyaknya perubahan istilah bukanlah masalah utama karena pihak birokrat bisa saja mengatur lembaga kemahasiswaan asalkan sesuai dengan kesepakatan (Pasal 6.KepMen No.155/U/1998). Untuk mencapai kesepakatan tentu saja butuh proses terutama untuk masalah yang sensitif seperti pengkaderan. Proses lahirnya buku merah dari birokrat ini diklaim oleh birokrat merupakan hasil kesepakatan sehingga mengikat semua LEMA di Unhas, namun hal ini masih rancu. Kerancuan ini disebabkan karena setelah terbitnya buku merah gelombang penolakan terus mengalir ke pihak birokrat, ini menandakan bahwa sebenarnya belum ada kesepakatan, dan buku merah tersebut beserta isinya merupakan intervensi dan tidak sesuai dengan prinsip LEMA yang sudah termaktub di regulasi yaitu LEMA adalah kelengkapan nonstruktural pada suatu perguruan tinggi. Sehingga organisasi ataupun lembaga kemahasiswaan tersebut harus ada, dan nonstruktural berarti LEMA tidak memiliki jalur apapun baik koordinasi maupun komando ke birokrasi. Apalagi pada Poin 3 Pasal 3 BAB II KepMen No.155/U/1998 yang menyatakan juga bahwa segala kelengkapan/peraturan terkait lembaga kemahasiswaan diatur dalam peraturan tersendiri yang disepakati oleh lembaga kemahasiswaan (AD/ART, GBHO, Format Pengkaderan). Sehingga sangat jelas dan terang benderanglah bahwa dari segi hukum independensi lembaga kemahasiswaan sangat kuat, dan tak ada keraguan untuk melawan segala bentuk intervensi yang dilakukan oleh birokrat !!!

Sampai sekarang KepMen No. 155/U/1998

Tentang : Pedoman Dasar Organisasi Kemahasiswaan

Adalah peraturan tertinggi menyangkut

organisasi kemahasiswaan/lembaga kemahasiswaan

Tulisan dari Nelayan Buloa untuk Dunia

Oleh: NELAYAN BULOA

(disunting oleh : Maula-Aconk)

 

Pembangunan Kota Makassar sebagai salah satu kota dunia kembali memposisikan rakyat sebagai pihak yang tidak menikmati ‘kue’ pembangunan tersebut. Posisi kota Makassar yang terkenal sebagai kawasan maritim merupakan daya tarik sendiri,apalagi di Buloa-Tallo yang sejak jaman Kerajaan Tallo merupakan tempat sandarnya kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia. Namun pandangan pihak pemerintah selama ini yang menganggap bahwa pembangunan kota baru akan memberi dampak bagi perekonomian warga sekitar nampaknya tidak kami rasakan sedikit pun. Bahkan penimbunan laut yang terjadi di sekitar kawasan Buloa sangat mengancam kehidupan kami yang setiap harinya berprofesi sebagai nelayan di sekitar Buloa-Tallo. Penimbunan yang hampir menutupi kampung Buloa tersebut menghalangi jalur melaut kami, para nelayan Buloa-Tallo. Proyek penimbunan laut ini ditenggarai merupakan kegiatan illegal melihat tidak adanya papan pengumuman proyek serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). (lebih…)

%d blogger menyukai ini: