LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » CN MINO

Category Archives: CN MINO

ZAKAT dan KEMISKINAN DI INDONESIA

Oleh : CN MINO

Ramadan telah berakhir, itu artinya semarak ibadah yang ikut melekat di dalamnya pun terhenti sesaat. Ada banyak ibadah yang turut hilang menyertai kepergian ramadan. Diantaranya ibadah puasa, salat tarawih serta zakat. Tetapi diantara deretan ibadah tersebut, ada satu yang sifatnya sangat sosial dan sangat disayangkan ketika harus terputus seperti putusnya rahmat di bulan ramadan. Ibadah itu ialah zakat.

Berbicara mengenai zakat, tahun ini pemerintah melalui lembaga amil zakat telah menargetkan penerimaan zakat sebesar Rp 5 Triliun (Kemenag.co.id). Harapannya, zakat dapat berkontribusi terhadap pengurangan angka kemiskinan di Indonesia.

Sebelumnya, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melansir dokumen pertanggung jawaban terkait dengan penerimaan dan penyaluran zakat. Dari laporannya di ketahui penerimaan zakat untuk tahun 2014 sebesar Rp. 82,947,383,165.39 dengan rincian penyaluran 55.990.121.023.00 sedangkan di tahun 2015 mengalami peningkatan, yaitu Rp. 98. 473.103.020,77 untuk penerimaan dengan total penyaluran Rp 26.600.542.781.00.

Tetapi, angka ini justru berbanding lurus dengan angka kemiskinan di Indonesia. Data yang di luncurkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tahun 2014 angka kemiskinan di Indonesia mencapai 27.727,78 Ribu Jiwa dan mengalami peningkatan di tahun 2015 menjadi 28.513,57 Ribu Jiwa. Dari data ini menunjukkan adanya indikasi yang saling bertentangan. Di satu sisi terjadi peningkatan terhadap penyerapan zakat, sementara di sisi yang lain jumlah kemiskinan juga mengalami peningkatan yang cukup drastis. Padahal semestinya tren kemiskinan menurun jika angka penyerapan zakat meningkat. Fenomena ini sekilas menggelitik, Lantas bagaimana sebenarnya kontribusi zakat terhadap angka kemiskinan di Indonesia?

Menurut penulis sejauh ini kontribusi zakat belum terlalu optimal untuk menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. Hal ini karena beberapa indikasi. Pertama berkaitan dengan faktor kesadaran masyarakat terhadap zakat. Faktor ini berimplikasi pada penyerapan zakat. Selaras dengan itu, hasil penelitian yang dilakukan Baznas menunjukkan bahwa potensi zakat di Indonesia dengan populasi muslim 80 % jika dioptimalkan bisa mencapai Rp 217 Triliun/Tahun. Tetapi saat ini yang mampu terserap hanya Rp 4 Miliar per tahun (Baznas.co.id). Kondisi ini selanjutnya berimplikasi pada tingkat kesenjangan yang semakin tinggi, oleh karena sebagian muslim mengusai sumber ekonomi tetapi tidak tergerak untuk berzakat.

Faktor kedua adanya fragmentasi lembaga amil zakat. Pada tahun 2011 kementerian agama Republik Indonesia telah mencatat setidaknya ada 5.921 BAZ (Badan Amil Zakat)  & 378. 306 UPZ (Unit Penerimaan Zakat), kemudian menjadi 17.763 BAZ dan 1.171.233 untuk UPZ di Tahun 2013 (kementerian agama RI). Kondisi ini tumbuh subur pasca ditetapkannya regulasi No. 23 tahun 2011 yang mengatur tentang pengelolaan zakat yang memperbolehkan perorangan, badan atau lembaga sebagai penerima dan penyalur zakat.  Fragmentasi ini kemudian berlanjut pada distribusi zakat pada masyarakat, dimana hampir masing-masing lembaga zakat memiliki masyarakat binaan. Sehingga penyelesaian masalah kemiskinan sangat spasial sementara kemiskinan yang ada tidak hanya pada satu wilayah saja, tetapi kemiskinan telah melanda di lintas wilayah.

Faktor ketiga, terkait dengan struktur penyaluran zakat. Dewasa ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada penyerahan zakat. Tetapi, publik menjadi fragmatis ketika yang di diskusikan soal target dan sasaran penerima zakat. Seolah dengan menyerahkan zakat ke lembaga tertentu, tanggung jawab telah selesai dan secara bersamaan melimpahkannya kepada lembaga tersebut. Sementara jika diamati, Esensi dari berzakat adalah distribusi zakat kepada Mustahik (orang yang pantas menerima zakat).

Akhirnya, berzakat hanya terhenti pada ritual menggugurkan kewajiban tanpa disertai dengan semangat solidaritas sosial untuk berbagi. Di saat bersamaan fragmentasi terhadap amil zakat memicu persaingan diantara lembaga amil zakat.  Kondisi ini kemudian memicu konflik dan Persaingan antara lembaga amil zakat untuk merebut simpatik para donatur zakat. Implikasinya, semangat zakat untuk berbagi dan menuntaskan kemiskinan berubah menjadi ajang promosi terhadap lembaga amil zakat, sehingga yang dikemas bukan lagi tentang kondisi kemiskinan yang sebenarnya tetapi lebih kepada pencapaian yang sifatnya normative.

Iklan
%d blogger menyukai ini: