LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » JANGAN CENTANG KATEGORI INI

Category Archives: JANGAN CENTANG KATEGORI INI

RILIS AKSI BESAR-BESARAN UNSRI : KAMIS PERLAWANAN

20482373_578488605873969_2547946244060217344_n-1024x1024

Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

Hari ini Sejarah menjadi saksi. Ribuan Mahasiswa Universitas Sriwijaya tumpah ruah memenuhi jalanan Kampus. Berbaris maju dengan damai, datang menemui Pimpinan Universitas hanya untuk menyuarakan aspirasi mengenai UKT dan penonaktifan status 3 orang mahasiswa.

Presiden Mahasiswa kami dan keluarga-nya pun mendapatkan intimidasi yang luar biasa setelah nenerima Surat Dari Rektorat sehingga tidak bisa mendampingi masa aksi.

Aksi yang di mulai Pukul 08.00 WIB dengan tujuan ke Rektorat Universitas Sriwijaya. Ketika sampai di Rektorat, Ternyata tidak ada Rektor di Tempat. Yang ada hanyalah WR 2, WR 3, dan WR 4.

Mahasiswa unsri melakukan audiensi kepada pimpinan Unsriyang ada di tempat menyampaikan tuntutannya namun tidak ada kesepakatan dan rektorat bersikeras menolak tuntutan mahasiswa. Sehingga massa aksi di luar semakin memanas.  Massa aksi mencoba masuk ke dalam rektorat namun di halangi Polisi dan satpam yang berjaga

Terjadi insiden Pecahnya kaca Pintu rektorat sebelah kiri, dan Dengan Tegas kami sampaikan yang memecahkan Kaca pintu tersebut adalah SATPAM UNSRI yang memukul menggunakan pentungan ke kaca pintu sehingga Pecah.

Dalam waktu yang berdekatan, dua Mahasiswa unsri atas nama DEDI SATRIA (Menpolpro) dan Agus Arianto (Menlu) mendapatkan tindakan pemukulan dari oknum polisi dan Karyawan Unsri.

Ini adalah Penghinaan terhadap Mahasiswa!!! Dalam negosiasi pada akhirnya hanya satu tuntutan kami yang di terima yaitu penurunan UKT BM.

Ini bukanlah akhir, Maka dengan tegas Kami Mahasiswa Universitas Sriwijaya menyatakan sikap :

1. Turunkan UKT Mahasiswa semester 9
2. Cabut Laporan Rektorat Unsri terhadap Presiden Mahasiswa Unsri di Polres Ogan Ilir.
3. Normalisasi kembali akun Akademik tiga mahasiswa unsri yang di nonaktifkan oleh rektorat atas nama Rahmat Farizal (Presiden Mahasiswa Unsri), Aditia Arief Laksana (Ketua Kammi unsri), dan Ones Sinus (Ketua GMNI Unsri)
4. Usut Tuntas Insiden Pemukulan terhadap Mahasiswa yang di lakukan oleh Oknum aparat kepolisian Ogan Ilir dan Oknum Karyawan unsri

Dengan Tegas kami tidak berhenti sampai Empat tuntutan kami di terima!!!! Ttd,
Aliansi Mahasiswa Peduli UKT
#TolakUKTFULLSemester9
#SavePresmaUnsri
#StopKriminalisasiMahasiswa
#AspirasiDibalasPemukulan

 

Video Tindakan represif aparat kepada mahasiswa UNSRI !!!

Release aksi besar-besaran: Kamis perlawanan

BELAJAR DARI GRAMSCI; TENTANG MASYARAKAT SIPIL DAN MASYARAKAT POLITIK

Oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat ISCS – Skolastra

Antonio Gramsci ✆ Gabriele Cancedda © Gramscimanía

Source image : http://nacla.org/news/2017/05/28/reading-gramsci-latin-america

 

Dalam Buku Prison Notebooks atau yang lazim disebut Catatan Dari Penjara, Antonio Gramsci menunjukkan sebuah oposisi biner pemosisian masyarakat dalam politik kekuasaan negara. Negara versus masyarakat sipil. Begitu keseringan kita mendengar atau membaca ulasan di berbagai medium. Dalam terminologi Gramsci, disebutkan dengan Masyarakat Sipil versus Masyarakat Politik.

Masyarakat Sipil terdiri dari elemen masyarakat yang dibedakan dengan instrumen kekuasaan negara (masyarakat politik). Elemen masyarakat sipil biasanya terdiri dari Ormas, NGO, CSO, Asosiasi Profesional, Organisasi Pemuda, Parpol, Serikat pekerja, dsb. Sementara masyarakat politik yang terdiri dari elemen penyangga negara dan atau yang berkepentingan dengan kekuasaan negara seperti aparat birokrasi dan militer. (lebih…)

Secuil kisah penolakan Tambang Pasir Laut Takalar

Oleh Nani

Anggota LAW Unhas dan mahasiswi FKM Unhas

 

19554077_477855259232220_7602492825707245768_n

Source : Fanpage Aliansi Masyarakat Pesisir

Rabu (19/7/2017),Gedung PEMKAB Takalar dan DPRD Takalar kedatangan ratusan massa yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Mahasiswa dan Masyarakat Tolak Tambang Pasir Laut. Aliansi ini merupakan gabungan warga Takalar dan berbagai pihak yang menolak tambang pasir laut Takalar, Sulawesi Selatan. Terik matahari menambah bara semangat peserta aksi dan para orator yang meneriakkan aspirasinya. “Tidak ada ikan, ekosistem pun rusak. Kemarin tiga ekor paus sudah jadi korban, Cabut izin prinsip!” pekik salah satu orator di depan kantor PEMKAB Takalar. “Engkau dipilih untuk menyejahterakan rakyat, bukannya untuk menindas kami dengan memberikan izin penambangan pasir!” tambah orator lainnya.

Bentrok sempat terjadi ketika massa aksi akan membakar ban di depan kantor PEMKAB Takalar sebagai bentuk protesnya. Polisi berupa menghalau dengan melakukan dorongan kepada massa aksi, namun situasi kembali dingin setelah ditenangkan masing-masing pihak. Karena tidak mendapatkan sambutan yang baik dari PEMKAB Takalar, massa aksi kemudian bergerak ke gedung DPRD Takalar.  (lebih…)

DIALEKTIKA KONSEP DAN KONTEKS

Oleh Nasrullah Mappatang

Pegiat SEKOLAH SASTRA DAN BUDAYA (SKOLASTRA)

 

sociologia.png

Kita sering tergelincir dalam hal menganalisis sebuah perihal. Banyak pihak sering menganggap melakukan sebuah analisis padahal sebenarnya hanyalah menyampaikan pemasangan berdasarkan subjektivitasnya saja. Dalam arti lain, hanya menyampaikan apa yang ingin dikatakannya saja. Padahal, persoalan analisis adalah persoalan bagaimana sebuah konsep digunakan dalam melihat, memandang, dan atau menilai sebuah konteks persoalan.

Para ahli dalam perihal kebenaran metodis ilmu pengetahuan mengatakan bahwa sebuah analisis dilakukan jika terjadi sebuah masalah. Sementara itu, masalah dalam pengertian ilmu pengetahuan adalah “GAP” antara idealitas konseptual dan kenyataan faktual. Dalam istilah lain, masalah adalah posisi atau jarak antara yang seharusnya dengan kenyataan.

Pertanyaan mengenai apa, bagaimana dan mengapa untuk posisi antara idealitas dengan kenyataan tersebut adalah sebuah pertanyaan penelitian untuk menjawab sebuah (rumusan) masalah dalam rangka menemukan sebuah jawaban melalui sebuah metode yang dianggap sah dalam metodologi ilmu pengetahuan.

Konsep merujuk pada hal hal kerumunan yang disepakati menjadi sesuatu yang ideal. sementara konteks merujuk pada kekhususan kasuistik yang dinilai sebagai sebuah wujud kenyataan. Kesenjangan antara yang ideal dan yang nyata itulah ruang analisis berada. Disitulah teori, dalil, petuah, petatah petitih menemukan ruang untuk digunakan sebagai “alat” analisis.

Proses dan mekanisme/cara penggunaan alat tersebut disebut sebagai metode. Dan, ilmu tentang bagaimana metode tersebut digunakan yang seringkali memuat perihal perspektif dan paradigma disebut metodologi. Sehingga, lazim disampaikan bahwa pemilihan sebuah perspektif dan alat analisis berupa cara pandang, paradigma, serta teori melahirkan sebuah “konsekuensi metodologis”.

Pada akhirnya, kita bisa memahami bahwa dialektika antara konsep dan konteks merupakan sebuah hubungan atau relasi yang saling berkaitan secara dialektika. Konsep teori atau cara pandang sebuah alat analisis akan dinilai tidak relevan lagi atau tidak lagi mampu menyelesaikan persoalan ketika sebuah rumusan masalah pada konteks faktual tidak mampu lagi dijawab oleh sebuah konsep teoritik, dalil, maupun sebuah idealitas ide. Begitupun konteks, konteks dapat ditafsir, dianalisis oleh sebuah konsep lebih dari satu konsep. Tergantung sudut pandang mana ingin dianalisis dan tergantung rumusan masalah apa yang ditanyakan sebagai sebuah pertanyaan penelitian.

Jadi, soal analisis adalah soal bagaimana menjawab kesenjangan antara konsep dan konteks yang mengandung dan menelurkan sebuah “masalah”. Dalam singkat kata, analisis muncul ketika ada persoalan atau permasalahan yang ingin dipecahkan atau ingin dijawab. Dalam perihal ini, ilmu pengetahuan hadir sebagai pemberi solusi atau jalan keluar terhadap persoalan yang sedang dihadapi oleh umat manusia dan juga alam semesta.

*Ditulis untuk bahan diskusi dan kajian filsafat ilmu SKOLASTRA

Diposting kembali demi tujuan pendidikan

Sumber Gambar : Google Image

PROF. YUSRIL, HTI, DAN HAK ANGKET KPK

Oleh Nasrullah Mappatang

 

yusril1.jpg

 

Setelah dinamika tentang UU Pemilu tahun 2014 lalu, saya baru mengamati dengan seksama lagi sepak terjang Profesor Ahli Tata Negara Yusril Ihza Mahendra. Saya tertarik pada sebuah video di YouTube yang menanyakan mengapa Prof Yusril, atau yang sering disapa Bang Yusril ini sering memenangkan perkara di pengadilan. Saya tersentak dan sedikit mencondongkan kepala saya sembari memasang kuping baik baik ketika beliau, Profesor sekaligus advokat cum ketua Partai Bulan Bintang ini mengatakan bahwa perihal tersebut karena latar belakang studi sarjananya yang pernah bergelut di Fakultas Sastra dan Filsafat waktu masih di Universitas Indonesia (UI) dulu.

Prof Yusril mengakui bahwa filsafat — dan juga Ilmu Sastra — memungkinkan kita melihat sebuah persoalan yang tidak dilihat orang lain. Selain mengajarkan cara berpikir yang benar, filsafat dalam hemat penyusun pidato kenegaraan era Soeharto dan Mensesneg serta Menkumham di era awal Reformasi ini mengatakan bahwa filsafat mengajarkan pula bagaimana melihat celah argumen lawan ketika menyampaikan pendapatnya. Mungkin yang dimaksud Prof Yusril adalah mengenai ilmu logika dan dialektika. Ilmu dan metode ini memang, ketika dikuasai, akan mampu membuat lawan berdebat terkapar dan terkunci mati. Dalam istilah catur dan politik wacana yang sering dipakai di judul video YouTube, sering ditulis “skakmat”, skak mati alias terkurung/terkunci mati. (lebih…)

TAN MALAKA dan KPK

Oleh Muhammad Amri

19989282_1258651634243884_6071712692063919155_n.jpg

 

Menonton Tan Malaka di mata Najwa sedikitnya memberikan angin segar ditengah brengseknya tindakan “pengambilalihan” KPK beberapa bulan terakhir di tahun ini.

Saya kira, upaya angket sebagian DPR sudah terang ujung tujuannya. Mengingat pansus angket memiliki track record panjang yang kerap akrab dengan tindak korup, maka dominasi pengaruh ke dalam KPK penting segera mereka lakukan. Jika tidak, maka hobi korup mereka kedepannya akan semakin sulit dilakukan. Selain karena KPK telah menjadi lembaga terfavorit rakyat negeri ini, para calon pemimpin di babakan sejarah selanjutnya sudah semakin muak akibat dampak ketimpangan sosial dari hobi korup tersebut. Tsamara amany di ILC kemarin mungkin tidak bisa mereprentasikan anak muda negeri ini, setidaknya dia bisa merepresentasikan harapan akan indonesia yang lebih jujur, adil dan berpihak pada rakyat tertindas, tidak menjadi Indonesia karatan seperti yang direpresentasikan Fahri Hamzah dan kroni-kroninya dengan coba melanjutkan Status Quo hobi korupsi. Kalau bersih ngapain risih? Upsss…

Memang butuh jalan memutar panjang meruntuhkan hobi korupsi ini, 15 tahun belum cukup melakukan transendensi kesadaran secara signifikan, melihat hobi korup ini masih banyak peminatnya, maka kita masih butuh KPK.

Nah, mata najwa tadi mengangkat sang bapak republik yang namanya ditenggelamkan dalam pusaran. Kedekatannya dengan komintern serta kebenciannya terhadap kolonial dan kapitalisme global menjadi alasan mengapa Tan dihapus dalam memori sejarah. Siapa-siapa yang mencoba menghambat dominasi masyarakat politik dalam bahasa Gramsci, maka bukan hanya tindakan koersif belaka, bila perlu tindakan represif akan dilakukan.

Baik Tan Malaka maupun KPK, keduanya memiliki konsep serta praktik yang mengancam kelas dominan, yakni kelas bursuasi yang berkarib dengan pemerintah. Maka, jika KPK tidak ingin dikontrol oleh si bursuasi ini, maka KPK mesti dihilangkan sebagaimana Tan dihilangkan. Dalam catatan Ulla Nasrullah Mappatang, saya bersepakat negara ini akan terus melanjutkan Tradisinya sebagai negara Malin Kundang. Cilaka betul!!! Prett…

Bacaan Pemerkaya

BELAJAR DARI (KISAH) TAN MALAKA

Sumber gambar : Fanspage Aktivisual

 

BELAJAR DARI (KISAH) TAN MALAKA

Oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat Sekolah Sastra dan Budaya (SKOLASTRA)

19905341_1653569527986997_6539936111079591536_n
— Seperti kata Pram, Bangsa dan Negara ini memang harus ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, kepada TAN MALAKA. Juga, kepada kisah kisah TAN MALAKA. Agar negeri ini tak larut untuk terus menjadi NEGARA MALINKUNDANG, Negara yang durhaka pada ibu-nya (Nasion/Bangsa-nya) —
Tan Malaka adalah seorang Bangsawan, sekaligus Nasionalis yang beraliran Marxis, berhaluan politik Sosialis-Komunis. Dia juga pembela Islam yang gigih. Sosoknya terlalu besar untuk disempitkan oleh cara berpikir picik ala kolonial yang suka melakukan kategorisasi. Apalagi tukang stempel yang kerjanya cap kali cap. Tan Malaka tidak cukup disebut seorang bangsawan, apalagi hanya dihukum sebagai komunis, dipuja sebagai seorang Nasionalis, atau dikagumi sebagai seorang pembela Islam di forum Internasional. Tan Malaka jauh melampaui itu. Kita lah yang sering mengerdilkan sosok dan peran sepak terjangnya.

Malam nanti (12/7), seperti sudah diberitakan ramai oleh media sosial, di acara Mata Najwa yang tayang pada salah satu TV Swasta Nasional akan ada acara yang terbilang langka. Sebuah diskusi atau talkshow dari beberapa narasumber yang dikemas populer dan inspiratif. Kali ini tentang Tan Malaka. Seorang sosok yang mengagumkan bagi yang tahu, paham, dan mengerti dengan baik sepak terjang dan sejarah sosok pahlawan Nasional Indonesia ini.

Selain mengagumkan, Tan Malaka juga adalah sosok yang kontroversial sekaligus misterius. Beliau dikagumi sekaligus dibenci oleh kalangan kalangan tertentu. Dia seorang yang berpikiran progresif dan bertindak revolusioner. Dia bangsawan tanah Minang yang beraliran Sosialis-Komunis. Namun, dia pembela Islam yang gigih, di sidang Komintern (Komunis Internasional) sekalipun. Apalagi soal Nasionalisme, Raja di Maharaja Malaka ini adalah penganjur Republik Indonesia yang pertama. Indonesia bukan hanya sebagai sebuah Bangsa (Nasion) namun sebagai sebuah negara (state). Dia sudah memikirkannya dan memperjuangkannya kelak.

V.Lenin, pemimpin Komintern asal Uni Soviet di sekitar Dekade kedua dan ketiga abad dua puluh itu saja tak membuatnya surut untuk berdebat soal hubungan gerakan sosialis-komunis dan gerakan Islam di negeri – negeri jajahan seperti Indonesia. Itu terjadi sekitar 1920-an. Masa ketika di Indonesia masih bisa dihitung jari orang yang bisa membaca. Apalagi sadar akan Kemerdekaan dan Nasion ke-Indonesiaan. Pancasila sekalipun belum terpikirkan oleh Bung Karno dan pejuang lainnya pada masa itu.
Kisah kisah selanjutnya, seperti di artikel di bawah ini, dia tumbuh dan hidup bersama Bangsa dan Republik yang diimpikannya. Lalu, konon, Negara, Republik ini mengkhianatinya. Tan Malaka, dengan nama lengkap Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka ini wafat diterjang peluru Tentara Republik. Republik yang dicitakan, diperjuangkan, dan dilahirkannya. Tan Malaka adalah ibu dari Republik ini.
Itu salah salah satu pelajaran dari kisah Tan Malaka ini. Saya menyebutnya “NEGARA MALINKUNDANG”. Anak yang Durhaka pada Ibu nya. Semoga negara ini tak disumpah jadi batu. Semoga kutukan MALINKUNDANG tidak dititahkan oleh Tan Malaka. Negeri ini, sepertinya harus segera bertobat.
“Kami Menghormatimu Tan!!!!”
“Damai dan Tenang dikau disana”.
BANGSA DAN NEGARA INI MEMANG HARUS BELAJAR DARIMU, DARI KISAHMU.
Sekali lagi, Seperti kata Pram, Bangsa dan Negara ini memang harus ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN kepada TAN MALAKA. Kepada kisah kisah TAN MALAKA.

Bacaan pemerkaya:

https://aroelmuhammad.wordpress.com/2017/02/21/kisah-tan-malaka-dan-negara-malinkundang/

BELAJAR DARI GRAMSCI; PERANG POSISI DAN PERANG GERAKAN

oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat ISCS – Skolastra

26HIRSCH-master1050

Source image : http://www.nytimes.com/2013/07/26/arts/design/a-visit-to-thomas-hirschhorns-gramsci-monument.html

 

Antonio Gramsci sering dikenal secara luas di kalangan aktivis dan akademisi dengan teori “hegemoni”-nya. Selain itu blok historis berupa aliansi masyarakat sipil dan produksi wacana sealiansi kekuatan bersama juga sering didiskusikan bahkan dipraktekkan di ranah gerakan sosial. Selain itu soal intelektual organik dan mekanis juga adalah bahasan yang seringkali mencuat kala menyebut nama pemikir Italia ini.

Namun, ada beberapa pandangan Gramsci yang sepertinya kurang diapresiasi dan atau kurang diperbincangkan meski tak jarang sebenarnya sudah dipraktekkan oleh berbagai elemen gerakan sosial dan bahkan mungkin yang berlawanan dengannya. Salah satunya adalah mengenai strategi perang posisi dan perang gerakan/ bergerak menyerang. Dalam istilah lain “war of movement” dan “war of position” adalah terma yang sering digunakan.
(lebih…)

Ideologisasi dan Perubahan Sosial di Indonesia

oleh Azwar Radhif

tulisan azwar

            Lahirnya suatu negara merupakan suatu konsensus atas masyarakatnya dalam menciptakan integritas dan komitmen kebersesamaan, demikian halnya negara kita tercinta ini. Dalam menggagas sistem ketatanegaraan dibutuhkan konsep dasar ketatanegaraan dan sistem pemerintahan guna mengatur masyarakatnya dalam rangka menciptakan equilibrium (keseimbangan), disinilah lahirnya ideologi.

         Demikian halnya kritik Althusser, bahwa bukan hanya ekonomilah yang menunjang suprastruktur, bahwa determinisme ekonomi Marx yang sangat materialis cenderung menafikan hal yang berbau metafisik, termasuk ideologi. Ideologi menjadi alat hegemoni suatu kelas terhadap kelas lainnya, hegemoni kelas tersebut kemudian menciptakan dominasi suatu kelas. Hegemoni ini senantiasa bersifat doktrin guna mengkonstruksi pola fikir dan perilaku kelas tertentu, dalam hal ini kelas penguasa dan masyarakatnya.

Segala regulasi yang dikeluarkan oleh negara yang didasarkan pada ideologi negara tersebut senantiasa bersifat menekan terhadap warganya. Penekanan regulasi ini kemudian memaksa warga negaranya bertindak sesuai dengan regulasi yang dikeluarkan oleh pembuat kebijakan. Fatalnya, segala kebijakan ini cenderung dijadikan alat guna mempertahankan status quo kelas penguasa sehingga terkadang cenderung merugikan masyarakat.

Rentang Historikal: menilik pertarungan ideologi dari era kolonialisme hingga reformasi

Dapat kita lihat bagaimana kondisi masyarakat di era kolonialisme pra kemerdekaan, bagaimana kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda cenderung terkesan sepihak dan hanya menguntungkan golongannya.

(lebih…)

Inilah Rancangan Pedoman Organisasi Kemahasiswaan Unhas

 

 

Download PDF Rancangan Pedoman Organisasi Kemahasiswaan Unhas disini

(lebih…)

%d blogger menyukai ini: