LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Kegiatan

Category Archives: Kegiatan

Identitas Budaya dalam Bingkai NKRI

DISKUSI.png

Undangan Diskusi

“Identitas Budaya dalam Bingkai NKRI”

1. Pendahuluan
Dalam rangkaian mengapresiasi dan mengkritisi persoalan kebangsaan dewasa ini, dianggap penting adanya rembug pemikiran, yang diiniasi oleh para intelektual, budayawan, rohaniawan, aktivis pro-demokrasi, mahasiswa dan masyarakat sipil lainya. Peristiwa 411 di Jakarta telah menarik perhatian dan keprihatinan berbagai pihak di seluruh nusantara. Momen tersebut mengungkap satu sisi gelap dari proses demokratisasi politik yang tak kunjung paripurna di Republik ini yaitu Pancasila sebagai satu-satunya asas berbangsa dan bernegara. Hal itu pun jadi momentum bagi para Republikan untuk merevitalisasi nilai-nilai kebangsaan dalamm bingkai kebhinnekaan. (lebih…)

MEMPERSOALKAN KUALITAS PENYELENGGARAAN AKADEMIK DI KAMPUS MERAH

seminar riset

Suasana saat seminar berlangsung

“Hari-hari ini, universitas Hasanuddin tengah berada dalam situasi anarki”, begitulah sepenggal kalimat dari Alwy Rachman dalam seminar bertajuk “membincangkan kualitas penyelenggaraan akademik di world class university, Kamis, 10 Maret 2016, yang bertempat di Aula Prof. Mattualada.

Anarki yang dimaksud ialah proses penyelenggaraan akademik berjalan seolah tanpa tatanan, seperti nyaris tidak ada aturan. Mengapa demikian? Karena terjadi surplus otoritas yang sebenarnya berada diluar urusan mereka (fakultas dan dosen) malah disibuki, sementara tugas yang semestinya dijalankan tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Hal tersebutlah dapat terlihat dari hasil riset yang kami jalankan selama tahun 2015. Riset ini diharapkan dapat memberikan kritik dan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan akademik yang menuai banyak masalah.

(lebih…)

Membincangkan Kualitas Penyelenggaraan Akademik dalam World Class University (?)

1457016740775

  1. Pengantar

Universitas ialah tempat bertemunya pikiran-pikiran besar (meeting of big minds) yang saling bertukar pandangan melalui debat, dialog, diskusi, publikasi, riset hingga polemik. Kurang lebih begitulah imajinasi sekelompok scholar terhadap universitas, yang oleh Steve Strogatz, professor bidang Matematika di Cornell University, diandaikan sebagai sebuah proses, transformasi dan evolusi yang takkan pernah berakhir. Namun seluruh proses akademis itu tentu membutuhkan kualitas sistem, tata-kelola maupun sumber daya manusia yang mumpuni.

Perguruan tinggi di Indonesia telah mengalami, setidaknya, transformasi baru dari segi institusional. Perubahan model dari institusi yang sebelumnya berada sepenuhnya dalam cengkraman Negara ketika masa Orde Baru, kini beralih dengan model otonomi dimana kampus memiliki kewenangan untuk mengelola urusan akademik dan non-akademiknya sendiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada Negara. Beberapa kampus yang dianggap telah memenuhi syarat berhak untuk memperoleh status otonom, tak terkecuali Unhas (Universitas Hasanuddin).

Selain statusnya yang telah berubah menjadi PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum), beberapa tahun sebelumnya Unhas juga memperoleh akreditasi institusi dengan grade “A” dan sertifikasi ISO (International Standard Organization) 9001. Ini merupakan pertanda bahwa sekurang-kurangnya Unhas memiliki tata kelola organisasi dan institusi yang cemerlang, paling tidak untuk hal-hal yang berhubungan dengan urusan akademik.

Akan tetapi, fakta justru berkata lain. Hasil riset yang kami lakukan menunjukkan kalau proses penyelenggaraan akademik adalah keresahan terbesar mahasiswa Unhas saat ini diantara isu-isu lainnya. Riset tersebut seolah menjadi petunjuk bahwa belum ada korelasi positif antara kualitas penyelenggaran akademik dengan sekian label yang telah diperoleh Unhas. Lalu dilakukanlah riset lanjutan guna menginterogasi lebih lanjut pada bagian kualitas penyelenggaran akademik manakah di Unhas yang menjadi keprihatinan banyak mahasiswa?

Riset kali kedua mencakup lima variabel, yaitu SOP (Standard Operational Procedure) yang terdiri dari Otoritas fakultas, tata kelola administrasi dan kinerja staf akademik, otoritas dosen, kuliah lima tahun, kekerasan akademik hingga kemerosotan intelektual (Hasil riset terlampir). Masalah-masalah seperti fasilitas penyelenggaraan akademik, nepotisme dan intimidasi di dalam kelas, sampai pada belum adanya kejelasan prosedur terkait peminjaman fasilitas dan urusan administratif lainnya turut mendapatkan bagian dalam riset ini.

Di tengah angan-angan Unhas untuk menjadi World Class University, mempertanyakan kembali kualitas penyelenggaran akademik di Unhas adalah keharusan. Sebab proses akademik merupakan hal inti dalam institusi pendidikan tinggi. Dalam menghadapi kemungkinan untuk mempertanyakan kembali itulah seminar ini diadakan dengan tajuk “Membincangkan Kualitas Penyelenggaran Akademik Dalam World Class University (?)”.

Seminar ini akan berisi tentang, salah satunya, hasil riset yang telah kami lakukan. Dengan harapan, riset ini dapat dipandang dari ragam perspektif seputar proses penyelenggaraan akademik secara khusus, dan pendidikan pada umumnya, selain sebagai bahan evaluasi bagi pihak kampus agar dapat merefleksi diri untuk kebaikan bersama.

Adapun beberapa tema yang diharapkan dapat memperkaya hasil riset ini, yakni “Kualitas Penyelenggaraan Akademik di Unhas”. Kedua, “Riset Sebagai Alat Membangun Gerakan Sosial dan Mengiterupsi Kebijakan Kampus”. Tema ini diambil mengingat riset mesti bermuara pada sebuah langkah politis. Kedua tema diatas masing-masing akan dibawakan oleh satu narasumber.

Sementara itu, beberapa perspektif tentang kualitas penyelenggaraan akademik juga diharapkan dapat dipakai sebagai pandangan dalam melihat hasil riset tersebut secara holistik. Diantaranya: Philosophy of Education, Academic Leadership dan Academic Management, Academic Research, dan keselarasan antara kegiatan akademik dan kemahasiswaan. Beberapa perspektif inilah yang diharapkan dapat diberikan oleh penanggap diskusi yang diwakili dari sudut pandang pengambil kebijakan di Unhas, praktisi pendidikan maupun sudut pandang mahasiswa. Dengan begitu, kompleksitas masalah penyelenggaran pendidikan di Unhas dan perguruan tinggi pada umumnya, kurang lebih mampu dipandang secara paradigmatik.

  1. Tujuan
  2. Menjadi wadah curah gagas yang ilmiah sekaligus ajang merefleksi dan mengevaluasi proses penyelenggaraan akademik di Universitas Hasanuddin dan pendidikan tinggi pada umumnya.
  3. Memberi rekomendasi, masukan juga kritik terhadap pengambil kebijakan di Universitas Hasanuddin dalam menjalankan proses penyelenggaraan akademik.

 

  1. Waktu Dan Tempat

Waktu        : Kamis, 10 Maret 2016

Tempat      : Aula Prof. Matualada Fak. Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin

Produksi Pengetahuan, Migrasi, dan Memori; Dari Kolonialisme, Perang Dingin, sampai Masa Neoliberal Hari Ini

Daily Notes
2016 Inter-Asia Cultural Studies Global Network Winter Camp
National Chiao Tung University, Hsinchu, Taiwan
11-15 Januari 2016

Oleh:
Nasrullah Mappatang

11 Januari 2016
Opening Rountable:
Cold War and Democracy: Specters and Unfinished Project
(Perang Dingin dan Demokrasi: Momok dan Agenda yang Belum Selesai)

Pendiskusian mengenai Perang dingin dan Demokrasi ini memulai kegiatan Winter Camp yang di helat pada bulan Januari di Taiwan ini. Poin utama dari topik pertama sekaligus pembuka kegiatan ini adalah mengenai bagaimana nasib demokrasi di suasana perang dingin – juga perang panas (hot war) – yang terjadi di kawasan Asia, khususnya di Asia Timur. Selain itu, dampak pada produksi pengetahuan di masa yang dinamakan neoliberal ini yang hadir pasca perang dingin berakhir juga menjadi agenda penting dalam pembicaraan ketiga penyaji pertama yakni Prof. Joyce C.H. Liu, Prof. Kuan-hsing Chen, dan juga Prof. Amie Parry.

Joyce C H Liu (NCTU)

Profesor Joyce C.H. Liu sebagai Direktur International Institute for Cultural Studies memulai presentasinya bagaimana Kolonialisme, Perang Dingin, dan Neoliberalisme mempengaruhi tatanan Asia Timur, khususnya Taiwan. Pengaruh yang dimaksud membentang dari pengaruh diranah ekonomi politik sampai pada produksi pengetahuan. Kolonialisme Jepang, perebutan antara komunisme Tiongkok dan Liberalisme Amerika menandai perebutan pengaruh terjadi di Taiwan. Setelah apa yang dikatakan perang dingin berakhir, yang bisa dikatakan dengan kemenangan Amerika, proses meningkatnya modal (raise of capital) di Taiwan, Hongkong, dan Korea sebagai negara – negara yang berporos AS ini semakin tak terbendung. Neoliberalisme menjadi term yang digunakan oleh Joyce dalam mendefenisikan dan membangun narasinya tentang apa yang terjadi setelah perang dingin. Industralialisasi berkembang dengan Multi National Corporation yang merajalela menjadi pemandangan yang hadir di era baru pasca kolonialisme dan perang dingin ini. Pada akhirnya, kelas pekerja semakin terkonsentrasi di perkotaan dan lingkungan menjadi tercemar. Tidak hanya di Taiwan, tapi di negara – negara Asia Timur lain yang membangun poros dengan Amerika Serikat, pemandangan ini adalah hal yang tak terhindarkan. Olehnya itu, menurut Joyce produksi pengetahuan dan gerakan sosial dalam menghadapi kondisi masyarakat kontemporer – masa neoliberal pasca kolonial dan pasca perang dingin – menjadi hal perlu didiskusikan dan diagendakan lebih jauh ke depan. Tak terkecuali di acara Winter Camp IACS 2016 ini.

Kuan-hsing Chen (NCTU)

Kuan-hsing Chen melalui paparannya pada kesempatan ini melakukan penekanan terhadap imajinasi kita tentang penyatuan Asia. Asia as Method yang merupakan buah pemikirannya dalam menekankan produksi pengetahuan yang dimana Asia menjadi subjek dari pengetahuan tentang Asia itu sendiri. Titik tekan yang dimaksudkan adalah bagaimana hubungan setelah kolonialisme dan perang dingin dapat melampaui sekat antar negara. Setelah perang dingin pula, Kuan-hsing mempertanyakan bahwa apakah ada kemungkinan lain dalam membayangkan demokrasi hari ini? Pertanyaan yang dijawabnya sendiri ini dengan memberi contoh bagaimana hubungan para intelektual Inter-Asia dalam menjalin kerjasama dan bekerja bersama memproduksi pengetahuan. Produksi pengetahuan yang dimaksud adalah memikirkan kembali dan memaknai ulang (rethinking and decoding) produksi pengetahuan yang berada dibawah pengaruh kolonialisme dan perang dingin yang sebenarnya berwujud panas pada akhirnya di Asia. Kuan-hsing melihat ada banyak peluang untuk melakukan itu, terkhusus bagi para intelektual yang ada di Asia.

Amie Parry (NCU)

Disaat kedua pembicara di atas berbicara mengenai sejarah dan implikasi dari kolonialisme, perang dingin, dan neoliberalisme, Amie Parry melalui paper yang disajikannya mencoba menelaah secara teoritik bagaimana perang dingin dan demokrasi berjalinan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Melalui papernya yang berjudul Democracy and the Cold War, pengajar Sastra Inggris di NCU Taiwan ini memaparkan anailisanya yang dikutip dari karya Chantal Mouffe The Democratic Paradox, Lisa Lowe, the critique of liberalism in The Intimacies of Four Continents, dan Jodi Melamed, on U.S. Cold War Global racial liberalism, Represent and Destroy.
Amie dalam mengutip argumen Mouffe mengenai paradoks demokrasi dimana demokrasi modern menekankan dua hal yang bersamaan yakni tradisi liberal dan tradisi demokratik. Tradisi liberal lebih menekankan pada penegakan hukum (state), HAM, dan juga kebebasan individu.

(lebih…)

DISKUSI PUBLIK

1450785131189

“LARANGAN AKTIVITAS MALAM: REGULASI ATAU INSTRUKSI ?”

Dasar Pemikiran

Lembaga kemahasiswaan Universitas Hasanuddin kembali dibuat gaduh oleh aturan yang dikeluarkan oleh rektorat Universitas Hasanuddin. Belum reda rasa geli dikarenakan aturan “dilarang gondrong” beberapa bulan lalu, tertanggal 7 Desember lalu, kampus kembali mengeluarkan aturan pelarangan aktivitas malam di kampus. Di dalam surat edarannya, tertera, bentrokan yang terjadi antara mahasiswa Fakultas MIPA dan mahasiswa Fakultas Teknik minggu malam lalu adalah salah satu alasan utamanya. Bentrokan mahasiswa, lebih lanjut dituliskan, juga berpotensi menyebabkan kerusakan fasilitas-fasilitas kampus. Di samping itu, alasan lain yang menjadi dasar dikeluarkannya surat edaran ini adalah membengkaknya biaya listrik yang harus dibayarkan oleh kampus.

Tidak butuh waktu lama setelah surat edaran (dadakan) itu dikeluarkan, pada malam tanggal 7 Desember, kampus segera melancarkan agresi pertamanya. Pihak kampus, diwakili oleh WR III, yang dikawal oleh berlapis lapis pengamanan di belakangnya, membubarkan aktivitas-aktivitas lembaga kemahasiswaan. Namun yang mengejutkan bagi para fungsionaris lembaga kemahasiswaan adalah, terlibatnya aparat Kepolisian beserta TNI dalam agenda pembubaran—untuk tidak menyebutnya pengusiran—mahasiswa pada malam yang menyedihkan itu. Alih-alih datang dengan komunikasi yang baik, pihak kampus beserta lapisan-lapisan pengamanaannya, dengan kasar membubarkan, bahkan masuk mengobrak abrik sekretariat lembaga kemahasiswaan. Begitulah isu pelarangan aktivitas malam ini bergulir dengan cepat di kampus merah Universitas Hasanuddin.

Setiap kebijakan, lazimnya memang akan menuai berbagai respon dari publik, dalam hal ini mahasiswa untuk konteks di dalam kampus. Namun, sebagai masyarakat intelektual, penetuan ‘standing position’ atau keberpihakan terhadap suatu isu, tentu tidak patut jika diambil dengan cara reaksioner. Kita dituntut untuk menelaah lebih dalam suatu permasalahan sebelum mengeluarkan argumen tertentu sebagai respon atasnya.

(lebih…)

Pelatihan Dasar Anggota Baru

Poster LITSAR IV baru

Mari bergabung bersama kami

Silahkan Download Formulirnya melalui link dibawah ini

https://drive.google.com/file/d/0BwJ7yjTbQnMNTUY0bG1Jcy1UU2o3Vkx3RzRXQmlkc2RhRFlB/view?usp=sharing

atau mengambil langsung di sekretariat LAW Unhas di Gedung Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas), samping Gedung Teaching Industri

Batas akhir pendaftaran 5 November 2015

Kontribusi Peserta Rp. 30.000,-

Pelatihan ini terdiri dari beberapa tahapan:

– Pralitsar: Sabtu, 7 November 2015, pukul 11:00, Di taman Gedung Lembaga Penerbitan Unhas (Lephas)

– Wawancara: Senin-selasa, 9-10 November 2015 di Sekretariat LAW Unhas,

– Litsar : Sabtu-Minggu, 14-15 November 2015, pukul 08:00, informasi tempat Litsar akan diberitahukan pada      agenda Pra Litsar.

Instalasi Perlawanan Kreatif (IPK)

ipk

Kalian semua diundang!
Instalasi Perlawanan Kreatif (IPK) Donasi untuk warga Bulogading yang sedang dalam ancaman penggusuran.
Siapkan donasi terbaik kalian untuk mereka yang membutuhkan.
Datangki…

10-11 September 2015
15:00 – Selesai
Di Lapangan PKM Unhas

#SaveBulogading

Hujan Puisi II

Hujan Puisi II New

LAPAK BACA : UPAYA KECIL MELAWAN KEMEROSOTAN INTELEKTUAL

Salah satu indikator kemajuan suatu bangsa ialah angka melek huruf. Melek huruf bukan hanya dalam artian menguasai huruf, dan arti kata. Melek huruf yang maksudnya seberapa banyak pengetahuan manusia yang diperolehnya melalui membaca. Selanjutnya bagaimana pengetahuan itu berguna sebagai kaca-mata dalam memandang fenomena yang saban hari kita jumpai. Ilmu pengetahuan seperti yang dijelaskan diatas sangat berguna bagi umat manusia.

Bagi sebagian orang, membaca boleh jadi merupakan aktivitas membosankan, bikin ngantuk, dan buang-buang waktu. Banyak pilihan yang lebih menyenangkan ketimbang membuka halaman demi halaman, dan memaknai kata demi kata yang terdapat di dalam buku. Pilihan itu pun banyak macamnya, fitur permainan yang mudah kita dapatkan hanya dengan mendownloadnya di play store handphone android, misalnya. Atau duduk dihadapan laptop berpuluh-puluh jam menyaksikan film yang hanya memiliki satu permasalahan dalam hidupnya, mengutip judul lagu Efek Rumah Kaca, ‘Cinta melulu’.

Ditengah situasi kampus dan mahasiswa yang semakin memprihatinkan: copy-paste skripsi dan tugas, buku-buku di perpustakaan tak berkualitas, dosen malas, membosankannya proses pembelajaran di kelas, dan sederet permasalahan yang disebutkan diatas. Beralaskan hal tersebutlah, sekelompok pemuda-pemudi menginisiasiIMG_20150304_123520kan diri untuk membuka lapak baca di fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, Rabu 4 Maret 2015.

Di sudut aula Prof. Matualada, mereka menjajakan berbagai jenis buku (Sosial, ekonomi, politik dan sastra). Ada yang untuk dibaca, ada pula yang hendak dijual. Harga jualannya pun terjangkau, mulai dari 15 ribu sampai 50 ribu. Menurut Mahatir, salah seorang inisiator lapak yang juga Koordinator divisi Aksi dan Propaganda Lingkar Advokasi Mahasiswa Unhas (LAW-Unhas), “Buku yang diperuntukkan dibaca ditempat oleh pengunjung adalah buku-buku yang tidak tersedia di perpustakaan universitas maupun fakultas, kami juga menyediakan jasa pemesanan buku yang dicetak langsung dari Jogjakarta. Selain itu, lapak ini juga bertujuan sebagai sarana menyebarkan ilmu pengetahuan”.

Pengunjung lapak baca ini pun bermacam-macam. Terdiri dari: Mahasiswa strata III, beberapa dosen yang senang membaca, dan mahasiswa dari berbagai angkatan. Tak sampai disitu, pengunjung yang datang juga melakukan diskusi bersama para penjaga lapak. “Selain tempat membaca, lapak buku ini diharapkan mampu membuka ruang-ruang diskusi yang selama ini sudah jarang ditemui di kampus, walhasil produksi pengetahuan pun dapat kembali berjalan” Ucap Stevany.

Membacalah. Sebab dengan membaca, kita dapat memaknai hidup kita lebih dalam lagi. Memperkaya diri dengan melihat cara pandang orang lain terhadap apa yang ia alami, lalu merefleksikannya kedalam hidup kita. Bukankah kita terlalu egois bila tak mau mencerap pengalaman dan hasil pikiran orang lain?(HIM)

DISKUSI TANPAROGANSI “HIKAYAT BBM BERSUBSIDI: JUDI ATAU PARODI”

“Tuhan saja membutuhkan data untuk menghitung amal dan dosa manusia”.

Kalimat itu diucapkan oleh Syahril, S.E. Salah satu narasumber dalam diskusi tanpa arogansi “Hikayat BBM Bersubsidi: Judi atau Parodi”. Data, satu terma itu yang menjadi senjata para narasumber untuk ditembakkan kepada para peserta. Sesuai dengan judulnya, diskusi ini tidak bermaksud untuk mengkonfrontasikan data yang disajikan. Hendaknya, memperkaya perspektif dalam wacana kenaikan harga BBM.

_MG_6415Sedikitnya 150 peserta hadir dalam diskusi ini. Diskusi dimulai pada pukul 13:30 Wita. Dibuka dengan pembacaan puisi oleh Andi Rewo. Narasumber pertama ialah Muhaimin Zulhair A, M.A. Seorang analis industri migas internasional yang juga alumni pascasarjana ilmu hubungan internasional UGM. Mimin, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan ihwal proses pengelolaan migas dari sektor hulu ke hilir dalam kaitannya dengan kenaikan harga BBM, juga bagaimana praktik-praktik yang timpang dalam proses itu.

Setelah berkeliling dunia melihat proses pengelolaan migas, peserta diajak untuk kembali menengok ke dalam negeri. Adalah Syahril, S.E yang menjelaskan perihal subsidi BBM dan ekonomi nasional. Menurutnya, subsidi bbm selama ini lebih tinggi dibanding program sosial lainnya seperti kesehatan,dan peretasan kemiskinan. Ia menambahkan, semakin tinggi konsumsi BBM, semakin tinggi pula cost of production yang berakibat pada peningkatan defisit APBN.

Narasumber selanjutnya, menggiring peserta untuk melihat lebih dekat gejolak yang dihasilkan oleh kenaikan harga BBM. Ali Asrawi, begitu nama lengkap narasumber ketiga yang berasal dari UMI ini, memberi penjelasan tentang tindak represifitas aparat atas aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM, khususnya di Makassar. Selain itu, ia juga memberi keterangan terhadap pemberitaan miring di berbagai media dalam memberitakan aksi demonstrasi mahasiswa.

_MG_6413Narasumber terakhir, menjelaskan perihal bagaimana dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat. Dibawakan oleh M Nawir yang telah lama bergiat dalam mengorganisir masyarakat miskin kota. Menurutnya, pembangunan infrastruktur itu perlu dalam membantu akses masyarakat terhadap komoditas penunjang produksinya, yang selama ini harganya melunjak akibat mahalnya biaya transportasi.

Sesi tanya jawab pun berlangsung setelah narasumber memaparkan data dan gagasannya. Sayangnya, setelah diskusi berlangsung, tak ada satupun yang menawarkan gagasan tentang What’s next after the discussion. Akhirnya, diskusi berakhir pukul 17:00 Wita.

Dalam diskusi kali ini, hal besar yang dipetik oleh kawan-kawan peserta diskusi sebagai refleksi dari berbagai gejolak gerakan mahasiswa ialah kurangnya diskusi atau kajian mendalam secara ilmiah terhadap kebijakan pengalihan subsudi BBM . Mengutip kalimat dari saudara Syahril, S.E. diatas “Bahkan Tuhan pun butuh data untuk menghitung amal dan dosa manusia”. “Diatas Tuhan masih ada Tuhan yaitu data” tambah Syahril di penghujung diskusi.

%d blogger menyukai ini: