LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Muhammad Rusydi Ashri

Category Archives: Muhammad Rusydi Ashri

Iklan

PETANI KULON PROGO MENGHADAPI FEODALISME KERATON

KP2

FOTO DIAMBIL DARI AKUN INSTAGRAM @jogja_darurat_agraria

oleh Muhammad Rusydi Ashri

Ketika mendengar tentang pembangunan Bandara yang menggusur paksa ribuan KK di Kulon Progo, Kabupaten di Yogyakarta. Perbincangan mengenai persepsi yang membenarkan tindakan membenarkan negara untuk menggusur adalah hal menarik untuk diulas. Bahkan seorang kawan dengan banalnya menyalahkan warga yang tetap berupaya mempertahankan tanahnya. “kan ada Undang-undang Keistimewaan, jadi tanah disana sudah sepatutnya milik Paku Alam

Mendengar pernyataan itu setidaknya membikin telinga saya panas hingga dada sesak.

Bagaimana bisa warga yang mempunyai alas hak tertinggi –sertifikat hak milik, gugur karena adanya Undang-undang Keistimewaan tersebut. Disini asap feodal mulai tercium dalam praktik memeras warga. Bagaimana Keraton dengan kuasanya mampu menguasai bertumpuk-tumpuk sertifikat tanah.

Sekilas tentang UU 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta

Sudah seperti namanya, Undang-undang ini memberikan kewenangan eksklusif pemerintah Yogyakarta mengenai urusan tata cara pengisian jabatan Gubernur dan Wakil, Kelembagaan Pemerintah Daerah DIY, kebudayaan, pertanahan dan tata ruang.

Mengenai kewenangan penyelenggaraan pertanahan megamanatkan Kasultanan-Kadipaten sebagai Badan hukum yang merangkap sebagai subyek hukum yang  mempunyai hak milik atas tanah Kasultanan-Kadipaten.

Pasal 32 ayat 4 dan 5 menjelaskan tanah Kasultanan-Kadipaten meliputi tanah keprabon (tanah untuk kegiatan kebuadayaan) dan tanah bukan keprabon yang terdapat di seluruh Kabupaten/Kota dalam wilayah DIY.

Undang-undang ini menabrak Undang-undang pokok Agraria, aturan hukum yang berada di tingkatan atasnya. Tetapi apa dikata hukum mengakui asas Lex Specialis. Walaupun dalam penyelenggaraan kewenangan keistimewaan yang lebih lanjut diatur dalam Peraturan Daerah Istimewa (perdais) berpegang pada nilai keberpihakan kepada rakyat.

Kembali ke kepemilikan lahan yang dimiliki warga, selama ini penyelenggaraan pertanahan di Yogya berada di kekuasaan pemerintah daerah, dengan dalih tanah di Yogya dikategorikan sebagai tanah bekas swapraja. Jadi jika warga ingin mengajukan permohonan hak atas tanah negara harus melalui pemerintah daerah DIY. Pemerintahan DIY dalam hal ini melampaui tugas Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan pertanahan.

Oke, mungkin Sultan atau Paku Alam diberikan kewenangan berlebih karena kita masih menganggap tanah Yogya itu adalah tanah adat, maka dari itu kelestarian budayanya mesti dijaga dan dibuatkan UU khusus.

Disini kita mesti bedakan wewenang swapraja dan masyarakat adat yang tunduk hukum adat. (Jurnal Bhumi Vol. 1, No. 1, Mei 2015) Pertama, bentuk kepemilikan swapraja ialah individual, sedangkan masyarakat hukum adat bersifat komunal. Kedua, posisi politik swapraja adalah perpanjangan tangan dari Kolonial, sedangkan masyarakat adat hanya tunduk pada hukum adat yang sudah turun-terumun. Singkatnya, dengan pola kepemilikan individu, keraton Yogyakarta membuat Badan hukum yang mengelola masalah pertanahan sebagai basis ekonomi politik.

Basis Ekonomi Keraton

Mungkin kita masih bisa berdamai dengan kekuasaan keraton mengkapling tanah di Yogya untuk keperluan kegiatan budaya, tetapi bagaimana dengan tanah bukan keprabon?

Lagi-lagi mencontoh pergolakan Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo sejak tahun 2008 melawan PT. Jogja Magasa Iron (JMI)  penambangan pasir besi di sepanjang pesisir Kulon Progo. Menurut Tirto.id sebanyak 300 jiwa terancam kehilangan kehidupannya. Kembali petani berhadapan dengan isu kepemilikan lahan Paku Alam. Padahal petani sudah mengantongi kepemilikan sertifikat, tetapi izin penambangan pasir tetap dikeluarkan Pemerintah Daerah dalam hal ini diwakili Kadipaten Paku Alam.

Dalam studi kasus ini, penggusuran petani Kulon Progo seperti kembali ke tatanan feodal yang dikuasai Keraton. Karena tanah sebagai unsur utama dalam tatanan feodal (Karl Polanyi:2003) penginventarisir oleh badan hukum Keraton sebagai salah satu contohnya, bahkan ketika tahun 2012 Gubernur ke kepala Kanwil BPN DIY No. 593/4811 tentang pengendalian permohonan hak atas tanah negara dialihkan ke Pemda DIY. Bila seseorang ingin memperpanjang Hak Guna Bangunan harus melalui keputusan Keputusan Gubernur, yang biasa kita kenal dengan Sultan Ground (SG) atau Paku Alam Ground (PAG).

Setelah menguasai berpetak-petak tanah, proses enclousure-lah yang terjadi, petani-petani di Kulon Progo dipisahkan dari alat produksinya. Dengan alasan hak atas tanah milik SG dan PAG. Kenyataan yang harus diterima posisi Kasultanan-Kadipaten disini sudah jelas menjadi kelas tuan tanah.

Ketika sarana produksi sudah dipisahkan dari petani, kemudian pranata kepemilikan hak milik absolut diberlakukan. Maka petani yang tidak mempunyai lagi sarana produksinya mau tidak mau harus menjual tenaga kerjanya kepada pemiliki sarana produksi yang baru (Dede Mulyanto: 2012). Dalam laporan tirto.id, setelah tergusur warga Desa Palihan sudah tidak mempunyai pekerjaan dan sertifikat tanah bukan hak milik. Bak menunggu menghitung hari saja warga-warga akan kena penggusuran lagi.

Mengenai pembebasan lahan yang terus digenjot oleh Angkasa Pura I, mereka mengatakan pembangunan New Yogyakarta International Airpot (NYIA) berhadapan dengan tenggat waktu yang sudah ditetapkan perusahaan BUMN tersebut bahwa Bandara mesti beroperasi awal 2019. Maka pengosongan mesti dipercepat yang pada selasa 9 Januari 2018, terjadi kericuhan saat proses pengosongan lahan, akibatnya warga Desa Temon mengalami intimidasi dan kekerasan oleh aparat kepolisian.

Berkali-kali pihak Angkasa Pura I mengatakan bahwa proyek pembangunan ini demi kepentingan umum maka warga dengan sukarela mengosongkan rumahnya guna pembangunan bandara baru untuk kepentingan khalayak. Sukar menurut saya, membandingkan kepentingan umum dengan 670Ha pemukiman dan lahan pertanian. Karena ratusan hektar tersebut merupakan kehidupan bagi ribuan warga di Kulon Progo. Dibanding kepentingan kapital yang besar di belakang pembangunan bandara.

Dari Makassar, terpaut ribuan Kilometer dari Kulon Progo, melalui tulisan sederhana ini saya membela petani, minimal dari orang-orang bebal yang menyalahkan petani yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan tanahnya dari kepentingan modal.

Salam Berlawan!!

Penunjang Tulisan

 

Iklan

TIDAK ADA KEADILAN DI HARI LIBUR

Oleh Muhammad Rusydi Ashri

_temp_1493404184126.jpg

Setelah menggusur 102 KK di Asrama Tentara Bara-baraya  akhir Desember 2016, pihak Kodam kembali berencana menggusur sebanyak 20 rumah seluas 6202,10 M2 di Jalan Abu Bakar Lambogo RT 06 RW 04, dan 8 rumah Jalan Kerung-kerung Lorong 1 RT 01 RW 01 seluas 685 M2.  Bagi TNI-AD, 28 rumah tersebut masuk dalam wilayah okupasi tanah klaimnya, bahwa tanah seluas 28.970.10 M2 termasuk dalam tanah sewa TNI-AD dengan Nurdin Dg. Nombong sebagai ahli waris Moedhinoeng Dg. Matika (pemilik tanah sertifikat nomor 4) dan surat ahli waris tanggal 9 Mei 2016 tentang permohonan pengembalian tanah okupasi yang disewa TNI-AD. Singkatnya, Kodam dengan “berbaik hati” ingin mengembalikan tanah di sertifikat nomor 4 ke ahli waris.

Buntungnya “kebaikan hati” TNI-AD mengakibatkan kondisi pendidikan Nining pelajar kelas 2 SMA terhambat. Nining terpaksa tidak mengikuti proses belajar mengajar seperti anak sekolah lainnya. Nining memilih menghadiri persidangan dengan agenda pembacaan putusan (Kamis, 27 April 2017). Menurutnya rumah yang dia tempati merupakan hak yang musti dipertahankan, keberaniannya melawan tirani militer muncul karena masa depan  diri beserta keluarganya ikut terancam.

Warga bara-baraya memutuskan menggugat Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) kota Makassar yang telah mengeluarkan sertifikat pengganti atas nama Moedhinoeng Dg. Matika di Pengadilan Tata Usaha Negara Makassar. Sidang dimulai pukul 10:22 WITA dipadati warga Bara-baraya dan 50-an aparat kepolisian lengkap dengan senjatanya dan beberapa intel tentara.

Dalam pembacaan putusannya majelis hakim menolak gugatan warga karena bukti warga berupa akta jual beli dan bukti pembayaran pajak bumi bangunan tidak memiliki hubungan hukum dengan objek hukum. “Sebaiknya gugatan ini dilakukan di jalur keperdataan”, ucap Mustamar sebagai Hakim yang memimpin sidang. Warga yang menghadiri persidangan tidak berterima dengan hasil sidang yang dibacakan majelis hakim, bahkan beberapa warga histeris memaki hukum yang tidak memihak ke orang kecil, warga kecewa hilangnya keadilan di negeri ini.

…pihak militer melakukan teror ke warga seperti menyebarkan selebaran intimidatif hingga ancaman pembunuhan ke warga yang aktif melakukan perlawanan. Upaya teror ini memberikan dampak negatif seperti rasa was-was berlebihan (paranoid) yang mengakibatkan terganggunya kondisi psikis dan kesehatan warga bara-baraya.

INTIMIDASI TNI DAN PELANGGARAN HAM

Terhitung sejak 17 Maret 2017, warga Bara-baraya bersatu memblokade sebagian jalan Abu Bakar Lambogo, tak jarang pihak militer melakukan teror ke warga seperti menyebarkan selebaran intimidatif hingga ancaman pembunuhan ke warga yang aktif melakukan perlawanan. Upaya teror ini memberikan dampak negatif seperti rasa was-was berlebihan (paranoid) yang mengakibatkan terganggunya kondisi psikis dan kesehatan warga bara-baraya.

Sebelumnya, pihak TNI-AD dalam menggusur Asrama Bara-baraya melakukan tindak “barbar” dengan menelantarkan perabotan serta beberapa harta benda warga, sebagian besar perabotan warga seperti kursi, meja, lemari rusak akibat diguyur hujan berganti terik matahari. Tindakan TNI-AD bertentangan dengan Standar Hak Asasi Manusia yang temaktub dalam komentar umum Kovenan Ekonomi Sosial Budaya Nomor 7 tahun 1997 dan United Nations Basic Principles and Guidelines on Development Based Evictions tentang penggusuran paksa. Kovenan tersebut melarang penghancuran properti pribadi warga yang akan digusur. Kodam VII Wirabuana (sekarang XIV Hasanudin) hendaknya tidak mengabaikan seruan PBB dalam penegakan HAM, jika tidak julukan sebagai pelanggar HAM terberat akan terus melekat di pundak kalian!

Semoga saja, sekelumit masalah diatas bisa cepat selesai dan tak ada lagi istilah Nining meliburkan diri karena rumahnya terancam tergusur.

“Kadaluarsa” Kebenaran Dalam Putusan Pengadilan

Oleh : Muhammad Rusydi Ashri

PTUN 5

(Kamis/28 Juli 2016) Setelah melakukan prosesi ritual Appasili’ guna memohon do’a kepada pemilik lautan di dermaga Kayu Bangkoa, Puluhan Warga Lae-Lae mendatangi Pengadilan Negeri Tata Usaha Negara Makassar di Jalan Pendidikan membawa harapan putusan pengadilan nantinya memihak kepada keadilan bagi rakyat dan lingkungan.

PTUN 4.jpg

Ritual Appasili’ oleh warga lae-lae di dermaga kayu bangkoa

Sidang gugatan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) terhadap Gubernur Sulawesi Selatan (Sul-Sel) sebagai tergugat I dan PT. Yasmin Bumi Asri sebagai tergugat II, atas Izin Pelaksanaan Proyek Reklamasi Center Point Of Indonesia (CPI) telah memasuki agenda Pembacaan Putusan. (lebih…)

MAKASSAR TIDAK LAGI MILIK KOTA DAENG.

Oleh: Muhammad Rusydi Ashri

Selasa 10 Mei 2016. Suasana ruang sidang utama Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Makassar kali ini agak berbeda. Kursi-kursi pengunjung sidang hampir terisi penuh oleh mahasiswa, wartawan, pengacara, dan warga kecamatan Mariso. Mereka turut memantau proses persidangan sengketa Reklamasi Pantai Losari. Sidang kali ini dimulai sejak pukul 10:33 Wita dengan agenda pemeriksaan saksi fakta oleh majelis hakim. (lebih…)

%d blogger menyukai ini: