LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Review Buku

Category Archives: Review Buku

POLITIK BUDAYA MEDIA DAN GERAKAN SOSIAL

Oleh Nasrullah Mappatang

chomsky.jpeg

Tahun 1997, Noam Chomsky menulis sebuah buku kecil dan tipis tentang peran politik media massa kontemporer. Judul bukunya Media Control : The Spectacular Achievements of Propaganda.  Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pertama kali tahun 2006 dengan judul Politik Kuasa Media. Buku ini secara umum merupakan pandangan kritis dari Noam Chomsky tentang bagaimana media berperan sebagai penyokong kekuasaan – Amerika. Propaganda media merupakan bahasan yang paling mencolok mendapat sorotan. Selain itu tema tentang industry humas, rekayasa opini, representasi, diskriminasi persepsi, stereotype, red scare, dan tentunya hegemoni kuasa media tak lepas dari ulasan Noam Chomsky sebagai ahli linguistik sekaligus analis media paling tersohor abad ini, di bukunya ini. Kritiknya tajam, keras, dan sangat kritis. Chomsky seolah menjadi pengingat dan penantang keras kebijakan luar negeri tempat dia tinggal sampai hari ini. Tempat persis jantung kapitalisme global bersemayam, Amerika Serikat. (lebih…)

Iklan

Dostoveysky, Kejahatan Dan Hukuman

Oleh Mekay Lunikabezz

Kejahatan dan hukuman-500x500

Judul                                     : Kejahatan dan Hukuman

Penulis                                 : Fyodor Dostoyevsky (Rusia)

Penerbit                              : Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit                       : 2001

Cetakan pertama             : Agustus 1949

Penerjemah                       : Ahmad Faisal Tarigan

 

Hai, pembaca

Lama tak bersua. Kali ini, mari sedikit berbincang tentang sebuah buku yang datang dari negeri yang jauh di utara sana. Sebuah negara yang sebelumnya bernama Uni Soviet, yang selalu mengingatkan kita akan dinginnya Perang Dingin, dan sekarang bernama Federasi Rusia dengan presidennya yang tampak dingin, Vladimir Putin.

Buku ini berjudul “Kejahatan dan Hukuman”. Ditulis oleh Fyodor Dostoyevsky, yang kabarnya merupakan salah seorang sastrawan besar Rusia. Pertama kali diterbitkan pada Agustus 1949. Aku selesai membacanya pada tahun 2016, namun sebelumnya juga telah membacanya pada 2015. Jadi, jika kau ingin mengatakan betapa tertinggalnya aku membaca buku ini, memang demikian adanya.

Buku ini menceritakan kehidupan beberapa tokoh dengan nama-nama yang membuat lidah kaku untuk menyebutnya. Biasa, nama-nama Rusia. Tokoh sentralnya adalah seorang pemuda, mantan mahasiswa, bernama Rodion Romanovitch Raskolnikov. Satu kalimat untuk buku ini, seorang mahasiswa miskin membunuh seorang perempuan rentenir tua. (lebih…)

BANDIT SOSIAL DI MAKASSAR; JEJAK PERLAWANAN I TOLOK DAENG MAGASSING

terbitan-1

Judul buku  : Bandit Sosial di Makassar

Penulis         : M. Nafsar Palallo

Penerbit       : Rayhan Intermedia

Tahun Terbit : 2008

Halaman        : xi + 129 hlm

Gerakan sosial muncul akibat ketidakpuasan terhadap sistem politik,sosial, ekonomi, dan kultural yang terjadi. Setiap gerakan sosial akan muncul dengan bentuk gerakannya masing-masing dan tentunya akan memunculkan seorang tokoh dalam gerakan tersebut. Di Indonesia sendiri gerakan sosial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak bermunculan sebagai akibat kolonialisasi yang dilakukan oleh Belanda.

Pada masa kolonial kebijakan yang eksploitatif terhadap sektor pertanian dan perkebunan menyebabkan terjadinya protes yang dilakukan oleh para petani yang tidak hanya bersifat keagamaan tapi juga dalam bentuk kerusuhan. Di masa inilah muncul gerakan perbanditan sosial yang dalam prakteknya sering melakukan penyerangan dan perampokan dengan kekerasan.

Secara praktik mungkin saja gerakan perbanditan sosial mengundang antipati jika tidak menilik lebih jauh alasan munculnya gerakan tersebut. Di masa ini pula tidak ada lembaga yang menjadi saluran aspirasi untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang diterapkan. Kondisi tersebut menyebabkan munculnya protes sosial yang dilakukan dalam bentuk apapun.

Tentang Bandit Sosial

Jikalau membahas mengenai bandit sosial maka kita akan teringat dengan tokoh dalam cerita rakyat inggris yaitu Robin Hood. Legenda yang telah diangkat ke layar lebar tersebut bercerita mengenai seorang pria yang sering melakukan perampokan terhadap orang-orang yang kaya dan tidak peka sosial. Namun, bentuk kepedulian sosial dari pria tersebut adalah membagikan hasil rampokannya kepada orang-orang miskin. Itulah yang kemudian membedakan bentuk gerakan sosial yang dilakukan oleh Robin Hood.

Secara umum bandit sosial dapat didefinisikan sebagai protes sosial yang dilakukan dalam bentuk perampokan yang terorganisir dengan menggunakan kekerasan. Gerakan tersebut semata-mata untuk menuntut keadilan dan persamaan sosial. Para bandit sosial dilihat sebagai penjahat oleh para pemerintah namun di sisi lain dilihat sebagai pahlawan oleh masyarakatnya karena dianggap sebagai pejuang keadilan dan penuntut balas atas tindakan semena-mena kepada mereka.

(lebih…)

MALAPETAKA DI INDONESIA: SEBUAH REFLEKSI ATAS PENGALAMAN SEJARAH GERAKAN KIRI

malapetaka-coverJudul buku: Malapetaka di Indonesia

Penulis: Max Lane

Penerbit: Djaman Baroe

Tahun Terbit: 2012

Halaman: 114 halaman

Barangkali diantara kalian pernah membaca atau menyaksikan film The Giver? Film dengan lanskap masyarakat totaliter yang “setara”, dan sama rata sama rasa. Jika kalian lahir dan tinggal di tempat itu, bersiaplah untuk kehilangan kenangan. Sebab di tempat itu, masyarakat hidup tanpa masa lalu. Begitulah yang hendak dilakukan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto selama kurang lebih 33 tahun.

Jika masyarakat dalam The Giver dilarang mengenal “cinta”, maka masyarakat Indonesia dilarang mengenal “komunisme”. Seluruh memori tentang gerakan perlawanan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan gerakan kiri lain atas penjajahan Belanda maupun Amerika untuk mengeruk kekayaan alam negeri kita mesti dihapuskan, kalau perlu dibuang jauh-jauh kedalam tong sampah. Juga, harus terlihat sebagai momok yang menakutkan, kejam dan keji.

Tentu kalian ingat buku pelajaran sejarah yang kita konsumsi di sekolah-sekolah, bukan? Atau film yang saban akhir September diputar di layar kaca kita? Keduanya memuat pesan yang sama: bahwa komunisme, dalam hal ini, Partai Komunis Indonesia adalah dalang dari pembantaian para Jenderal Angakatan Darat? Itu sebab, di buku sejarah kita persitiwa tersebut bernama G30S/PKI, bahkan ditetapkan dalam TAP/MPR/1966 kalau komunisme, Marixisme dan Leninisme terlarang di Indonesia.

Dalam tulisan ini, kami bukan ingin membahas panjang lebar tentang rentetan kronologis peristiwa G30S, meski nantinya akan dibahas beberapa bagian. Tulisan singkat ini merupakan hasil review dari buku, atau lebih tepatnya kumpulan esai, tentang pengalaman sejarah gerakan kiri. Sebuah buku berjudul Malapetaka Di Indonesia yang ditulis oleh sejarawan asal Australia, Max Lane. Buku ini ialah hasil refleksi sekaligus analisis kritis atas kontradiksi-kontradiksi gerakan kiri Indonesia yang dimotori oleh aliansi Soekarno dan Partai Komunis Indonesia dan perkembangan gerakan kiri baru.

Akan tetapi, dalam tulisan ini penulis hanya membatasi refleksi dan kritik Max Lane atas gerakan kiri di era Soekarno dan PKI. Sebab Lane sendiri kurang menganalisis kontradiksi-kontradiksi gerakan kiri baru di Indonesia. Lalu kontradiksi macam apakah yang terdapat dalam gerakan Soekarno-Aidit, dkk?

(lebih…)

%d blogger menyukai ini: