LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Riset & Analisis » Editorial

Category Archives: Editorial

BER(T)ANI KARENA BENAR !!!

Untitled-1.png

“Peluru, Gas air mata, dan Kekerasan bukan untuk Petani, Buruh, dan Rakyat”

“Salah satu fakta penyebab kemiskinan di dunia adalah terjadinya land grabbing (perampasan lahan). Istilah land grabbing pertamakali dikemukakan oleh sebuah lembaga pertanian GRAIN di Spanyol pada tahun 2008. Setelah istilah ini muncul, berbagai lembaga PBB seperti Food Agriculture Development (FAD), dan Internasional fund for agriculture development (IFAD) member perhatian serius terhadap persoalan ini. Tujuannya ialah agar keadilan sosial dan ekonomi bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dunia” _Indoprogress/28 Agustus 2014.

***

Selamat malam para pengguna jalan, selamat menikmati perjalanan anda dan semoga selamat sampai di tempat tujuan. Ketika anda telah sampai pada tempat tujuan anda, coba bayangkan dan renungi bagaimana nasib anda ketika lahan untuk bertani sudah tidak ada lagi di negeri ini? Atau coba renungkan sejenak bagaimana nasib anak cucu anda ketika mereka tak lagi melihat indahnya rerumputan hijau (baca: sawah) yang menghidupkan seluruh warga Negara Indonesia sampai hari ini?, saya yakin para pembaca tak bisa membayangkan hal itu terjadi. Namun melihat kecendrungan pembangunan yang senantiasa meniadakan lahan untuk bertani beberapa tahun terakhir ini, nampaknya APA YANG ANDA RENUNGI TADI AKAN MENJADI KENYATAAN….

Pembangunan di Indonesia kembali menelan korban, tak tanggung-tanggung kurang lebih ada sebelas Desa yang akan tergusur di Kecamatan Kertajati, Majalengka disebabkan oleh rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Salah satu Desa yang menjadi korban dari pembangunan BIJB ini ialah Desa Sukamulya. Desa Sukamulya merupakan desa yang dalam desain pembangunan BIJB didesain sebagai area cadangan dari kawasan bandara.

Pada tanggal 16 November 2016, tepatnya pada pukul 22:00 WIB sejumlah aparat gabungan (Polisi, TNI, Satpol, dan DISHUB) mendatangi Desa Sukamulya untuk melakukan pengukuran tanah, pada awalnya terjadi negosiasi antara aparat dan warga setempat namun aparat tidak memberikan informasi yang jelas terkait kejelasan pegukuran ini (baca: sosialisasi dan negoisiasi tidak dilakukan sebelumnya oleh aparat pada masyarakat di Desa Sukamulya).

Dari hasil laporan warga yang berada di Desa Sukamulya, tercatat telah terjadi dua kali kericuhan akibat pemerintah hendak melakukan pengukuran paksa dan pada tanggal 17 November 2016 kemarin aparat merangsek masuk ke sawah-sawah dari berbagai sudut dan merusak sawah-sawah subur milik masyarakat setempat. Serangan aparat semakin berkembang menjadi tembakan-tembakan gas air mata yang dikerahkan untuk mengawal pengukuran paksa dan menangkapi warga yang menolak. Tak hanya sampai situ saja, pasukan juga telah merangsek ke pemukiman masyarakat yang menyebabkan ketakutan para warga Sukamulya, enam orang petani (tiga orang telah dibebaskan) ditangkap, duabelas orang luka-luka dan tidak sedikit rumah-rumah yang dirusak.

Tindakan represif dan intimidasi oleh aparat (Polisi, TNI, SATPOL, DISHUB) merupakan bentuk dari ketidakmampuan serta kegagalan pemerintah setempat dalam berkomunikasi dengan masyarakat Sukamulya.

***

Sampai hari ini, para warga masyarakat Desa Sukamulya masih mengobarkan api semangatnya untuk tinggal mempertahankan tanahnya sendiri dari tangan-tangan para investor dan penguasa.

Para pembaca yang budiman, mari kita sama-sama menjaga api semangat para pejuang di Desa Sukamulya, jangan biarkan mereka merasakan kesendirian dalam berjuang, sebab perjuangan akan selalu menemukan titik terangnya ketika KITA TETAP SELALU BERSOLIDARITAS…….

#SAVESUKAMULYA

Iklan

Memilih

Pilihannya hanya dua: mendiamkan semuanya atau berbuat semampunya.

Setahun lalu, pilihan itu tidak semudah hari ini. Selepas kehidupan ‘struktural’ lembaga dan ‘aktivisme periodik’ yang mengikutinya menjadi saat-saat yang paling membosankan sekaligus mengkhawatirkan. Kenyataan bahwa saya–dan beberapa kawan–yang tidak punya lagi akses langsung pada keputusan apalagi terhadap isu-isu yang kami anggap penting dan menyangkut orang banyak membuat kehidupan pasca-pengurus lembaga menjadi sangat membosankan.

Saya hanya bisa menjadi seorang semi-penonton. Menyusun konsep, strategi, lalu menyerahkan eksekusinya pada orang lain yang ‘masuk setelah saya’. Itu semacam hukum kaderisasi. Logika dasar organisasi. Kesempatan belajar buat ‘adik-adik’.

Namun rasa bosan itu berubah menjadi rasa khawatir. Dalam skala-skala tertentu, baik di Himpunan, BEM/Senat, hingga Universitas, ruang kosong di antara ekspektasi gerakan dan eksekusi oleh mereka yang sedang memegang tongkat kuasa di lembaga semakin tiba pada titik miris. Kesibukan tetek bengek ‘seremoni’ tahunan lembaga, friksi-friksi sok penting di internal, kemalasan-kemalasan untuk membangun komunikasi dan gerakan yang efektif antar lembaga, hingga ketakutan-ketakutan tak beralasan untuk berhadapan dengan masalah yang butuh daya getar.

“pergi semua mi aktivisnya Unhas keluar kampus,” ujar Ulla, sahabat berpostur jangkung yang kemudian membentuk grup online Syarikat Pemuda Mahasiswa (SPM) Unhas. Saya dan Maula mengiyakan. Kenyataan yang sebenarnya disadari tapi baru di galaui.

Bagi saya ada empat tipe orang saat ia selesai menjabat kepengurusan lembaga:

Pertama, golongan yang ‘putus hubungan dengan nyamuk’. Orang-orang yang kembali tidur nyenyak. Kembali pantang begadang. Masa bodoh dengan gerakan, advokasi, atau urusan remeh temeh lembaga. Bersikap seolah ia telah melakukan hal yang luar biasa semasa kepengurusannya. Atau, bisa jadi, orang ini mengalami kekecewaan yang sangat dalam atau disingkirkan semasa ia bergelut di organisasi. Lalu banting stir menjadi seorang pengamat gerakan dan rajin update-status di media sosial.

Selanjutnya ada golongan yang insaf-akademik. Merasa bahwa sudah saatnya memikirkan masa depan setelah setahun-dua tahun menjadi sosok yang seolah-olah sangat sibuk. Akademik yang terbengkalai. IP yang terjun bebas. Dan akhirnya setelah mendapat desakan–entah dari pacar, orang tua, atau ketakutan dunia kerja–kemudian bertekad untuk fokus perbaiki nilai. Mendongkrak IP. Mengurangi intensitas gerakan. Bersikap seperti orang tua bijak yang akhirnya menyerahkan segala hal pada adik-adiknya. (meski bagi saya selalu tidak masuk akal orang-orang yang mengkambinghitamkan akademiknya atas nama aktivisme). Bagi tipe ini, kerja-kerja advokasi dan aktivisme seolah merupakan siklus periodik kehidupan kampusnya. Semacam siklus lahir-anakanak-remaja-dewasa-tua-lalu mati. Yah, hitung-hitung bisa jadi pelengkap CV.

(lebih…)

Terus Kritisi UU Pendidikan Tinggi

Kesedihan melanda para pejuang pendidikan ketika uji materil UU Pendidikan Tinggi No. 12 Tahun 2012 oleh Mahasiswa Andalas ditolak Mahkamah Konstitusi (12 Des 2013).

Dalam amar putusannya, MK menyatakan bahwa UU PT tidak bertentangan dengan UUD 1945. Hal ini merupakan keanehan binti keajaiban, karena substansi otonomisasi dalam hal pembiayaan (liberalisasi pendidikan) masih sama dengan BHP (Badan Hukum Pendididkan) yang ditolak oleh MK di 2008 silam. Ini menjadi inkonsistensi MK dalam memutuskan perkara UU PT.

Namun perjuangan harus tetap berlangsung! Sebab, lihatlah sekarang dan nanti bagaimana dampak UU PT bagi keterjangkauan pendidikan di Indonesia.

Saat ini masih ada satu gugatan terhadap UU PT yang berlum diputuskan MK, yakni gugatan dari KNP (Komite Nasional Pendidikan). Semoga kedepan kita dapat memahami dan bergerak demi pendidikan untuk semua. Bersama uraian singkat ini, draft UU PT kami sajikan untuk bersama dikritisi!

unduh di sini>>

Div. Riset dan Strategi LAW Unhas

Aksi Represif Satpam dan Preman Rektorat

Kami mengecam aksi represif  yang dilakukan oleh Satpam dan para Preman Rektorat dalam aksi mahasiswa yang hanya ingin menuntut keadilan dari pimpinan universitas. Aksi soldaritas atas ke-6 teman kami yang diskorsing ini harus berakhir dengan tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang digaji dengan duit mahasiswa.

STOP premanisme kampus!

Kampus bukan lembaga yang didirikan untuk mendidik mahasiswa dengan cara-cara tidak dewasa seperti ini. Keinginan kami hanya sederhana: menuntut kampus berlaku kampus berlaku adil dalam menjalankan proses demokrasi dan edukasinya. Keenam teman dari Fakultas Sastra yang diskorsing dan diancam skorsing dan D.O. hingga saat ini belum diberikan hak-haknya untuk banding. Dan ketika kami memintanya, kami direpresi! Apakah kampus sudah benar-benar menjadi penjara bagi keadilan?

919199_647581085257180_1607904034_o

905238_647581078590514_1006280691_o

476847_647581095257179_946453525_o

478225_647581098590512_1037254529_o

Aksi represi menanggapi demonstrasi AMUK

Intimidasi preman rektorat

Bertahan

Bibir seorang peserta aksi yang berdarah karena aksi represif satpam dan preman rektorat

Preman Rektorat mengintimidasi aksi mahasiswa

10 Alasan Menolak Pengalihan Jalur Pete-Pete Kampus | Mari Bersolidaritas!

peduli pete2

 

  1. Dasar pengalihan rute sangat tidak jelas, hanya karena alasan parkiran  dan polusi (katanya: menuju kampus Green, Healthy, Saver)
  2. Tidak ada pelibatan partisipatif dari semua stakeholder dalam keputusan pengalihan rute; Program ini hanya salah satu proyek tidak penting yang sebenarnya tidak dibutuhkan
  3. Bukannya mempermudah, pengalihan rute malah mempersulit transportasi civitas akademika dalam kampus
  4. Warga sekitar Unhas (masyarakat Kera-kera dan sekitarnya) sangat memerlukan pete-pete sebagai transportasi utama mereka untuk akses keluar Unhas
  5. Biaya transportasi mahasiswa dan warga Unhas bertambah
  6. Penghasilan pete-pete berkurang drastis (30-40%) semenjak tidak bisa lagi rute keliling kampus
  7. Sarana pengganti (sepeda dan bus) sangat tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa
  8. Infrastruktur transportasi sepeda (seperti parkiran dan jalur khusus) sama sekali tidak memadai
  9. Pete-pete sangat bermanfaat dan memiliki ‘sumbangsih sejarah’ bagi Unhas dan Mahasiswanya
  10. Pengalihan ini juga akan berimbas pada akan digusurnya pedagang workshop/jalan Poltek karena volume kendaraaan di Pintu Nol yang pasti akan sangat menumpuk

Jadi, apa yang bisa saya lakukan?

– Datang hari Senin (14/1/2013) untuk mendukung negosiasi yang akan dilaksanakan oleh pihak rektorat dengan supir pete-pete. Kehadiran kamu itu berarti!

– Hubungi BEM/Senat atau organisasi terdekat mu, tanyakan bagaimana sikapnya dan dorong untuk terrlibat lebih dan lebih

– Beritahu teman-teman tentang masalah ini via telpon, sms, bbm, media sosial, dll

–  Pahami bahwa perubahan apapun itu, butuh solidaritas dan soliditas. Sila sebar postingan ini biar semakin banyak orang yang tahu dan mendukung lingkar solidaritas ini

– Untuk memasifikasi gerakan, sila isi PETISI ONLINE tentang penolakan ini disini

– Bantu menyebar PETISI ini melalui semua media sosial yang kamu punya. Kamu bisa menggunakan tagar #SolidaritasPeduliPete2Kampus

– Terakhir, konsistenlah! Perubahan butuh kepedulian, solidaritas, dan konsistensi… 🙂

Tuntutan Mahasiswa Makassar dalam Aksi Hari Anti Korupsi

Walaupun semua media mainstream hanya memberitakan bagian ‘bentrok’ dan ‘rusuh’ dari aksi mahasiswa di Makassar, namun penting bagi kita untuk tetap mengetahui apa tuntutan dari para demonstran yang menggelar aksi di sejumlah titik di Makassar. Dari berbagai front, gabungan, organisasi, dan aliansi berikut kami sarikan tuntutan yang disuarakan dalam aksi mahasiswa tersebut:

1. korupsi dana Bantuan Sosial tahun 2008 senilai Rp 8,8 miliar yang disinyalir melibatkan 34 anggota DPRD Sulawesi Selatan

2. kasus korupsi Block Grant Kemenag SuSel pd bantuan pengadaan peralatan di madrasah tsanawiyah&ibtidaiyah se-SulSel senilai Rp 10 miliar

3. kasus korupsi PDAM Makassar Rp 500 miliar

4. kasus pembebasan lahan Celebes Convention Centre (CCC) yang jumlahnya puluhan miliar dan belum tuntas di proses hingga sekarang

5. Tuntutan dukungan utk SAVE KPK, pengusutan kasus Hambalang, dan usut tuntas Kasus Century 3 tahun silam.

 

Disadur dari berbagai sumber.

Peduli Buloa dan Solidaritas Anti Penggusuran

Mungkin kalian sudah bosan dengan kata ‘penggusuran’. Kata yang setiap hari muncul di televisi dan koran atau disetiap pengaderan maba sebagai gambaran patriotik senior ke maba. Kata yang selalu diiringi dengan perang, tangis histeris dan beberapa peristiwa tragis lainnya. Mungkin bagi kalian penggusuran itu sudah biasa. Malahan beberapa orang menganggap itu suatu hal yang wajar.

Tapi tunggu dulu!

Kalian yang menganggap penggusuran itu wajar pasti belum pernah merasakan bagaimana pahitnya kehilangan rumah. Bagaimana pahitnya kehilangan kenangan masa kanak-kanak. Bagaimana pahitnya kehilangan canda tawa dengan teman-teman sekitar rumah kalian. Bagaimana pahitnya setiap hari mendapat ancaman dari pria ‘berbadan tegap’ (kalian bisa memanggilnya dengan preman atau polisi). Intinya, penggusuran itu sama sekali tidak enak! Dan lebih ngerinya, penggusuran mulai tidak pandang bulu. Sekarang, setiap orang terancam. Pemerintah telah membuat Undang-undang tentang pengadaan tanah untuk pembangunan yang intinya setiap tanah yang berpotensi untuk pembangunan harus segera dibebaskan.
Penggusuran juga terjadi di Buloa. Pesisir pantai yang disesaki oleh penduduk miskin Makassar.

Buloa? Makanan macam apa pula itu???

Yang jelas Buloa bukan jenis bahan makanan! Kata yang disusun oleh lima huruf ini merupakan tempat bermukim puluhan kepala keluarga yang kental akan dialek Makassar. Mungkin kalian lebih akrab dengan kecamatan Tallo. Nah, Buloa merupakan salah satu kelurahan dalam kecamatan Tallo. Letak tepatnya berada di Jalan Galangan Kapal Kelurahan Buloa Kecamatan Tallo RT 08/RW 02. letak Buloa tepat berada di pesisir laut Tallo. Bahkan 20 tahun yang lalu, Buloa masih digenangi air laut setinggi dada orang dewasa ketika terjadi pasang. Namun karena terjadi pengerukan di sekitar pelabuhan Paotere, membuat endapan terjadi di Buloa dan membentuk apa yang biasa disebut dengan tanah timbul. Penduduknya kebanyakan bekerja sebagai nelayan atau pekerja bangunan.

Penggusurnya siapa??

Namanya Rosmia. orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Aji Ros. Wanita paruh baya berkulit putih mulus yang senantiasa berkilau dipenuhi oleh perhiasan emasnya. Pada bulan Mei, dengan berbekal Akta Jual Beli (AJB), Aji Ros mencoba mengusir warga dari tanah yang telah mereka tinggali selama 20 Tahun. Banyak cara yang telah dilakukan oleh Aji Ros. Mulai dari memagari lahan dengan tembok beton, mencoba membayar warga, hingga mengerahkan preman untuk menekan warga.

Mungkin menurut kalian yang selalu berfikir administratif, wajar kalau Aji Ros ingin mengambil lahan warga Buloa dengan berbekal AJB. Tapi, apakah wajar ketika laut bisa disertifikatkan? Seperti yang tergambar sebelumnya kalau Buloa dulunya adalah laut dan tidak ada aturan yang membolehkan laut bisa di sertifikatkan.

Membayar warga? Bagus dong kalau begitu..

Tunggu dulu. menurut kalian, bisa hidup apa dengan uang 25 juta? Coba kalian pikir. Sekarang, kalian tidak akan pernah menemui pemukiman dengan uang 25 juta. Belum lagi warga Buloa harus kehilangan mata pencahariannya sebagai nelayan. Aji Ros memang menawarkan tempat tinggal di salah satu Gudang miliknya. Namun, dari informasi yang kami dapat kalau ternyata gudang tersebut juga dalam proses sengketa.

Bagaimana nasib warga Buloa sekarang??

Sebagaimana biasanya, warga Buloa telah mengadu ke hampir setiap lini institusi pemerintahan yang ada di Makassar. Mulai dari DPRD Kota Makassar, DPRD Provinsi SULSEL, Kantor Gubernur, Kepolisian  Daerah (POLDA) dan Badan Pertanahan Makassar. Namun, seperti biasa pula, yang kami temui hanya janji. Bahkan parahnya, kasus ini dimanfaatkan oleh beberapa politisi untuk berkampanye menjelang pilkada nanti.

Akhirnya warga harus bersusah payah sendiri untuk menghalau penggusuran dan mengusir preman. Bahkan warga masih harus dikagetkan dengan upaya penimbunan pesisir oleh salah satu pengusaha besar di Makassar. Penimbunan laut tersebut jelas mengganggu kegiatan sehari-hari nelayan yang bekerja sebagai nelayan.

Dengan tidak adanya perhatian dari beragam institusi di atas, warga hanya berharap pada persatuan warga dan solidaritas dari mahasiswa dan LSM untuk tetap bertahan.

Bagaimana caranya bersolidaritas?

Hal paling kecil yang bisa kalian lakukan adalah terus meng-update kabar dari Buloa.  Kalian bisa membuka blog kami, lawunhas.wordpress.com. Mudah-mudahan dengan itu kalian bisa sadar dan ikut merasakan getirnya ancaman penggusuran. Atau kalian dapat langsung berkunjung ke Buloa. Warga akan menyambut solidaritasmu dengan ramah khas suasana kampung yang belum teracuni oleh kepentingan untung rugi. Kalian bisa menyebarluaskan informasi tentang penggusuran Buloa untuk memperkuat solidaritas yang tanpa batas.

Selamat Bersolidaritas..
Tetap Waspada dengan Penggusuran!

(Pamflet ini disebar dalam acara Pekan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Unhas, 30 okt-2 Nov 2012) untuk laporan yang lebih lengkap tentang kasus sengketa pesisir Buloa-Tallo ini dapat dibaca di laporan ini.

%d blogger menyukai ini: