LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

BELAJAR DARI GRAMSCI; TENTANG MASYARAKAT SIPIL DAN MASYARAKAT POLITIK

Oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat ISCS – Skolastra

Antonio Gramsci ✆ Gabriele Cancedda © Gramscimanía

Source image : http://nacla.org/news/2017/05/28/reading-gramsci-latin-america

 

Dalam Buku Prison Notebooks atau yang lazim disebut Catatan Dari Penjara, Antonio Gramsci menunjukkan sebuah oposisi biner pemosisian masyarakat dalam politik kekuasaan negara. Negara versus masyarakat sipil. Begitu keseringan kita mendengar atau membaca ulasan di berbagai medium. Dalam terminologi Gramsci, disebutkan dengan Masyarakat Sipil versus Masyarakat Politik.

Masyarakat Sipil terdiri dari elemen masyarakat yang dibedakan dengan instrumen kekuasaan negara (masyarakat politik). Elemen masyarakat sipil biasanya terdiri dari Ormas, NGO, CSO, Asosiasi Profesional, Organisasi Pemuda, Parpol, Serikat pekerja, dsb. Sementara masyarakat politik yang terdiri dari elemen penyangga negara dan atau yang berkepentingan dengan kekuasaan negara seperti aparat birokrasi dan militer. (lebih…)

Iklan

Secuil kisah penolakan Tambang Pasir Laut Takalar

Oleh Nani

Anggota LAW Unhas dan mahasiswi FKM Unhas

 

19554077_477855259232220_7602492825707245768_n

Source : Fanpage Aliansi Masyarakat Pesisir

Rabu (19/7/2017),Gedung PEMKAB Takalar dan DPRD Takalar kedatangan ratusan massa yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Mahasiswa dan Masyarakat Tolak Tambang Pasir Laut. Aliansi ini merupakan gabungan warga Takalar dan berbagai pihak yang menolak tambang pasir laut Takalar, Sulawesi Selatan. Terik matahari menambah bara semangat peserta aksi dan para orator yang meneriakkan aspirasinya. “Tidak ada ikan, ekosistem pun rusak. Kemarin tiga ekor paus sudah jadi korban, Cabut izin prinsip!” pekik salah satu orator di depan kantor PEMKAB Takalar. “Engkau dipilih untuk menyejahterakan rakyat, bukannya untuk menindas kami dengan memberikan izin penambangan pasir!” tambah orator lainnya.

Bentrok sempat terjadi ketika massa aksi akan membakar ban di depan kantor PEMKAB Takalar sebagai bentuk protesnya. Polisi berupa menghalau dengan melakukan dorongan kepada massa aksi, namun situasi kembali dingin setelah ditenangkan masing-masing pihak. Karena tidak mendapatkan sambutan yang baik dari PEMKAB Takalar, massa aksi kemudian bergerak ke gedung DPRD Takalar.  (lebih…)

DIALEKTIKA KONSEP DAN KONTEKS

Oleh Nasrullah Mappatang

Pegiat SEKOLAH SASTRA DAN BUDAYA (SKOLASTRA)

 

sociologia.png

Kita sering tergelincir dalam hal menganalisis sebuah perihal. Banyak pihak sering menganggap melakukan sebuah analisis padahal sebenarnya hanyalah menyampaikan pemasangan berdasarkan subjektivitasnya saja. Dalam arti lain, hanya menyampaikan apa yang ingin dikatakannya saja. Padahal, persoalan analisis adalah persoalan bagaimana sebuah konsep digunakan dalam melihat, memandang, dan atau menilai sebuah konteks persoalan.

Para ahli dalam perihal kebenaran metodis ilmu pengetahuan mengatakan bahwa sebuah analisis dilakukan jika terjadi sebuah masalah. Sementara itu, masalah dalam pengertian ilmu pengetahuan adalah “GAP” antara idealitas konseptual dan kenyataan faktual. Dalam istilah lain, masalah adalah posisi atau jarak antara yang seharusnya dengan kenyataan.

Pertanyaan mengenai apa, bagaimana dan mengapa untuk posisi antara idealitas dengan kenyataan tersebut adalah sebuah pertanyaan penelitian untuk menjawab sebuah (rumusan) masalah dalam rangka menemukan sebuah jawaban melalui sebuah metode yang dianggap sah dalam metodologi ilmu pengetahuan.

Konsep merujuk pada hal hal kerumunan yang disepakati menjadi sesuatu yang ideal. sementara konteks merujuk pada kekhususan kasuistik yang dinilai sebagai sebuah wujud kenyataan. Kesenjangan antara yang ideal dan yang nyata itulah ruang analisis berada. Disitulah teori, dalil, petuah, petatah petitih menemukan ruang untuk digunakan sebagai “alat” analisis.

Proses dan mekanisme/cara penggunaan alat tersebut disebut sebagai metode. Dan, ilmu tentang bagaimana metode tersebut digunakan yang seringkali memuat perihal perspektif dan paradigma disebut metodologi. Sehingga, lazim disampaikan bahwa pemilihan sebuah perspektif dan alat analisis berupa cara pandang, paradigma, serta teori melahirkan sebuah “konsekuensi metodologis”.

Pada akhirnya, kita bisa memahami bahwa dialektika antara konsep dan konteks merupakan sebuah hubungan atau relasi yang saling berkaitan secara dialektika. Konsep teori atau cara pandang sebuah alat analisis akan dinilai tidak relevan lagi atau tidak lagi mampu menyelesaikan persoalan ketika sebuah rumusan masalah pada konteks faktual tidak mampu lagi dijawab oleh sebuah konsep teoritik, dalil, maupun sebuah idealitas ide. Begitupun konteks, konteks dapat ditafsir, dianalisis oleh sebuah konsep lebih dari satu konsep. Tergantung sudut pandang mana ingin dianalisis dan tergantung rumusan masalah apa yang ditanyakan sebagai sebuah pertanyaan penelitian.

Jadi, soal analisis adalah soal bagaimana menjawab kesenjangan antara konsep dan konteks yang mengandung dan menelurkan sebuah “masalah”. Dalam singkat kata, analisis muncul ketika ada persoalan atau permasalahan yang ingin dipecahkan atau ingin dijawab. Dalam perihal ini, ilmu pengetahuan hadir sebagai pemberi solusi atau jalan keluar terhadap persoalan yang sedang dihadapi oleh umat manusia dan juga alam semesta.

*Ditulis untuk bahan diskusi dan kajian filsafat ilmu SKOLASTRA

Diposting kembali demi tujuan pendidikan

Sumber Gambar : Google Image

PROF. YUSRIL, HTI, DAN HAK ANGKET KPK

Oleh Nasrullah Mappatang

 

yusril1.jpg

 

Setelah dinamika tentang UU Pemilu tahun 2014 lalu, saya baru mengamati dengan seksama lagi sepak terjang Profesor Ahli Tata Negara Yusril Ihza Mahendra. Saya tertarik pada sebuah video di YouTube yang menanyakan mengapa Prof Yusril, atau yang sering disapa Bang Yusril ini sering memenangkan perkara di pengadilan. Saya tersentak dan sedikit mencondongkan kepala saya sembari memasang kuping baik baik ketika beliau, Profesor sekaligus advokat cum ketua Partai Bulan Bintang ini mengatakan bahwa perihal tersebut karena latar belakang studi sarjananya yang pernah bergelut di Fakultas Sastra dan Filsafat waktu masih di Universitas Indonesia (UI) dulu.

Prof Yusril mengakui bahwa filsafat — dan juga Ilmu Sastra — memungkinkan kita melihat sebuah persoalan yang tidak dilihat orang lain. Selain mengajarkan cara berpikir yang benar, filsafat dalam hemat penyusun pidato kenegaraan era Soeharto dan Mensesneg serta Menkumham di era awal Reformasi ini mengatakan bahwa filsafat mengajarkan pula bagaimana melihat celah argumen lawan ketika menyampaikan pendapatnya. Mungkin yang dimaksud Prof Yusril adalah mengenai ilmu logika dan dialektika. Ilmu dan metode ini memang, ketika dikuasai, akan mampu membuat lawan berdebat terkapar dan terkunci mati. Dalam istilah catur dan politik wacana yang sering dipakai di judul video YouTube, sering ditulis “skakmat”, skak mati alias terkurung/terkunci mati. (lebih…)

TAN MALAKA dan KPK

Oleh Muhammad Amri

19989282_1258651634243884_6071712692063919155_n.jpg

 

Menonton Tan Malaka di mata Najwa sedikitnya memberikan angin segar ditengah brengseknya tindakan “pengambilalihan” KPK beberapa bulan terakhir di tahun ini.

Saya kira, upaya angket sebagian DPR sudah terang ujung tujuannya. Mengingat pansus angket memiliki track record panjang yang kerap akrab dengan tindak korup, maka dominasi pengaruh ke dalam KPK penting segera mereka lakukan. Jika tidak, maka hobi korup mereka kedepannya akan semakin sulit dilakukan. Selain karena KPK telah menjadi lembaga terfavorit rakyat negeri ini, para calon pemimpin di babakan sejarah selanjutnya sudah semakin muak akibat dampak ketimpangan sosial dari hobi korup tersebut. Tsamara amany di ILC kemarin mungkin tidak bisa mereprentasikan anak muda negeri ini, setidaknya dia bisa merepresentasikan harapan akan indonesia yang lebih jujur, adil dan berpihak pada rakyat tertindas, tidak menjadi Indonesia karatan seperti yang direpresentasikan Fahri Hamzah dan kroni-kroninya dengan coba melanjutkan Status Quo hobi korupsi. Kalau bersih ngapain risih? Upsss…

Memang butuh jalan memutar panjang meruntuhkan hobi korupsi ini, 15 tahun belum cukup melakukan transendensi kesadaran secara signifikan, melihat hobi korup ini masih banyak peminatnya, maka kita masih butuh KPK.

Nah, mata najwa tadi mengangkat sang bapak republik yang namanya ditenggelamkan dalam pusaran. Kedekatannya dengan komintern serta kebenciannya terhadap kolonial dan kapitalisme global menjadi alasan mengapa Tan dihapus dalam memori sejarah. Siapa-siapa yang mencoba menghambat dominasi masyarakat politik dalam bahasa Gramsci, maka bukan hanya tindakan koersif belaka, bila perlu tindakan represif akan dilakukan.

Baik Tan Malaka maupun KPK, keduanya memiliki konsep serta praktik yang mengancam kelas dominan, yakni kelas bursuasi yang berkarib dengan pemerintah. Maka, jika KPK tidak ingin dikontrol oleh si bursuasi ini, maka KPK mesti dihilangkan sebagaimana Tan dihilangkan. Dalam catatan Ulla Nasrullah Mappatang, saya bersepakat negara ini akan terus melanjutkan Tradisinya sebagai negara Malin Kundang. Cilaka betul!!! Prett…

Bacaan Pemerkaya

BELAJAR DARI (KISAH) TAN MALAKA

Sumber gambar : Fanspage Aktivisual

 

BELAJAR DARI (KISAH) TAN MALAKA

Oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat Sekolah Sastra dan Budaya (SKOLASTRA)

19905341_1653569527986997_6539936111079591536_n
— Seperti kata Pram, Bangsa dan Negara ini memang harus ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, kepada TAN MALAKA. Juga, kepada kisah kisah TAN MALAKA. Agar negeri ini tak larut untuk terus menjadi NEGARA MALINKUNDANG, Negara yang durhaka pada ibu-nya (Nasion/Bangsa-nya) —
Tan Malaka adalah seorang Bangsawan, sekaligus Nasionalis yang beraliran Marxis, berhaluan politik Sosialis-Komunis. Dia juga pembela Islam yang gigih. Sosoknya terlalu besar untuk disempitkan oleh cara berpikir picik ala kolonial yang suka melakukan kategorisasi. Apalagi tukang stempel yang kerjanya cap kali cap. Tan Malaka tidak cukup disebut seorang bangsawan, apalagi hanya dihukum sebagai komunis, dipuja sebagai seorang Nasionalis, atau dikagumi sebagai seorang pembela Islam di forum Internasional. Tan Malaka jauh melampaui itu. Kita lah yang sering mengerdilkan sosok dan peran sepak terjangnya.

Malam nanti (12/7), seperti sudah diberitakan ramai oleh media sosial, di acara Mata Najwa yang tayang pada salah satu TV Swasta Nasional akan ada acara yang terbilang langka. Sebuah diskusi atau talkshow dari beberapa narasumber yang dikemas populer dan inspiratif. Kali ini tentang Tan Malaka. Seorang sosok yang mengagumkan bagi yang tahu, paham, dan mengerti dengan baik sepak terjang dan sejarah sosok pahlawan Nasional Indonesia ini.

Selain mengagumkan, Tan Malaka juga adalah sosok yang kontroversial sekaligus misterius. Beliau dikagumi sekaligus dibenci oleh kalangan kalangan tertentu. Dia seorang yang berpikiran progresif dan bertindak revolusioner. Dia bangsawan tanah Minang yang beraliran Sosialis-Komunis. Namun, dia pembela Islam yang gigih, di sidang Komintern (Komunis Internasional) sekalipun. Apalagi soal Nasionalisme, Raja di Maharaja Malaka ini adalah penganjur Republik Indonesia yang pertama. Indonesia bukan hanya sebagai sebuah Bangsa (Nasion) namun sebagai sebuah negara (state). Dia sudah memikirkannya dan memperjuangkannya kelak.

V.Lenin, pemimpin Komintern asal Uni Soviet di sekitar Dekade kedua dan ketiga abad dua puluh itu saja tak membuatnya surut untuk berdebat soal hubungan gerakan sosialis-komunis dan gerakan Islam di negeri – negeri jajahan seperti Indonesia. Itu terjadi sekitar 1920-an. Masa ketika di Indonesia masih bisa dihitung jari orang yang bisa membaca. Apalagi sadar akan Kemerdekaan dan Nasion ke-Indonesiaan. Pancasila sekalipun belum terpikirkan oleh Bung Karno dan pejuang lainnya pada masa itu.
Kisah kisah selanjutnya, seperti di artikel di bawah ini, dia tumbuh dan hidup bersama Bangsa dan Republik yang diimpikannya. Lalu, konon, Negara, Republik ini mengkhianatinya. Tan Malaka, dengan nama lengkap Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka ini wafat diterjang peluru Tentara Republik. Republik yang dicitakan, diperjuangkan, dan dilahirkannya. Tan Malaka adalah ibu dari Republik ini.
Itu salah salah satu pelajaran dari kisah Tan Malaka ini. Saya menyebutnya “NEGARA MALINKUNDANG”. Anak yang Durhaka pada Ibu nya. Semoga negara ini tak disumpah jadi batu. Semoga kutukan MALINKUNDANG tidak dititahkan oleh Tan Malaka. Negeri ini, sepertinya harus segera bertobat.
“Kami Menghormatimu Tan!!!!”
“Damai dan Tenang dikau disana”.
BANGSA DAN NEGARA INI MEMANG HARUS BELAJAR DARIMU, DARI KISAHMU.
Sekali lagi, Seperti kata Pram, Bangsa dan Negara ini memang harus ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN kepada TAN MALAKA. Kepada kisah kisah TAN MALAKA.

Bacaan pemerkaya:

https://aroelmuhammad.wordpress.com/2017/02/21/kisah-tan-malaka-dan-negara-malinkundang/

BELAJAR DARI GRAMSCI; PERANG POSISI DAN PERANG GERAKAN

oleh Nasrullah Mappatang
Pegiat ISCS – Skolastra

26HIRSCH-master1050

Source image : http://www.nytimes.com/2013/07/26/arts/design/a-visit-to-thomas-hirschhorns-gramsci-monument.html

 

Antonio Gramsci sering dikenal secara luas di kalangan aktivis dan akademisi dengan teori “hegemoni”-nya. Selain itu blok historis berupa aliansi masyarakat sipil dan produksi wacana sealiansi kekuatan bersama juga sering didiskusikan bahkan dipraktekkan di ranah gerakan sosial. Selain itu soal intelektual organik dan mekanis juga adalah bahasan yang seringkali mencuat kala menyebut nama pemikir Italia ini.

Namun, ada beberapa pandangan Gramsci yang sepertinya kurang diapresiasi dan atau kurang diperbincangkan meski tak jarang sebenarnya sudah dipraktekkan oleh berbagai elemen gerakan sosial dan bahkan mungkin yang berlawanan dengannya. Salah satunya adalah mengenai strategi perang posisi dan perang gerakan/ bergerak menyerang. Dalam istilah lain “war of movement” dan “war of position” adalah terma yang sering digunakan.
(lebih…)

Ideologisasi dan Perubahan Sosial di Indonesia

oleh Azwar Radhif

tulisan azwar

            Lahirnya suatu negara merupakan suatu konsensus atas masyarakatnya dalam menciptakan integritas dan komitmen kebersesamaan, demikian halnya negara kita tercinta ini. Dalam menggagas sistem ketatanegaraan dibutuhkan konsep dasar ketatanegaraan dan sistem pemerintahan guna mengatur masyarakatnya dalam rangka menciptakan equilibrium (keseimbangan), disinilah lahirnya ideologi.

         Demikian halnya kritik Althusser, bahwa bukan hanya ekonomilah yang menunjang suprastruktur, bahwa determinisme ekonomi Marx yang sangat materialis cenderung menafikan hal yang berbau metafisik, termasuk ideologi. Ideologi menjadi alat hegemoni suatu kelas terhadap kelas lainnya, hegemoni kelas tersebut kemudian menciptakan dominasi suatu kelas. Hegemoni ini senantiasa bersifat doktrin guna mengkonstruksi pola fikir dan perilaku kelas tertentu, dalam hal ini kelas penguasa dan masyarakatnya.

Segala regulasi yang dikeluarkan oleh negara yang didasarkan pada ideologi negara tersebut senantiasa bersifat menekan terhadap warganya. Penekanan regulasi ini kemudian memaksa warga negaranya bertindak sesuai dengan regulasi yang dikeluarkan oleh pembuat kebijakan. Fatalnya, segala kebijakan ini cenderung dijadikan alat guna mempertahankan status quo kelas penguasa sehingga terkadang cenderung merugikan masyarakat.

Rentang Historikal: menilik pertarungan ideologi dari era kolonialisme hingga reformasi

Dapat kita lihat bagaimana kondisi masyarakat di era kolonialisme pra kemerdekaan, bagaimana kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda cenderung terkesan sepihak dan hanya menguntungkan golongannya.

(lebih…)

Inilah Rancangan Pedoman Organisasi Kemahasiswaan Unhas

 

 

Download PDF Rancangan Pedoman Organisasi Kemahasiswaan Unhas disini

(lebih…)

“Apa Kabar Gunung Bulu’ Bawakaraeng?”

Gunung Bulu’ Bawakaraeng adalah salah satu gunung yang menjulang di dataran pulau Sulawesi bagian Selatan. Secara administratif, Bulu’ Bawakaraeng termasuk dalam wilayah pemerintah Kabupaten Gowa.  Bulu Bawakaraeng juga menjadi wilayah batasan antar beberapa kabupaten, untuk menyebut beberapa, seperti Kabupaten Gowa, Sinjai, Bantaeng, dsb. Selain menjadi batasan antar kabupaten, Bulu’ Bawakaraeng juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat.

1494311115872[1]

Kegiatan seminar “Apa Kabar Bulu’ Bawakaraeng?” Sumber foto: Media Ekonomi FEB-UH

Bagi para pendaki, puncak Bulu’ Bawakaraeng adalah kedamaian dan tubuhnya adalah suatu keindahan.

Senin, 8 Mei 2017, bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, (FEB-UH) Senat KEMA Fakultas (FEB-UH) dan BEM SYLVA Indonesia Universitas Hasanuddin, menggelar sebuah seminar bertema “Apa Kabar Bulu’ Bawakaraeng?”

Secara umum kegiatan ini membahas bagaimana kondisi terkini Gunung Bulu’ Bawakaraeng. Dalam seminar ini, pelaksana kegiatan menghadirkan tiga pembicara: Dr.Andi Tonggiroh ST.,MT dari Lembaga Penelitian & Pengembangan Masyarakat (LPPM) dan dosen Geologi Unhas, dengan judul materi “Gunung dan Gunung Bulu’ Bawakaraeng”, Prof. Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampesela,M.sc. dengan focus bahasan perihal “Fakta dan Potensi Masyarkat untuk Mitigasi”, Prof. W.I.M. Poli, yang tak bisa hadir, dengan tulisan “Aku dan Gunung Bulu’ Bawakaraeng”. Selain tiga narasumber tersebut, seminar ini menghadirkan pula Nevy Jamest sebagai Keynote Speaker.

Seminar dimulai dengan pemaparan Nevy, kemudian dilanjutkan pemaparan dari Andi Tonggiro perihal bagaimana kondisi gunung dan apa yang menjadi struktur gunung. Selain itu, Adi, demikian ia sering disapa, memaparkan kondisi Bulu’ Bawakaraeng yang menjelaskan bahwa terdapat suatu keunikan di kawasan Bulu’ Bawakaraeng yang mana terdapat beberapa lempeng bertemu, serta Bawakaraeng yang menghidupi kurang lebih 7 kabupaten di Selatan Sulawesi ini dengan memanfaatkan air berhulu dari Bulu’ Bawakaraeng. Setelah pemaparan Andi Tonggiroh, narasumber selanjutnya Prof. Dr. Ir. Dorothea Agnes Rampesela,M.sc  menjelaskan materinya. Prof Agnes, yang telah meneliti Bulu’ Bawakaraeng sejak 2004, dengan sangat lugas memaparkan bagaimana Bencana gunung Bulu’ Bawakaraeng yang terjadi pada 2004. Perempuan yang mendapatkan gelar Profersornya di Jepang ini, menjelaskan faktor-faktor bencana runtuhnya tanah dan bebatuan Bulu’ Bawakaraeng pada tahun 2004, yang mengakibatkan  32 orang meninggal dunia. Menurut Prof Agnes, faktor paling besar adalah proses Geo Kimiawi yang terjadi di dalam sturktur penyusun Gunung Bulu’ Bawakaraeng.

IMG_0469

Penampakan Bulu’ Bawakaraeng. Lokasi Jatuhnya tanah dan bebatuan pada tahun 2004. Sumber foto: LAW Unhas

Seminar selesai kurang lebih pukul 17.30 WITA. Salah satu hal menarik dari seminar ini adalah paparan bagaimana kondisi terkini Gunung Bulu’ Bawakaraeng melalui pemutaran video dokumenter. Dalam video tersebut terlihat bagaimana kondisi di beberapa pos pendakian menuju puncak bawakaraeng yang cukup memperhatinkan. Sampah berserakan dan bertumpuk. Sampah makanan instan di aliran air, kebakaran hutan dan rusaknya struktur ekologis Bulu’ Bawakaraeng yang disebabkan oleh proses pendakian dan cara hidup pendaki yang tidak bertanggung jawab.

(Najib/Agung)

Arsip

Follow us on Twitter

Benang Merah Edisi#3

PUTAW Edisi II

%d blogger menyukai ini: