LINGKAR ADVOKASI MAHASISWA UNHAS

Beranda » Tentang LAW Unhas

Tentang LAW Unhas

Lingkar Advokasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin atau LAW Unhas merupakan organisasi independen yang didirikan dan dikelola oleh mahasiswa Unhas.  Organisasi ini concern pada upaya-upaya advokasi yang meliputi pelatihan, riset, dan pendampingan hukum. Organisasi ini terbuka untuk SEMUA mahasiswa Universitas Hasanuddin.

LAW Unhas memiliki tujuan “terciptanya lingkungan akademis dan masyarakat yang berkeadilan sosial, bermartabat, dan transparan“. Dalam mencapai tujuan tersebut LAW Unhas melakukan usaha-usaha keorganisasian yang meliputi:

  1. Melatih dan mendidik anggota dengan kemampuan keparalegalan
  2. Melakukan usaha-usaha riset dan pengembangan sebagai basis data
  3. Mendampingi mahasiswa dan masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum
  4. Menciptakan dan menumbuhkan suasana yang komunikatif dan harmonis antar sesama anggota.
  5. Menjalin hubungan dan kerjasama dengan organisasi kemahasiswaan dan instansi yang sevisi dan seperjuangan dalam lingkup kampus, lokal, maupun  nasional.

==oo==

Tidak ada tatanan yang tidak dihidupi oleh narasi

Begitulah pesan Joseph Campbell, seorang peneliti mitologi dunia. Bahwa di balik sebuah tatanan peradaban-peradaban besar, tersembunyi sebuah narasi yang menopang berdirinya tatanan. Demikian pun kami mencoba menciptakan sebuah narasi yang sejatinya akan menopang berdirinya tatanan kecil ini.

‘Narasi Besar’ LAW UNHAS

Bayangkan ada sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang kritis, peduli, tapi tidak ‘sok’ dengan kemampuannya. Mereka mewaqafkan sebagian besar waktu, tenaga, fikiran, bahkan harta mereka untuk membela hak-hak yang dirampas oleh sistem ekopolsosbud yang melanggengkan penindasan. Mereka memiliki karakter, ciri khas, dan kemampuan yang sangat beragam. Juga memiliki pemikiran-pemikiran yang sangat variatif, khas anak muda.

Mereka memiliki semangat belajar yang berbeda-beda, juga kesukaan belajar yang berbeda-beda. Itu wajar, sebab mereka dibesarkan oleh kultur keluarga dan lembaga yang berbeda—juga dari disiplin yang saling silang. Mereka menghargainya sebagai sebuah anugrah multikulturalisme yang diciptakan di planet ini. Namun di tengah-tengah perbedaan itu, mereka dipersatukan oleh keinginan besar untuk menyingkirkan segala bentuk kesewenang-wenangan, ketidakadilan, dan ketimpangan-ketimpangan yang terpampang jelas di kehidupan mereka. Mereka begitu benci dengan sistem kapitalisme-liberal berikut seluruh anak cucunya. Mereka juga sering dikecewakan oleh lembaga-lembaga kemahasiswaan yang terjebak pada pergerakan semu dan pola kaderisasi formal yang terjebak pada ekslusifisme, hedonisme lembaga, politisasi lembaga, hingga senioritas akut yang tidak pernah bisa hilang. Advokasi bagi lembaga-lembaga tersebut hanyalah bagian dari kerja organisasi yang tidak mendapat perhatian besar. Seolah hanya untuk menunaikan kewajiban periodik sebagai program kerja tahunan.

Maka di tempat dimana orang-orang itu berkumpul, mereka mendapatkan sebuah organisasi yang menempatkan kerja-kerja advokasi sebagai kerja intinya (core activity). Di tempat itu, semua perangkat, fasilitas, ilmu, dan kegiatan hanya diarahkan pada satu tujuan: advokasi.  Advokasi dalam pengertian yang melampaui pengertian leksikal sebagai ‘usaha untuk merubah kebijakan/policy’. Advokasi bagi mereka adalah sebuah kerja adiluhung yang berusaha untuk membawa perubahan sekecil dan sebesar apapun itu. Di mata mereka, sekedar menempel pamflet diskusi atau mengorganisir massa demonstrasi besar untuk revolusi itu sama-sama memiliki nilai advokasi yang patut diperjuangkan.

Di tempat itu, anak-anak muda itu memiliki kebebasan untuk menjadi ahli dibidangnya masing-masing. Mungkin sesuai dengan disiplin ilmunya, minatnya, bakatnya, atau dengan kebutuhan besar lain di luar dirinya. Mereka mengembangkan ilmu-ilmu yang mereka miliki untuk kemudian diperdalam, dipertajam, dan digunakan sebagai senjata untuk melawan kezhaliman yang sudah mengepung mereka dan masyarakat dari segala penjuru. Di tempat itu, ada jurnalis, ada ahli hukum, ada ahli IT, ada ahli multimedia, ada orator ulung, ada negosiator handal, ada organisatoris yang punya kemampuan menajemen tinggi, ada ahli ekonomi, ada ahli kimia, ahli olah data statistik, ada penulis, dan lain sebagainya. Mereka bekerja sebagai tim, bahu-membahu dalam sebuah koordinasi spyder-advocacy[1] yang apik dan terarah. Selain memiliki kadar intelektualitas yang tinggi, mereka juga bertubuh sehat, dan menjaga spiritualitas akhirah. Tidak terjebak pada kritisme nihilist yang absurb dan over-pesimistik.

Bayangkan tempat itu bisa kalian lihat, rasakan, dan CIPTAKAN di LAW Unhas!


1 Komentar

  1. dewi wulandari berkata:

    Saya pengen masuk dan pengen memperdalam ttng organisasi dan ingin sekali bergabung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: